Gempa Bumi M7.1 di Jepang Guncang Kumamoto, Korban Tewas Bertambah dan Pencarian Terus Dilakukan
JAKARTA, incaberita.co.id – Gempa Bumi M7.1 di Jepang mengguncang wilayah Kumamoto di Pulau Kyushu pada Selasa, 28 Juli 2026. Guncangan kuat menyebabkan bangunan runtuh, kerusakan fasilitas umum, gangguan transportasi, serta memicu peringatan tsunami di kawasan pesisir barat daya Jepang.
Gempa terjadi sekitar pukul 16.27 waktu setempat dengan pusat gempa berada di wilayah Kumamoto. Pemerintah Jepang menyatakan intensitas guncangan maksimum mencapai level 7 dalam skala intensitas seismik Jepang di Hikawa dan Uki, Kumamoto. Guncangan kuat juga dirasakan di sejumlah wilayah lain di Kyushu.
Hingga Rabu pagi, sedikitnya 13 orang dilaporkan meninggal dunia. Tim penyelamat masih melakukan pencarian terhadap warga yang belum ditemukan di sejumlah lokasi terdampak. Jumlah korban berpotensi berubah karena proses evakuasi masih berlangsung.

Sumber gambar : pranala.co.id
Penyebutan Gempa Bumi M7.1 di Jepang berasal dari estimasi awal yang digunakan otoritas Jepang dan sejumlah laporan media. Namun, United States Geological Survey atau USGS kemudian merevisi kekuatan gempa dari magnitudo 7,1 menjadi magnitudo 6,8.
Berdasarkan data USGS yang dikutip dalam laporan perkembangan bencana, gempa berada pada kedalaman sekitar 10 kilometer dan berpusat sekitar lima kilometer di sebelah timur Uto, Kumamoto.
Perbedaan angka tersebut tidak berarti salah satu laporan otomatis keliru. Nilai magnitudo awal sering diperbarui setelah lembaga seismologi menerima lebih banyak data dari berbagai stasiun pemantauan.
Karena keyword utama artikel ini adalah Gempa Bumi M7.1 di Jepang, istilah tersebut tetap digunakan untuk kebutuhan pencarian. Namun, angka 7,1 perlu dipahami sebagai estimasi awal, sedangkan USGS telah memperbaruinya menjadi 6,8.
Pemerintah Jepang menyebut guncangan maksimum tercatat pada level 7 dalam skala intensitas seismik Jepang. Intensitas ini berbeda dengan magnitudo karena mengukur kekuatan guncangan yang benar-benar dirasakan dan dampaknya di permukaan pada suatu lokasi.
Guncangan maksimum tersebut tercatat di kawasan Hikawa, Uki, Prefektur Kumamoto. Getaran kuat juga dirasakan di wilayah yang lebih luas di Pulau Kyushu.
Pada intensitas setinggi itu, masyarakat dapat kesulitan berdiri, perabot berat dapat bergeser atau terbalik, dan bangunan yang tidak memiliki ketahanan gempa memadai berisiko mengalami kerusakan berat.
Laporan terbaru menyebut sedikitnya 13 orang meninggal akibat Gempa Bumi M7.1 di Jepang. Sejumlah warga lainnya masih belum ditemukan, sementara puluhan orang dilaporkan mengalami luka-luka dan mendapatkan perawatan medis.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan operasi pencarian dan penyelamatan menjadi perlombaan melawan waktu. Pemerintah mengerahkan aparat penyelamat dan Pasukan Bela Diri Jepang untuk membantu evakuasi, mendistribusikan air, serta memindahkan pasien dari kawasan terdampak.
Data korban masih bersifat sementara. Angka resmi dapat bertambah atau berubah setelah petugas menyelesaikan pemeriksaan di bangunan-bangunan yang runtuh.
Salah satu lokasi yang mengalami kerusakan serius adalah pusat perbelanjaan Aeon Mall di Kashima. Bagian lantai dua bangunan tersebut dilaporkan runtuh dan menyebabkan sejumlah orang terjebak di bawah puing-puing.
Petugas pemadam kebakaran juga menyelidiki laporan ledakan yang diduga berkaitan dengan kebocoran gas di sekitar pusat perbelanjaan tersebut.
Kerusakan berat turut terjadi di pabrik Nippon Paper Industries di Yatsushiro. Cerobong pabrik dilaporkan roboh dan menimpa sejumlah orang. Tim penyelamat masih mencari pekerja yang diduga terjebak di lokasi tersebut.
Rekaman udara yang dirilis Kementerian Pertahanan Jepang memperlihatkan retakan tanah, bangunan runtuh, dan kerusakan struktural di sejumlah kawasan Kumamoto.
Setelah gempa terjadi, Badan Meteorologi Jepang mengeluarkan peringatan atau imbauan tsunami untuk kawasan Laut Ariake dan Laut Yatsushiro. Pemerintah memperkirakan gelombang dapat mencapai sekitar satu meter dan meminta warga menjauhi wilayah pesisir.
Imbauan tsunami tersebut kemudian dicabut setelah otoritas melakukan pemantauan lebih lanjut. Meski demikian, warga tetap diminta berhati-hati dan mengikuti informasi resmi karena gempa susulan masih mungkin terjadi.
Masyarakat di kawasan pesisir juga disarankan tidak kembali ke pantai sebelum otoritas menyatakan situasi benar-benar aman.
Gempa menyebabkan gangguan pada sejumlah fasilitas transportasi. Sebuah kereta dilaporkan keluar dari jalur dan terguling di Stasiun Yatsushiro. Bandara Aso Kumamoto juga sempat menutup landasan pacu sambil menunggu pemeriksaan keselamatan.
Kerusakan turut dilaporkan terjadi pada jalan, jembatan, rumah, dan fasilitas umum. Sejumlah perusahaan manufaktur di Kyushu menghentikan operasional untuk memeriksa keamanan bangunan dan peralatan produksi.
Kastel Kumamoto, salah satu bangunan bersejarah utama di wilayah tersebut, kembali mengalami kerusakan pada bagian dinding batu. Kastel itu sebelumnya juga rusak parah akibat rangkaian Gempa Kumamoto 2016 dan masih menjalani proses pemulihan.
Otoritas Regulasi Nuklir Jepang menyatakan tidak ditemukan kondisi abnormal di tiga pembangkit listrik tenaga nuklir yang berada di sekitar kawasan terdampak.
Informasi tersebut penting karena gempa kuat di Jepang kerap memunculkan kekhawatiran mengenai keamanan fasilitas nuklir. Pemantauan terhadap pembangkit dan jaringan energi tetap dilakukan untuk mengantisipasi kerusakan lanjutan akibat gempa susulan.
Setelah gempa utama, Badan Meteorologi Jepang mencatat sejumlah gempa susulan di wilayah Kumamoto dan Amakusa-Ashikita. Salah satu guncangan susulan tercatat bermagnitudo 6,1 pada pukul 17.08 waktu setempat dengan kedalaman sekitar 10 kilometer.
Gempa susulan lain juga tercatat dengan magnitudo sekitar 5,0, serta beberapa guncangan bermagnitudo 4.1 hingga 4.4.
Warga diminta mewaspadai kemungkinan terjadinya gempa dengan guncangan kuat dalam beberapa hari setelah gempa utama. Bangunan yang sudah rusak dapat menjadi semakin tidak stabil jika kembali diguncang.
Perdana Menteri Sanae Takaichi memerintahkan kementerian dan lembaga terkait untuk segera mengumpulkan informasi mengenai kerusakan, bekerja sama dengan pemerintah daerah, serta memprioritaskan penyelamatan nyawa.
Instruksi pemerintah meliputi:
Pemerintah Jepang menegaskan seluruh lembaga harus bekerja secara terpadu dalam menangani dampak bencana.
Kumamoto pernah mengalami rangkaian gempa besar pada April 2016. Pada saat itu, dua gempa kuat menghasilkan intensitas maksimum 7 dan menimbulkan kerusakan luas di wilayah Kumamoto serta daerah sekitarnya.
Rangkaian Gempa Kumamoto 2016 menyebabkan ratusan korban meninggal, ribuan orang terluka, dan kerusakan pada hampir 200.000 bangunan jika menghitung rumah yang hancur, rusak berat, maupun rusak sebagian.
Pengalaman tersebut membuat masyarakat Kumamoto memiliki kesadaran tinggi terhadap risiko gempa. Namun, gempa terbaru kembali memperlihatkan bahwa kerusakan berat tetap dapat terjadi ketika guncangan sangat kuat dan pusat gempa berada pada kedalaman dangkal.
Pusat Gempa Bumi M7.1 di Jepang berada di wilayah Kumamoto, Kyushu, dan tidak berada di dekat wilayah Indonesia. Peringatan tsunami yang diterbitkan otoritas Jepang juga ditujukan untuk kawasan pesisir lokal, terutama Laut Ariake dan Laut Yatsushiro.
Berdasarkan lokasi gempa dan cakupan peringatan yang diumumkan, tidak ada indikasi dalam sumber resmi yang diperiksa bahwa gempa tersebut menimbulkan ancaman tsunami terhadap Indonesia.
Masyarakat Indonesia tetap disarankan mengikuti informasi dari BMKG apabila terdapat perkembangan baru atau perubahan hasil analisis.
Otoritas Jepang meminta warga tidak memasuki bangunan yang retak atau mengalami kerusakan struktural. Ancaman bukan hanya berasal dari gempa susulan, tetapi juga dari longsoran, runtuhan dinding, kebocoran gas, kabel listrik putus, dan cuaca panas.
Langkah keselamatan yang disarankan meliputi:
Warga juga harus mewaspadai informasi palsu yang beredar di media sosial dan hanya mengikuti pengumuman dari lembaga resmi.
Gempa Bumi M7.1 di Jepang mengguncang Kumamoto pada 28 Juli 2026 dan menghasilkan guncangan maksimum level 7 dalam skala intensitas Jepang. Gempa tersebut memicu peringatan tsunami, merusak pusat perbelanjaan, pabrik, rumah, fasilitas transportasi, serta sejumlah bangunan bersejarah.
Sedikitnya 13 orang dilaporkan meninggal dan proses pencarian terhadap korban yang belum ditemukan masih berlangsung.
Meski banyak laporan menggunakan angka magnitudo 7,1, USGS telah merevisi hasil pengukurannya menjadi magnitudo 6,8. Karena itu, penyebutan M7.1 sebaiknya dijelaskan sebagai data awal, bukan hasil pengukuran akhir USGS.
Informasi mengenai korban, kerusakan, dan operasi penyelamatan masih dapat berubah seiring pembaruan dari pemerintah Jepang dan lembaga penanggulangan bencana.
Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Global
Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: Gubernur Bank Indonesia Mundur: Perry Warjiyo Tinggalkan Jabatan sebelum Masa Tugas Berakhir