July 31, 2026

INCABERITA

Jelajahi Kabar Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini.

Gempa Jepang Guncang Kumamoto, Korban Bertambah dan Pencarian Warga Terjebak Terus Dilakukan

Kumamoto Diguncang Dahsyat, Gempa Jepang Sebabkan Korban Jiwa, Bangunan Runtuh, dan Operasi Penyelamatan Besar-Besaran

JAKARTA, incaberita.co.id – Gempa Jepang berkekuatan magnitudo 7,1 mengguncang Prefektur Kumamoto di Pulau Kyushu pada Selasa, 28 Juli 2026. Guncangan yang terjadi sekitar pukul 16.27 waktu setempat itu merusak rumah, pusat perbelanjaan, pabrik, jalan, dan sejumlah fasilitas transportasi.

Japan Meteorological Agency atau JMA mencatat pusat gempa berada di wilayah Kumamoto pada koordinat sekitar 32,6 derajat lintang utara dan 130,7 derajat bujur timur. Kedalamannya diperkirakan 10 kilometer, sedangkan intensitas maksimum mencapai level 7 dalam skala seismik Jepang.

Intensitas tertinggi tercatat di Uki dan Hikawa, sementara sebagian wilayah Kota Kumamoto merasakan guncangan hingga level 6 kuat. Kondisi tersebut menjadikan gempa ini sebagai salah satu bencana seismik paling serius yang melanda kawasan tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Gempa Jepang Berpusat di Daratan Kumamoto

Gempa Jepang Guncang Kumamoto, Korban Bertambah dan Pencarian Warga Terjebak Terus Dilakukan

Sumber gambar : konteks.co.id

Pusat gempa Jepang berada di wilayah daratan Kumamoto dan tergolong dangkal. Gempa dangkal dapat menghasilkan guncangan permukaan yang sangat kuat, terutama ketika pusatnya berdekatan dengan kawasan permukiman dan fasilitas publik.

Data JMA menyebut magnitudonya mencapai 7,1. Sementara itu, United States Geological Survey atau USGS dilaporkan merevisi estimasi awalnya dari magnitudo 7,1 menjadi 6,8. Perbedaan tersebut dapat terjadi karena masing-masing lembaga menggunakan jaringan sensor, metode pengolahan, serta skala pengukuran yang tidak sepenuhnya sama.

Karena JMA sebagai lembaga resmi Jepang masih mencatat angka M7,1, penyebutan tersebut tetap relevan dalam laporan mengenai bencana ini. Namun, pembaca perlu memahami bahwa data magnitudo dapat diperbarui setelah analisis lanjutan dilakukan.

Guncangan Maksimum Mencapai Shindo 7

Skala intensitas Jepang atau shindo berbeda dengan magnitudo. Magnitudo mengukur energi yang dilepaskan gempa, sedangkan shindo menunjukkan seberapa kuat guncangan dirasakan pada lokasi tertentu.

Pemerintah Jepang menyatakan level tertinggi 7 terpantau di Hikawa dan Uki. Getaran kuat juga dirasakan di berbagai wilayah Kyushu sehingga pemerintah langsung mengaktifkan mekanisme tanggap darurat.

Pada level tersebut, masyarakat dapat kesulitan mempertahankan posisi tubuh. Perabot berat berpotensi bergeser atau terbalik, sedangkan bangunan yang memiliki ketahanan struktur rendah menghadapi risiko kerusakan berat hingga runtuh.

JMA juga mencatat gerakan tanah berperiode panjang mencapai kelas 4 di wilayah Kumamoto. Jenis guncangan tersebut dapat memengaruhi gedung bertingkat dan struktur besar dalam durasi yang lebih lama.

Korban Jiwa dan Luka Masih Diverifikasi

Laporan mengenai jumlah korban terus berubah seiring berlangsungnya evakuasi. Sejumlah publikasi pada 29 Juli menyebut sedikitnya 13 orang meninggal, sedangkan laporan Associated Press yang diperbarui kemudian menyebut jumlah korban mencapai sedikitnya 18 orang dengan 62 korban luka.

Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa pendataan masih berkembang. Jumlah korban dapat berubah setelah petugas menyelesaikan pencarian di pusat perbelanjaan, pabrik, rumah, dan bangunan lain yang mengalami kerusakan berat.

Karena itu, angka korban dalam artikel ini perlu dipahami sebagai informasi sementara berdasarkan laporan yang tersedia saat pemeriksaan dilakukan. Data final sebaiknya menunggu pembaruan terpusat dari pemerintah Jepang.

Pusat Perbelanjaan dan Pabrik Rusak

Kerusakan serius dilaporkan terjadi di sebuah pusat perbelanjaan Aeon di Kashima. Sebagian lantai bangunan runtuh setelah gempa dan disusul laporan ledakan yang diduga berkaitan dengan kebocoran gas.

Petugas darurat mencari korban yang kemungkinan masih terjebak di bawah reruntuhan. Kompleksitas struktur bangunan, risiko keruntuhan lanjutan, dan gempa susulan membuat proses pencarian harus dilakukan secara hati-hati.

Kerusakan berat juga terjadi di fasilitas Nippon Paper Industries di Yatsushiro. Cerobong pabrik dilaporkan roboh dan menimpa area tempat sejumlah pekerja berada. Korban meninggal dan pekerja yang masih dicari dilaporkan berasal dari lokasi tersebut.

Selain bangunan komersial dan industri, sejumlah rumah, jembatan, jalan, serta bagian dari Kastel Kumamoto turut mengalami kerusakan.

Peringatan Tsunami Sempat Dikeluarkan

Tak lama setelah gempa Jepang terjadi, otoritas menerbitkan peringatan atau imbauan tsunami untuk wilayah Laut Ariake dan Laut Yatsushiro. Gelombang diperkirakan dapat mencapai sekitar satu meter sehingga masyarakat diminta menjauhi pantai dan muara sungai.

Imbauan tersebut kemudian dicabut setelah hasil pemantauan menunjukkan ancaman tsunami besar tidak berlanjut. Meski demikian, pencabutan imbauan tidak berarti seluruh bahaya langsung berakhir karena gempa susulan dan kerusakan bangunan masih menjadi ancaman.

Warga tetap diminta mengikuti arahan pemerintah daerah dan tidak kembali ke kawasan berbahaya sebelum ada kepastian mengenai kondisi lingkungan.

Transportasi dan Layanan Publik Terganggu

Guncangan kuat memengaruhi berbagai sarana transportasi di Kyushu. Layanan kereta cepat sempat dihentikan untuk pemeriksaan, penerbangan mengalami gangguan, dan operasional Bandara Aso Kumamoto terdampak.

Sebuah kereta juga dilaporkan keluar dari jalurnya di kawasan Yatsushiro. Pemeriksaan dilakukan terhadap rel, jembatan, terowongan, dan fasilitas stasiun sebelum layanan dapat kembali berjalan normal.

Data awal Pemerintah Kota Kumamoto mencatat puluhan ribu rumah di tingkat prefektur kehilangan pasokan listrik. Gangguan gas juga terdeteksi di sejumlah kawasan, sementara petugas menerima lebih dari seratus permintaan bantuan darurat dalam waktu singkat.

Seluruh tempat pengungsian di Kota Kumamoto diperintahkan untuk dibuka secara bertahap sebagai lokasi perlindungan warga yang rumahnya rusak atau dianggap tidak aman.

Gempa Susulan Menjadi Ancaman Baru

Setelah gempa utama, berbagai gempa susulan mengguncang kawasan Kumamoto. Catatan JMA menunjukkan sejumlah guncangan bermagnitudo 3 hingga 4 lebih terjadi dalam beberapa jam setelah kejadian utama.

Salah satu gempa susulan pada pukul 19.03 waktu setempat diperkirakan bermagnitudo 4,2 dengan intensitas maksimum 5 lemah. Beberapa guncangan lain mencapai intensitas 4 sehingga cukup kuat dirasakan masyarakat.

Gempa susulan menjadi perhatian karena bangunan yang sudah retak dapat kehilangan kestabilan. Longsor juga dapat terjadi di lereng yang tanahnya melemah akibat guncangan.

Masyarakat disarankan tidak memasuki rumah atau bangunan yang terlihat miring, memiliki retakan besar, atau mengeluarkan suara struktur yang tidak biasa.

Pemerintah Jepang Kerahkan Tim Darurat

Perdana Menteri Jepang memerintahkan kementerian dan lembaga terkait segera menilai kerusakan, bekerja sama dengan pemerintah lokal, serta memprioritaskan penyelamatan jiwa.

Instruksi pemerintah meliputi:

  • Mempercepat pencarian dan penyelamatan korban.
  • Menyampaikan informasi evakuasi secara akurat.
  • Menyalurkan makanan, air, obat, dan kebutuhan darurat.
  • Memeriksa fasilitas transportasi serta jaringan energi.
  • Mengamankan masyarakat dari tsunami dan gempa susulan.

Pasukan Bela Diri Jepang bergabung dengan polisi, pemadam kebakaran, tenaga medis, dan petugas pemerintah daerah dalam operasi tanggap darurat.

Pemerintah Prefektur Kumamoto juga membentuk pusat penanggulangan bencana segera setelah gempa terjadi. Prioritas awalnya adalah memastikan keselamatan penduduk dan mendapatkan gambaran kerusakan dari seluruh wilayah terdampak.

Panas Ekstrem Menambah Risiko Pengungsian

Operasi penyelamatan tidak hanya menghadapi reruntuhan dan gempa susulan. Suhu tinggi di kawasan terdampak meningkatkan risiko dehidrasi dan serangan panas bagi korban, petugas, serta warga di tempat pengungsian.

Ribuan orang dilaporkan berada di pusat evakuasi. Gangguan listrik dan air membuat kebutuhan kipas, pendingin ruangan, air minum, serta layanan kesehatan menjadi semakin mendesak.

Kelompok lanjut usia, anak-anak, ibu hamil, dan warga yang memiliki penyakit kronis membutuhkan perhatian khusus selama situasi darurat berlangsung.

Apakah Gempa Jepang Berdampak ke Indonesia?

Pusat gempa berada di wilayah Kumamoto, Jepang barat daya. Imbauan tsunami yang diterbitkan otoritas Jepang terbatas pada Laut Ariake dan Laut Yatsushiro, bukan kawasan Samudra Pasifik yang menghadap langsung ke Indonesia.

Berdasarkan lokasi dan cakupan peringatan tersebut, tidak ada indikasi dalam sumber resmi yang diperiksa bahwa gempa ini menimbulkan ancaman tsunami bagi wilayah Indonesia.

Masyarakat Indonesia tetap perlu mengandalkan pengumuman BMKG apabila muncul perkembangan baru. Informasi dari media sosial yang tidak mencantumkan sumber resmi sebaiknya tidak langsung dipercaya atau disebarkan.

Kumamoto Pernah Menghadapi Gempa Besar

Kumamoto sebelumnya dilanda rangkaian gempa merusak pada April 2016. Bencana tersebut menyebabkan puluhan korban meninggal secara langsung, ribuan orang terluka, dan kerusakan terhadap puluhan ribu bangunan.

Data Badan Penanggulangan Kebakaran dan Bencana Jepang mencatat gempa 2016 menyebabkan 8.298 rumah hancur total, lebih dari 31.000 rumah rusak setengah, serta lebih dari 141.000 bangunan mengalami kerusakan sebagian.

Pengalaman itu membuat Kumamoto memiliki sistem tanggap bencana yang lebih matang. Namun, gempa terbaru memperlihatkan bahwa guncangan intensitas sangat tinggi tetap dapat menimbulkan kerusakan besar, terutama ketika pusatnya dangkal dan dekat dengan kawasan padat.

Kesimpulan

Gempa Jepang yang mengguncang Kumamoto pada 28 Juli 2026 tercatat bermagnitudo 7,1 menurut JMA, berkedalaman sekitar 10 kilometer, dan menghasilkan intensitas maksimum shindo 7. Gempa tersebut memicu imbauan tsunami, merusak fasilitas umum, mengganggu transportasi, serta menyebabkan korban jiwa dan luka.

Operasi pencarian masih menjadi perhatian utama karena sejumlah lokasi mengalami keruntuhan serius. Laporan jumlah korban juga belum sepenuhnya seragam, dengan angka sedikitnya 13 hingga 18 korban meninggal muncul dalam pembaruan media pada waktu berbeda.

Masyarakat di wilayah terdampak diminta tetap mewaspadai gempa susulan, menjauhi bangunan rusak, dan mengikuti informasi JMA serta pemerintah Jepang. Perkembangan mengenai korban, kerusakan, dan pemulihan infrastruktur masih dapat berubah seiring proses verifikasi di lapangan.

Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Global

Author

Copyright @ 2026 Incaberita. All right reserved