Dana Rp1.300 Triliun Sudah Dikucurkan tapi Yen Masih Melemah, Jepang Keluarkan Peluru Terbesar dan Hasilnya Belum Memuaskan
JAKARTA, incaberita.co.id – Dana Rp1.300 triliun dikucurkan Jepang untuk menyelamatkan yen yang terus melemah. Kementerian Keuangan Jepang pada Jumat 29 Mei 2026 resmi mengkonfirmasi total intervensi pasar sebesar 11,73 triliun yen atau setara USD 73,6 miliar selama periode 28 April hingga 27 Mei 2026. Ini adalah intervensi terbesar yang dilakukan Jepang sejak Juli 2024. Namun hasilnya belum memuaskan. Yen yang sempat menguat kini sudah kembali melemah dan mendekati zona bahaya 160 per dolar AS.
Selain itu, dana Rp1.300 triliun dikucurkan di tengah dua tekanan besar yang berada di luar kendali Tokyo: kenaikan harga minyak akibat perang di Timur Tengah dan selisih suku bunga yang sangat lebar antara AS dan Jepang. Oleh karena itu, meski triliunan rupiah sudah dibakar di pasar valuta asing, tekanan terhadap yen belum benar-benar mereda.
Yen Tembus 160, Jepang Langsung Turun Tangan

Sumber gambar : brookings.edu
Krisis yen bermula dari satu angka yang sangat ditakuti Tokyo: 160 yen per dolar AS. Level itu dianggap sebagai garis merah yang tidak boleh dilewati karena berpotensi memicu dampak besar terhadap ekonomi domestik. Yen yang lemah membuat harga barang impor melonjak, terutama energi dan kebutuhan pokok, sehingga langsung membebani rumah tangga dan pelaku usaha kecil di seluruh Jepang.
Pada 30 April 2026, yen menyentuh level 160,72 per dolar AS, terendah dalam hampir dua tahun. Pemerintah Jepang tidak bisa lagi menunggu. Berdasarkan instruksi langsung dari Kementerian Keuangan, Bank Sentral Jepang atau BOJ langsung masuk ke pasar dan membeli yen dalam jumlah masif.
Hasilnya langsung terasa. Dolar AS anjlok hingga 3 persen terhadap yen ke level 155,5. Indeks Dolar AS atau DXY juga merosot ke level 98,06 akibat tekanan dari intervensi mendadak Tokyo. Pasar global langsung berguncang dalam hitungan jam. Ini adalah dampak instan paling tajam yang pernah tercipta dari intervensi Jepang dalam beberapa tahun terakhir.
Dana Rp1.300 Triliun Dikucurkan dalam 30 Hari, Ini Rinciannya
Besarnya skala intervensi yang baru dikonfirmasi Jumat ini membuat banyak pihak terkejut. Selama 30 hari antara 28 April hingga 27 Mei 2026, Jepang menghabiskan 11,73 triliun yen atau setara USD 73,6 miliar untuk menopang mata uangnya. Dalam kurs rupiah, angka itu mencapai sekitar Rp1.300 triliun — dana yang luar biasa besar untuk sebuah operasi pasar valuta asing.
Sebagai perbandingan, intervensi terakhir Jepang pada Juli 2024 menghabiskan sekitar 5,5 triliun yen atau sekitar Rp615 triliun. Artinya, intervensi kali ini lebih dari dua kali lipat skala operasi sebelumnya. Ini menggambarkan betapa seriusnya ancaman yang dirasakan Tokyo terhadap stabilitas nilai tukar mata uang mereka.
Selain itu, media Jepang melaporkan pada 8 Mei bahwa pada tahap pertama intervensi saja, bank sentral sudah menghabiskan 10 triliun yen. Kemudian operasi lanjutan terus dilakukan hingga akhir Mei untuk mempertahankan posisi yen yang sudah susah payah dikuatkan.
Dana Rp1.300 Triliun Dikucurkan, Yen Menguat Sesaat Lalu Kembali Melemah
Masalah terbesarnya adalah efektivitas yang terbatas. Intervensi Rp1.300 triliun itu memang berhasil mendorong yen menguat. Setelah menyentuh 160,72 pada akhir April, yen berhasil menguat ke level 155 pada 6 Mei 2026. Penguatan sekitar 5 persen dalam waktu singkat itu memicu spekulasi bahwa pemerintah akan terus mengambil langkah lebih jauh.
Namun demikian, euforia itu tidak bertahan lama. Nilai tukar yen kembali tertekan dalam beberapa pekan berikutnya. Pada Jumat 29 Mei 2026, yen sudah kembali bergerak di kisaran 159,2 per dolar. Hanya selisih 0,8 poin dari level 160 yang dianggap sebagai zona bahaya. Artinya, hampir seluruh penguatan yang dicapai dengan dana Rp1.300 triliun itu sudah menghilang.
Kondisi ini memicu kekhawatiran luas di kalangan pelaku pasar bahwa upaya intervensi pemerintah belum cukup kuat untuk membalikkan tren depresiasi yen secara permanen. Intervensi membeli waktu, tapi tidak menyelesaikan akar masalahnya.
Mengapa Dana Rp1.300 Triliun Dikucurkan Belum Cukup, Ini Dua Pemicu Utamanya
Untuk memahami mengapa intervensi besar-besaran ini belum cukup, perlu dilihat dua faktor utama yang menjadi akar pelemahan yen. Keduanya adalah masalah eksternal yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan membeli yen di pasar valuta asing.
Pertama adalah perang di Timur Tengah. Konflik antara AS-Israel dan Iran yang memanas sejak awal 2026 memicu lonjakan harga minyak global. Jepang adalah negara pengimpor minyak terbesar di dunia. Ketika harga minyak naik, Jepang harus membeli lebih banyak dolar untuk membayar impor energi tersebut. Akibatnya, permintaan dolar meningkat dan yen terus tertekan.
Kedua adalah selisih suku bunga yang sangat lebar antara AS dan Jepang. Bank Sentral AS atau The Fed mempertahankan suku bunga tinggi sementara BOJ masih mempertahankan kebijakan suku bunga yang jauh lebih rendah. Kondisi ini mendorong investor memindahkan dana dari yen ke dolar demi mengejar imbal hasil yang lebih tinggi. Selama selisih suku bunga ini masih lebar, tekanan terhadap yen akan terus ada.
Respons Global atas Dana Rp1.300 Triliun Dikucurkan Jepang
Intervensi Jepang yang masif ini juga menarik perhatian Washington. Menteri Keuangan AS Scott Bessent tidak tinggal diam. Ia menyatakan bahwa fluktuasi nilai tukar yang terlalu liar bukan sesuatu yang diinginkan siapapun, termasuk Washington. Kedua negara disebut terus menjalin koordinasi erat dalam memantau pergerakan pasar.
Selain itu, Bessent menyampaikan pandangan yang sedikit melegakan. Menurutnya, fondasi perekonomian Jepang secara keseluruhan masih berada dalam kondisi yang baik. Jika fondasi itu tetap terjaga, pada akhirnya pasar akan merefleksikannya melalui penguatan nilai tukar yen secara alami. Pernyataan itu dibaca pasar sebagai sinyal bahwa AS tidak akan mempermasalahkan langkah Tokyo selama dilakukan secara wajar.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama juga menegaskan pemerintah tetap waspada. Jika gejolak pasar kembali melampaui batas yang bisa ditoleransi, Tokyo siap turun tangan lagi tanpa ragu.
Semua Mata Tertuju ke Keputusan BOJ 16 Juni
Kunci sebenarnya dari nasib yen ke depan mungkin bukan lagi di tangan Kementerian Keuangan, melainkan di tangan Bank of Japan. Pertemuan penting BOJ sudah masuk kalender pada pertengahan Juni 2026. Di situlah arah kebijakan moneter Jepang berikutnya akan ditentukan. Kalangan investor dan analis pasar secara luas menduga ada kemungkinan penyesuaian suku bunga ke atas dalam pertemuan itu.
Jika BOJ benar-benar menaikkan suku bunga, selisih imbal hasil antara yen dan dolar akan menyempit. Investor akan memiliki lebih sedikit alasan untuk melarikan dana mereka dari yen ke dolar. Dalam skenario terbaik, langkah BOJ itu bisa menjadi katalis yang selama ini tidak dimiliki oleh intervensi pasar semata.
Tapi jika BOJ memilih menahan suku bunga seperti yang sering dilakukan sebelumnya, tekanan terhadap yen kemungkinan besar akan berlanjut. Dan Kementerian Keuangan Jepang mungkin harus kembali merogoh kocek triliunan rupiah lagi untuk mencegah yen jatuh lebih dalam.
Penutup: Dana Rp1.300 Triliun Dikucurkan, tapi Perang Belum Selesai
Jepang sudah menembakkan peluru terbesarnya. Rp1.300 triliun adalah angka yang sangat besar bahkan untuk ukuran ekonomi terbesar keempat di dunia. Namun pasar valuta asing adalah arena yang tidak mengenal belas kasihan terhadap intervensi sepihak jika akar masalahnya belum diselesaikan.
Selama perang di Timur Tengah masih berlangsung dan selisih suku bunga AS-Jepang masih lebar, yen akan terus menghadapi tekanan. Oleh karena itu, intervensi Rp1.300 triliun ini mungkin hanya bisa membeli waktu, bukan membalikkan arus. Pertempuran sesungguhnya untuk menyelamatkan yen baru akan terjawab pada 16 Juni ketika BOJ mengumumkan keputusan suku bunga yang dinantikan seluruh pasar global.
Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Global
Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: Hanya Beberapa Detik Setelah Mesin Dinyalakan, Roket New Glenn Blue Origin Meledak Hebat dan Hancurkan Landasan Peluncuran di Florida
