Jepang Pangkas Pajak Makanan Jadi 1 Persen, Pemerintah Siapkan Kebijakan Dua Tahun
JAKARTA, incaberita.co.id – Kebijakan Jepang Pangkas Pajak Makanan menjadi perhatian setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi secara resmi menyatakan rencana menurunkan tarif pajak konsumsi untuk makanan dan minuman dari saat ini 8 persen menjadi 1 persen.
Penurunan tersebut direncanakan mulai berlaku pada April 2027 dan berlangsung selama dua tahun. Kebijakan ini dirancang sebagai respons terhadap tekanan biaya hidup dan kenaikan harga pangan yang terus dirasakan rumah tangga Jepang.
Namun, satu hal penting perlu diperjelas. Pemangkasan pajak belum berlaku sekarang. Pemerintah masih harus menyiapkan perubahan undang-undang dan membawa rancangan tersebut ke parlemen Jepang atau Diet. Jadi, pengumuman pemerintah merupakan keputusan arah kebijakan, bukan berarti harga makanan langsung turun pada Agustus 2026.
Jepang Pangkas Pajak Makanan dari 8 Persen Menjadi 1 Persen

Sumber gambar : byfood.com
Jepang saat ini menerapkan pajak konsumsi standar sebesar 10 persen. Untuk sebagian besar makanan dan minuman yang dibeli konsumen, berlaku tarif khusus lebih rendah sebesar 8 persen.
Pemerintahan Takaichi berencana menurunkan tarif khusus tersebut menjadi hanya 1 persen selama dua tahun. Pemerintah sebelumnya mempertimbangkan tarif nol persen, tetapi kemudian memilih angka 1 persen karena dinilai dapat diterapkan lebih cepat melalui penyesuaian sistem kasir, akuntansi, dan pembayaran perusahaan.
Garis besar rencana tersebut adalah:
- tarif makanan saat ini: 8 persen;
- tarif yang direncanakan: 1 persen;
- mulai berlaku: April 2027;
- masa berlaku: dua tahun;
- setelah periode tersebut, pemerintah berencana mengembalikan tarif menjadi 8 persen;
- perubahan membutuhkan revisi undang-undang.
Karena itu, frasa Jepang Pangkas Pajak Makanan benar untuk menggambarkan arah kebijakan pemerintah, tetapi sebaiknya tidak ditulis seolah-olah tarif 1 persen sudah berlaku saat ini.
Mengapa Tidak Jadi Nol Persen?
Dalam pemilu sebelumnya, Partai Demokrat Liberal atau LDP bersama Japan Innovation Party sempat menjanjikan tarif pajak konsumsi makanan menjadi nol persen selama dua tahun.
Namun, setelah pemerintah mempelajari implementasinya, ditemukan persoalan teknis. Perubahan menjadi nol persen diperkirakan membutuhkan penyesuaian sistem kasir dan perangkat akuntansi yang lebih lama.
Pemerintah memperkirakan perubahan ke nol persen dapat membutuhkan sekitar 10 bulan sampai satu tahun untuk sebagian perusahaan. Sebaliknya, penyesuaian ke 1 persen diperkirakan dapat selesai dalam waktu sekitar lima sampai enam bulan.
Alasan inilah yang kemudian membuat tarif 1 persen dipilih sebagai kompromi. Pemerintah ingin manfaat pengurangan pajak dapat dirasakan masyarakat mulai April 2027 tanpa harus menunggu terlalu lama.
Target Utamanya Menekan Beban Biaya Hidup
Kebijakan tersebut muncul di tengah tingginya tekanan harga kebutuhan sehari-hari di Jepang. Harga pangan menjadi salah satu komponen yang paling mudah dirasakan masyarakat karena dibeli hampir setiap hari.
Dengan mengurangi pajak konsumsi dari 8 persen menjadi 1 persen, pemerintah berharap harga akhir yang dibayarkan konsumen dapat berkurang.
Misalnya, apabila suatu barang sebelum pajak berharga 1.000 yen, dengan tarif 8 persen konsumen membayar sekitar 1.080 yen. Jika tarif menjadi 1 persen, harganya menjadi sekitar 1.010 yen, dengan asumsi seluruh pengurangan pajak diteruskan ke konsumen.
Namun, penurunan pajak tidak berarti setiap harga akan otomatis turun tepat 7 persen. Harga makanan tetap dipengaruhi:
- biaya bahan baku;
- upah;
- biaya transportasi;
- nilai tukar yen;
- harga energi;
- strategi harga perusahaan;
- kondisi pasokan dan permintaan.
Karena itu, dampak akhir terhadap harga konsumen tetap bergantung pada keputusan masing-masing produsen dan pengecer.
Kebijakan Hanya Berlaku Sementara
Salah satu bagian paling penting dari rencana Jepang Pangkas Pajak Makanan adalah sifatnya yang sementara.
Pemerintah menyatakan tarif 1 persen hanya akan berlaku selama dua tahun. Setelah periode tersebut selesai, tarif makanan direncanakan kembali ke tingkat sebelumnya sebesar 8 persen.
Takaichi menegaskan bahwa pemerintah tidak berencana menjadikan tarif rendah tersebut permanen. Pemerintah juga dilaporkan tidak ingin memasukkan klausul yang secara otomatis memperpanjang periode pemotongan berdasarkan kondisi ekonomi.
Artinya, kebijakan ini lebih mirip stimulus biaya hidup sementara daripada reformasi permanen sistem pajak Jepang.
Mengapa Masih Ada Pajak 1 Persen?
Pemerintah juga merancang skema lain agar beban riil masyarakat dapat mendekati nol persen.
Proposal lintas partai sebelumnya mencakup rencana menggunakan penerimaan dari sisa pajak 1 persen—diperkirakan sekitar 600 miliar yen per tahun—untuk membiayai bantuan yang disesuaikan dengan pendapatan rumah tangga.
Dengan kombinasi pajak hanya 1 persen dan bantuan kepada kelompok tertentu, pemerintah menggambarkan skema tersebut sebagai upaya membuat beban pajak pangan secara efektif mendekati nol.
Namun, rancangan bantuan pendapatan tersebut masih membutuhkan detail mengenai kriteria penerima, jumlah pembayaran, dan mekanisme administrasinya.
Belum Langsung Berlaku
Meski Takaichi telah menyatakan rencananya secara resmi, pemotongan pajak masih harus melalui proses legislasi.
Pemerintah dan partai koalisi berencana mengajukan perubahan hukum terkait pajak konsumsi dalam sidang luar biasa Diet pada musim gugur 2026. Targetnya adalah undang-undang dapat disahkan cukup cepat sehingga bisnis memiliki waktu untuk memperbarui sistem sebelum April 2027.
Tahapan yang masih harus dilewati antara lain:
- penyusunan rancangan perubahan hukum;
- pembahasan di parlemen;
- persetujuan Diet;
- persiapan sistem perusahaan dan pengecer;
- penyesuaian perangkat kasir dan akuntansi;
- implementasi mulai April 2027.
Karena itu, judul yang menyebut Jepang telah “menghapus pajak makanan” belum tepat. Tarif juga tidak langsung menjadi 1 persen hanya karena pemerintah sudah mengumumkannya.
Oposisi Tidak Sepenuhnya Setuju
Rencana tersebut mendapat perlawanan dari sejumlah partai oposisi.
Dalam pertemuan National Council on Social Security pada Juli 2026, beberapa partai oposisi menilai bantuan tunai lebih cepat memberikan manfaat kepada masyarakat dibanding menunggu pemangkasan pajak sampai April 2027.
Mereka juga mempertanyakan mengapa tarif kemudian harus dinaikkan kembali setelah dua tahun. Bagi oposisi, kondisi tersebut dapat membuat rumah tangga menghadapi kenaikan harga efektif ketika masa pemotongan berakhir.
Sebaliknya, pemerintah berpendapat pemotongan pajak memberikan manfaat luas dan mudah dipahami karena langsung berlaku pada barang yang dikonsumsi masyarakat setiap hari.
Risiko bagi Keuangan Pemerintah Jepang
Rencana Jepang Pangkas Pajak Makanan juga memunculkan kekhawatiran mengenai kondisi fiskal.
Pajak konsumsi merupakan salah satu sumber penerimaan penting Jepang dan digunakan untuk mendukung program sosial dalam masyarakat yang semakin menua.
Reuters melaporkan bahwa kebijakan tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap keuangan pemerintah Jepang yang sudah menghadapi tingkat utang sangat tinggi.
Pemerintah karena itu menghadapi tantangan mencari sumber pendanaan pengganti tanpa meningkatkan penerbitan obligasi secara berlebihan.
Takaichi mengatakan pembiayaan kebijakan tidak seharusnya terlalu bergantung pada utang baru. Namun, detail penuh mengenai sumber dana pengganti masih menjadi salah satu isu penting dalam pembahasan parlemen.
Siapa yang Paling Diuntungkan?
Secara sederhana, semua rumah tangga yang membeli makanan akan membayar pajak lebih rendah.
Namun manfaat nominal terbesar belum tentu diterima kelompok berpendapatan rendah. Rumah tangga yang mengeluarkan lebih banyak uang untuk makanan secara nominal juga dapat memperoleh penghematan lebih besar.
Inilah alasan pemerintah mempertimbangkan bantuan berbasis pendapatan sebagai pelengkap. Skema tersebut ditujukan agar kelompok berpendapatan rendah dan menengah memperoleh dukungan tambahan.
Bagi konsumen, barang yang menjadi perhatian utama meliputi:
- beras;
- sayuran;
- buah;
- daging;
- ikan;
- makanan kemasan;
- minuman nonalkohol;
- berbagai kebutuhan pangan rumah tangga.
Detail mengenai batas produk yang mendapat tarif khusus tetap mengikuti definisi dalam sistem pajak Jepang dan dapat diperjelas lebih lanjut melalui aturan pelaksana.
Restoran Tidak Otomatis Mendapat Tarif 1 Persen
Salah satu bagian yang penting untuk diperhatikan adalah perbedaan antara makanan untuk konsumsi rumah tangga dan layanan makan di restoran.
Sistem pajak Jepang selama ini membedakan makanan yang dibeli untuk dibawa pulang dengan layanan makan di tempat. Karena itu, pemangkasan tarif makanan tidak otomatis berarti seluruh tagihan restoran akan dikenai pajak 1 persen.
Detail final mengenai ruang lingkup barang dan layanan akan menjadi salah satu bagian penting dari rancangan hukum.
Konsumen karena itu tidak seharusnya menganggap semua pengeluaran untuk makanan—termasuk restoran dan layanan tertentu—otomatis akan turun dengan besaran yang sama.
Dampak bagi Bisnis Ritel
Supermarket, minimarket, produsen makanan, dan perusahaan akuntansi perlu mempersiapkan perubahan sistem sebelum kebijakan mulai berlaku.
Penyesuaian dapat mencakup:
- mesin kasir;
- faktur;
- sistem perpajakan;
- perangkat akuntansi;
- label harga;
- aplikasi penjualan;
- transaksi daring;
- pelaporan pajak.
Persoalan teknis tersebut merupakan salah satu alasan pemerintah tidak memilih nol persen mulai April 2027.
Dengan tarif 1 persen, pemerintah berharap perusahaan memiliki cukup waktu untuk melakukan perubahan tanpa mengganggu aktivitas perdagangan secara luas.
Kebijakan Bisa Jadi Sejarah Baru
Apabila akhirnya disahkan Diet, kebijakan tersebut akan menjadi langkah penting dalam sejarah sistem pajak konsumsi Jepang.
Reuters menyebut rencana ini dapat menjadi pemangkasan efektif pertama terhadap pajak konsumsi sejak sistem tersebut diperkenalkan. Sebelumnya, sejarah kebijakan pajak konsumsi Jepang lebih banyak diwarnai oleh kenaikan tarif daripada penurunan.
Karena itu, kebijakan tersebut bukan hanya bantuan sementara terhadap biaya hidup, tetapi juga perubahan politik yang cukup besar dalam pendekatan pemerintah terhadap konsumsi domestik.
Kesimpulan
Berita Jepang Pangkas Pajak Makanan memiliki dasar yang kuat. Perdana Menteri Sanae Takaichi secara resmi menyatakan rencana menurunkan pajak konsumsi untuk makanan dan minuman dari 8 persen menjadi 1 persen selama dua tahun mulai April 2027.
Namun, tarif tersebut belum berlaku saat ini. Pemerintah masih harus mengajukan perubahan undang-undang dan memperoleh persetujuan parlemen Jepang.
Pemangkasan dipilih sebagai respons terhadap kenaikan biaya hidup sekaligus kompromi dari janji sebelumnya untuk menurunkan tarif menjadi nol persen. Pemerintah memilih angka 1 persen karena sistem bisnis diperkirakan dapat menyesuaikannya lebih cepat.
Kebijakan tersebut berpotensi mengurangi pengeluaran rumah tangga dan menekan harga pangan secara efektif. Di sisi lain, pemerintah harus menghadapi persoalan kehilangan penerimaan pajak, pembiayaan jaminan sosial, serta kritik bahwa bantuan tunai mungkin lebih cepat dan tepat sasaran.
Dengan demikian, Jepang Pangkas Pajak Makanan bukan berarti pajak pangan telah dihapus atau sudah turun sekarang. Kebijakan yang diumumkan adalah rencana tarif 1 persen mulai April 2027 selama dua tahun, dengan implementasi final tetap bergantung pada proses legislasi di Diet.
Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Global
Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: Sofwan Awae Tewas Tersambar Petir saat Bertanding di Thailand, 12 Pemain Lain Ikut Terluka
