April 17, 2026

INCABERITA

Jelajahi Kabar Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini.

Perundingan 21 Jam di Islamabad Gagal, tapi Dialog AS-Iran Masih Berjalan dan Babak Paling Berbahaya Baru Saja Dimulai

Trump Perintahkan AL AS Blokade Selat Hormuz Setelah Negosiasi Damai di Pakistan Gagal Total, Dunia Langsung Guncang

JAKARTA, incaberita.co.id – Perundingan 21 Jam di Islamabad gagal membawa hasil yang diharapkan dunia. Selama hampir sehari penuh, delegasi Amerika Serikat yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance dan delegasi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf duduk berhadapan di Hotel Serena, Pakistan. Mereka membahas puluhan poin, hampir menyentuh kata sepakat di beberapa agenda, tapi pada akhirnya keduanya pulang ke negara masing-masing dengan tangan kosong.

Namun Perundingan 21 Jam di Islamabad ini bukan akhir dari segalanya. Justru sebaliknya. Apa yang terjadi pada 11-12 April 2026 membuka babak baru dalam konflik AS-Iran yang jauh lebih kompleks dan berbahaya dari sebelumnya. Dialog masih berjalan, tapi tekanan di lapangan makin intens. Dan dunia harus bersiap menghadapi kemungkinan bahwa jalan menuju damai masih sangat panjang.

Perundingan 21 Jam di Islamabad, Kontak Langsung Pertama AS-Iran dalam Satu Dekade

Perundingan 21 Jam di Islamabad Gagal, tapi Dialog AS-Iran Masih Berjalan dan Babak Paling Berbahaya Baru Saja Dimulai

Sumber gambar : detik.com

Untuk memahami mengapa kegagalan ini begitu berat, perlu disadari dulu betapa langkanya pertemuan seperti ini dalam sejarah. Dua negara yang sudah saling tidak berbicara langsung selama lebih dari satu dekade akhirnya duduk berhadapan di satu meja. Bukan hanya itu, forum ini juga menjadi dialog tingkat tinggi paling substansial yang pernah terjadi sejak Iran bergolak pada akhir 1970-an.

Pakistan tampil sebagai tuan rumah yang total. Dua hari sebelum delegasi tiba, seluruh aktivitas pemerintahan libur. Hotel Serena di kawasan aman ibu kota dikosongkan dari tamu biasa dan dijadikan benteng diplomatik. Protokol keamanan ketat diberlakukan dari bandara hingga ke setiap sudut kawasan pertemuan.

Sabtu 11 April 2026, pesawat membawa rombongan JD Vance mendarat di Islamabad. Tiga pejabat senior Pakistan sudah berdiri di landasan untuk menyambut: kepala diplomasi, panglima angkatan darat, dan menteri keamanan dalam negeri. Gambaran yang jarang terlihat dalam kunjungan diplomatik biasa. Setelah singgah sejenak, Vance melanjutkan perjalanan menuju Hotel Serena untuk memulai sesi yang akan berlangsung jauh melampaui perkiraan semua pihak.

Dua Puluh Satu Jam di Islamabad yang Hampir Mengubah Segalanya

Jarum jam berputar sejak Sabtu siang. Kedua delegasi masuk ruangan dan tidak keluar dalam waktu lama. Puluhan poin dibahas satu per satu. Para ahli teknis dari masing-masing pihak dipanggil masuk untuk membantu merinci detail yang lebih spesifik. Suasana sempat menunjukkan tanda-tanda kemajuan yang nyata.

Ketika matahari terbenam dan malam berganti, perundingan belum selesai. Bahkan keputusan memperpanjang sesi satu hari lagi sempat diambil, sebuah tanda bahwa kedua pihak masih percaya ada ruang yang bisa dijembatani. Pemerintah Iran sempat mengirim sinyal positif melalui kanal komunikasi resminya bahwa proses masih berjalan meski ada perbedaan.

Tapi di balik semua sinyal itu, ada satu isu yang tidak pernah bisa diselesaikan. Bagai batu karang di tengah aliran, ia menghalangi semua kemajuan yang coba dibangun kedua pihak: program nuklir Iran.

Nuklir Iran, Ganjalan yang Tidak Bisa Dinegosiasikan

AS datang ke Islamabad dengan satu tuntutan yang disebut Vance sebagai garis merah. Washington menuntut komitmen tegas dari Teheran bahwa Iran tidak akan mengembangkan senjata nuklir dan tidak akan membangun kemampuan yang memungkinkan mereka membuat senjata tersebut dalam waktu singkat.

Bagi Iran, tuntutan itu bukan sekadar soal senjata. Ini adalah pertanyaan tentang siapa yang berhak menentukan arah teknologi sebuah bangsa. Teheran bersikeras bahwa program nuklirnya dirancang untuk kebutuhan sipil dan energi, bukan untuk mengancam siapapun. Menyerahkan hak itu berarti menyerahkan sebagian kedaulatan yang tidak bisa dinegosiasikan.

Selain nuklir, delegasi Iran membawa serangkaian tuntutan lain yang mencerminkan betapa dalamnya ketidakpercayaan mereka terhadap Washington. Berikut poin-poin yang diperjuangkan Teheran di meja perundingan Islamabad:

  • Jaminan hukum atas kelanjutan program pengayaan atom untuk keperluan damai tanpa intervensi asing
  • Pencabutan seluruh sanksi ekonomi yang selama ini melumpuhkan perekonomian Iran
  • Pengurangan nyata kehadiran pasukan AS di berbagai titik di Timur Tengah
  • Penghentian operasi militer Israel di Lebanon sebelum dialog bisa dilanjutkan
  • Pengakuan posisi Iran sebagai pihak yang berwenang atas tata kelola Selat Hormuz

Washington tidak bisa menerima hampir semua poin itu. Terutama dua yang terakhir. Negosiasi pun mandek di titik yang sama berulang kali hingga waktu akhirnya habis.

Dua Versi dari Perundingan 21 Jam di Islamabad yang Saling Bertentangan

Begitu perundingan dinyatakan gagal, kedua pihak langsung mengeluarkan narasi masing-masing yang saling bertolak belakang.

Dari sisi AS, Vance berbicara tegas di hadapan wartawan sebelum meninggalkan Islamabad. Ia menyatakan delegasinya sudah menjelaskan dengan sangat jelas apa saja batasannya. Iran memilih untuk tidak menerima syarat yang diajukan Washington. Ia bahkan menyebut kegagalan ini lebih merugikan Iran daripada AS. Menurutnya, AS sudah menyampaikan tawaran terakhir dan terbaik yang bisa mereka berikan.

Dari sisi Iran, narasinya berbeda secara fundamental. Qalibaf menyatakan melalui unggahan di X bahwa Iran datang dengan itikad baik dan mengajukan berbagai inisiatif progresif. Masalahnya, AS justru gagal mendapatkan kepercayaan dari delegasi Iran. Bukan karena Iran tidak mau berkompromi, tapi karena Washington dinilai mengubah posisi di menit-menit terakhir.

Kantor berita IRIB milik pemerintah Iran menyebut tuntutan AS tidak masuk akal dan tidak mencerminkan semangat negosiasi yang setara. Iran menegaskan merekalah yang sudah bergerak maju, sementara AS yang diam di tempat dengan tuntutan yang sama berulang kali.

Selat Hormuz Tetap Jadi Kartu Iran

Di luar nuklir, Selat Hormuz menjadi isu panas lainnya yang memperumit negosiasi. Iran menegaskan tidak terburu-buru. Selama AS belum menyetujui kesepakatan yang mereka anggap wajar, tidak akan ada perubahan dalam situasi di Selat Hormuz.

Selat yang selama ini dikontrol Iran sejak perang pecah pada 28 Februari 2026 ini menjadi instrumen tekanan yang sangat efektif. Iran membatasinya hanya untuk 12 kapal per hari. Setiap kapal wajib bernegosiasi langsung dengan IRGC. Tarif yang dikenakan mencapai Rp34 miliar per tanker. Iran bahkan meminta pembayaran dalam kripto atau yuan China.

Bagi AS, membiarkan Iran terus mengontrol Selat Hormuz dengan cara ini adalah sesuatu yang tidak bisa diterima. Ini juga menjadi salah satu alasan Trump langsung mengumumkan blokade Selat Hormuz beberapa jam setelah perundingan dinyatakan gagal.

Perundingan 21 Jam di Islamabad Gagal, tapi Dialog AS-Iran Tetap Berjalan

Meski gagal mencapai kesepakatan, ada satu fakta penting yang kerap terlewatkan di tengah kabar buruk ini. Dialog antara AS dan Iran tidak sepenuhnya mati.

Seorang jurnalis televisi pemerintah Iran menyampaikan bahwa pembicaraan antar kedua negara masih akan dilanjutkan. Sumber diplomatik yang dikutip Reuters juga mengkonfirmasi bahwa proses komunikasi tetap berjalan meski tidak ada pengumuman resmi soal jadwal pertemuan berikutnya.

Presiden Iran sendiri dalam beberapa pernyataan sebelum Islamabad menyebut perundingan bisa berlangsung hingga 15 hari. Ini menunjukkan bahwa Teheran belum benar-benar menutup pintu. Mereka hanya belum menemukan harga yang tepat untuk sebuah kesepakatan.

Babak Paling Berbahaya Baru Saja Dimulai

Itulah yang membuat situasi pasca-Islamabad jauh lebih kompleks dari sekadar kegagalan diplomatik biasa. Ini bukan akhir dari konflik. Ini adalah awal dari fase baru yang lebih berbahaya, di mana kedua pihak akan saling tekan dengan instrumen yang lebih keras sambil tetap menjaga pintu dialog tetap terbuka.

Di satu sisi, Trump sudah memerintahkan blokade Selat Hormuz, sebuah langkah yang menaikkan taruhan secara dramatis. IRGC membalas dengan menyiapkan apa yang mereka sebut sebagai pusaran mematikan di selat tersebut. Tekanan militer meningkat dari dua arah.

Di sisi lain, saluran diplomatik belum ditutup. Pakistan masih ada sebagai mediator. Rusia melalui Putin juga menawarkan diri untuk membantu menjembatani kedua pihak. Sinyal-sinyal kecil dari Tehran dan Washington menunjukkan bahwa keduanya masih menghitung untung rugi dari sebuah kesepakatan.

Yang pasti, dunia tidak bisa lagi hanya menonton dengan tenang. Setiap langkah berikutnya dari Washington dan Teheran akan menentukan apakah 21 jam yang terbuang di Islamabad itu hanya jeda sebelum perdamaian, atau pembuka dari konflik yang jauh lebih besar.

Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Global

Author

Copyright @ 2026 Incaberita. All right reserved