June 15, 2026

INCABERITA

Jelajahi Kabar Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini.

Menteri Ekonomi RI Mundur Massal 20 Mei 1998 Viral Kembali, Rupiah Rp18.000 dan Demo Reformasi Jilid II Bangkitkan Memori Kelam Krisis

Menteri Ekonomi RI Mundur Massal Viral Lagi di Juni 2026, Rupiah Rp18.000 dan Demo Mahasiswa Bangkitkan Memori Paling Kelam dalam Sejarah Indonesia

JAKARTA, incaberita.co.id – Menteri ekonomi RI mundur massal adalah peristiwa yang terjadi pada 20 Mei 1998 dan kini viral kembali di tengah gejolak ekonomi-politik Indonesia Juni 2026. CNBC Indonesia menerbitkan ulang laporan mendalam tentang peristiwa bersejarah itu pada 13 Juni 2026, tepat di saat ribuan mahasiswa turun ke jalan di bawah panji Reformasi Jilid II. Bukan kebetulan. Kondisi Indonesia hari ini — rupiah yang sempat menyentuh Rp18.000 per dolar AS, IHSG yang babak belur, dan tuntutan perubahan yang mengeras dari jalanan — dianggap banyak pihak memiliki kemiripan struktural yang mengkhawatirkan dengan kondisi 1998.

Selain itu, kisah menteri ekonomi RI mundur massal ini kembali mengemuka setelah Mantan Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita membuka kembali arsip kenangannya dalam sebuah podcast pada 14 Mei 2026. Ia menceritakan secara gamblang bagaimana keputusan paling berani dalam karier politiknya itu lahir bukan dari rencana yang matang, melainkan dari kejujuran kolektif sekelompok menteri yang sadar bahwa situasi sudah tidak bisa lagi dipertahankan.

Menteri Ekonomi RI Mundur Massal, Ini Latar Belakang Krisis 1998

Menteri Ekonomi RI Mundur Massal 20 Mei 1998 Viral Kembali, Rupiah Rp18.000 dan Demo Reformasi Jilid II Bangkitkan Memori Kelam Krisis

Sumber gambar : money.kompas.com

Untuk memahami mengapa 14 menteri memilih langkah yang sangat berani itu, perlu dipahami kondisi Indonesia saat krisis melanda. Krisis moneter Asia yang pecah pertengahan 1997 menghantam Indonesia jauh lebih keras dari negara-negara tetangganya. Nilai tukar rupiah yang semula berada di kisaran Rp2.500 per dolar AS terjun bebas hingga menembus Rp16.000. Inflasi melesat. Perbankan limbung di bawah beban kredit macet. Kepercayaan publik kepada pemerintah berada di titik paling rendah.

Di atas semua itu, krisis ekonomi berkembang menjadi krisis politik yang jauh lebih dalam. Gelombang demonstrasi mahasiswa mencapai puncaknya. Jakarta mencekam. Kerusuhan pecah di berbagai titik. Namun di tengah situasi itu, Soeharto masih nekat membentuk Kabinet Pembangunan VII pada 16 Maret 1998 yang oleh banyak kalangan dinilai tidak menjawab tuntutan rakyat sama sekali.

Hanya empat hari setelah kabinet baru itu dilantik, para menterinya sendiri sudah mulai mempertanyakan apakah mereka bisa bertahan lebih lama.

Rapat Bappenas, Ginandjar Ambil Keputusan yang Mengubah Sejarah

Sebelum rapat resmi di Bappenas dimulai, Ginandjar sudah menghabiskan pagi harinya berbicara dengan banyak orang. Ia mendatangi dan menerima kunjungan dari berbagai kalangan — sesama pejabat, orang-orang media, dan mereka yang bergerak di dunia usaha. Dari seluruh percakapan itu, satu gambaran yang sama terus muncul berulang: negara ini sedang bergerak ke arah yang tidak ada yang berani menyebutnya dengan lantang, tapi semua orang merasakannya.

Ginandjar membawa beban percakapan pagi itu ke meja rapat di Gedung Bappenas. Ia berdiri dan menyampaikan apa yang ia lihat tentang kondisi negara dengan cara yang tidak biasa dilakukan di forum resmi: jujur dan tidak ada yang disembunyikan. Setelah ia selesai bicara, suasana ruangan berubah. Ia kemudian menyatakan bahwa ia tidak sanggup meneruskan jabatannya. Surat pengunduran dirinya ditulis saat itu juga dan dikirimkan ke Istana lewat ajudan kepresidenan.

14 Menteri yang Mundur Bersama Ginandjar

Apa yang terjadi setelah Ginandjar selesai bicara adalah sesuatu yang tidak ia rencanakan. Satu per satu rekannya di ruangan itu berdiri dan menyatakan hal yang sama. Tidak ada yang menekan siapapun. Tidak ada kesepakatan tertulis sebelumnya. Yang ada hanyalah kumpulan orang-orang yang sudah terlalu lama menyimpan keresahan yang sama dan menemukan momen untuk mengatakannya.

Dari sisi pemerintahan, yang ikut mundur mencakup sejumlah nama besar. Ginandjar sendiri sebagai Menko Ekuin memimpin rapat itu. Akbar Tandjung yang saat itu menjabat sebagai Menteri Negara Perumahan Rakyat turut menyatakan mundur bersama Kuntoro Mangkusubroto dan Tanri Abeng.

Dari kelompok menteri teknis, nama-nama seperti Haryanto Dhanutirto, Giri Suseno Hadihardjono, dan Rahardi Ramelan juga menyertakan diri. Begitu pula Justika Baharsjah, Subiakto Tjarawerdaya, Sanyoto Sastrowardoyo, Sumahadi, dan Theo L. Sambuaga. A.M. Hendropriyono dan Rachmadil Bambang Sumadhijo melengkapi barisan keempat belas menteri yang memilih pergi di hari yang sama.

Tidak semua yang hadir ikut ambil bagian. Satu nama memilih posisi berbeda: Ary Mardjono yang menjabat sebagai Menteri Negara Agraria. Ia tidak ikut menandatangani pernyataan bersama dan tetap bertahan di posisinya. Adapun isi pernyataan yang dikirimkan ke Istana tidak menyebut tuntutan apapun soal kepresidenan. Para menteri itu hanya menyatakan tidak bisa lagi bertugas dalam situasi yang sudah sampai di titik itu.

Soeharto Kaget dan Terpukul, Rencana Kabinet Reformasi Gagal Total

Surat itu tiba di Istana dan mengejutkan orang yang menerimanya. Elson dalam biografinya mencatat bahwa Soeharto benar-benar tidak menyangka akan ada surat seperti itu masuk. Seluruh skenario yang sudah ia rancang untuk mempertahankan kekuasaan tidak memasukkan kemungkinan ini sama sekali.

Soeharto punya rencana. Keesokan harinya, 21 Mei 1998, ia berencana mengumumkan susunan kabinet baru yang ia namai Kabinet Reformasi. Itu adalah kartu terakhir yang ia pegang untuk menunjukkan bahwa ia siap berubah. Tapi dengan empat belas kursi menteri yang kosong dalam satu malam, kabinet yang ingin ia umumkan itu tidak lagi punya cukup orang untuk berdiri.

Habibie sempat menghubungi beberapa menteri dan meminta mereka mempertimbangkan ulang keputusannya. Tak ada yang berubah pikiran. Pagi harinya, dengan semua upaya menahan laju itu gagal, Soeharto akhirnya berdiri di hadapan kamera. Tiga puluh dua tahun berkuasa diakhiri dalam satu pernyataan singkat di layar televisi.

Ginandjar Tegaskan Surat Itu Bukan Ultimatum Untuk Soeharto Mundur

Dalam podcast yang ia rekam pada Mei 2026, Ginandjar meluruskan satu kesalahpahaman yang selama ini beredar luas. Banyak yang mengira surat dari 14 menteri itu adalah desakan agar Soeharto turun dari kursi presiden. Ginandjar membantah itu.

Ia berkata tidak ada satu kalimat pun dalam surat itu yang meminta atau memerintahkan Presiden untuk melepas jabatannya. Yang mereka sampaikan hanyalah ketidaksanggupan mereka sendiri untuk melanjutkan tugas. Jika pimpinan negara memilih untuk tetap membentuk kabinet baru, itu hak beliau. Tapi mereka tidak akan menjadi bagian dari kabinet itu.

Dampak yang kemudian terjadi adalah sesuatu yang melampaui isi surat itu sendiri. Dunia luar membaca keluarnya 14 menteri bukan sebagai pengunduran diri biasa. Mereka membacanya sebagai tanda bahwa orang-orang paling dalam di lingkar kekuasaan Soeharto pun sudah tidak lagi yakin dengan apa yang sedang terjadi. Dan sinyal seperti itu, begitu terkirim ke publik, tidak bisa ditarik kembali.

Mengapa Menteri Ekonomi RI Mundur Massal Viral Kembali di Juni 2026

Kisah ini kembali ramai bukan tanpa sebab. Ada sejumlah paralel yang membuat publik Juni 2026 merasa bahwa sejarah sedang berbicara dengan cara yang sangat tidak nyaman.

Rupiah sempat menyentuh Rp18.000 per dolar AS — angka yang langsung memantik asosiasi dengan krisis 1997-1998. Demo mahasiswa bergolak di bawah nama Reformasi Jilid II dengan tuntutan akuntabilitas ekonomi kepada pemerintah Prabowo. Harga BBM naik. IHSG tertekan. Tuntutan perubahan mengeras. Mantan Wamenaker Immanuel Ebenezer alias Noel bahkan secara terbuka memperingatkan bahwa eskalasi politik menuju perubahan besar sudah matang.

Selain itu, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa sempat diisukan mundur di tengah tekanan rupiah. Meski isu itu langsung dibantah resmi oleh Purbaya sendiri dan Istana Kepresidenan pada 4 Juni 2026, kehadirannya di ruang publik cukup untuk mengingatkan banyak pihak pada momen-momen serupa sebelum badai besar 1998 melanda.

Perbedaan 1998 dan 2026 yang Tidak Boleh Diabaikan

Namun paralel ini harus dibaca dengan hati-hati. Ada sejumlah perbedaan mendasar antara kondisi 1998 dan kondisi Indonesia di Juni 2026.

Pertama, sistem politik Indonesia jauh lebih demokratis hari ini. Mekanisme akuntabilitas seperti parlemen, pers bebas, dan lembaga independen sudah jauh lebih kuat dari era Orde Baru. Kedua, fundamental ekonomi Indonesia saat ini lebih kokoh meski sedang tertekan. Penerimaan pajak Mei 2026 tumbuh 22,1 persen secara tahunan. Defisit APBN terkendali di 0,7 persen terhadap PDB. Ketiga, tidak ada tanda-tanda menteri kabinet Prabowo hendak mengikuti langkah Ginandjar cs.

Oleh karena itu, sejarah menteri ekonomi RI mundur massal lebih tepat dibaca sebagai pelajaran, bukan prediksi. Pelajaran tentang bagaimana krisis kepercayaan bisa jauh lebih menghancurkan daripada krisis angka-angka ekonomi itu sendiri.

Penutup: Menteri Ekonomi RI Mundur Massal, Cermin yang Harus Dilihat dengan Jujur

Menteri ekonomi RI mundur massal pada 20 Mei 1998 adalah momen yang mengubah sejarah Indonesia selamanya. Kini di Juni 2026, kisah itu viral kembali bukan karena ingin menakut-nakuti siapapun, tapi karena ada kemiripan yang tidak bisa begitu saja diabaikan.

Pemerintahan manapun yang mengabaikan sinyal dari rakyat terlalu lama, yang membiarkan krisis kepercayaan berlarut-larut tanpa jawaban yang nyata, yang terus melihat keluhan publik sebagai gangguan ketimbang umpan balik yang harus direspons, pada akhirnya akan berhadapan dengan momentum yang tidak bisa dikendalikan. Sejarah 20 Mei 1998 mengajarkan itu dengan sangat mahal.

Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Lokal

Author

Copyright @ 2026 Incaberita. All right reserved