June 17, 2026

INCABERITA

Jelajahi Kabar Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini.

Demo Mahasiswa Berlanjut 15 Juni 2026, 5.955 Polisi Diterjunkan dan Perwakilan Akhirnya Bertemu Gibran di Istana

Demo Mahasiswa Berlanjut Senin Ini, BEM UBK Geruduk Istana dan 15 Perwakilan Akhirnya Berhasil Duduk Dua Jam Bersama Gibran di Istana Wapres

JAKARTA, incaberita.co.id – Demo mahasiswa berlanjut pada Senin 15 Juni 2026, hanya tiga hari setelah gelombang aksi besar di Bundaran HI pada Jumat 12 Juni lalu. Kali ini titik-titik demonstrasi menyebar lebih luas: dari depan Istana Negara, kawasan Monas, Gedung DPR/MPR RI di Senayan, hingga Jalan Kwitang Raya Senen. Meski hujan deras mengguyur Jakarta siang hari, semangat massa aksi tidak surut. Ribuan mahasiswa dari berbagai kampus memilih tetap bertahan di lokasi masing-masing.

Selain itu, demo mahasiswa berlanjut ini tidak hanya terjadi di Jakarta. Gelombang aksi serupa menyebar ke Palembang, Palu, Serang, Majalengka, dan Yogyakarta. Di Yogyakarta, ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Memanggil menggelar demonstrasi di kawasan Gejayan, Sleman pada Sabtu 13 Juni 2026. Akademisi, aktivis demokrasi, seniman, hingga pengemudi ojek daring turut bergabung menyuarakan tuntutan yang semakin meluas.

Demo Mahasiswa Berlanjut, BEM UBK Geruduk Istana Bertema Tata Ulang Indonesia

Demo Mahasiswa Berlanjut 15 Juni 2026, 5.955 Polisi Diterjunkan dan Perwakilan Akhirnya Bertemu Gibran di Istana

Sumber gambar : megapolitan.kompas.com

Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Bung Karno atau BEM UBK menjadi salah satu motor penggerak utama aksi 15 Juni 2026. Mereka menggelar unjuk rasa bertema Tata Ulang Indonesia di depan Istana Negara mulai pukul 10.00 WIB. Ketua BEM Fakultas Hukum UBK Muhammad Abdimaludin mengungkapkan keputusan turun ke jalan bukan tindakan tergesa-gesa.

Abdi menyebut aksi ini lahir dari konsolidasi internal yang dilakukan pada Sabtu 13 Juni 2026, setelah kajian mendalam tentang kondisi nasional yang dianggap semakin memburuk. Ia menyatakan negara hari ini sangat terpuruk dan sedang tidak baik-baik saja. BEM UBP Pamulang dan UMJ bergabung menambah massa yang turun ke lapangan.

Titik kumpul massa UBK berada di bawah Patung Bung Karno sebelum kemudian long march menuju Istana Negara. Peserta aksi diminta mengenakan kaus hitam dan almamater kampus masing-masing sebagai identitas kolektif gerakan ini.

Enam Tuntutan yang Dibawa ke Istana Negara

BEM UBK dan sejumlah kampus yang bergabung membawa enam tuntutan konkret yang ditujukan langsung kepada pemerintah. Keenam tuntutan itu mencerminkan keresahan yang sudah lama menumpuk di kalangan mahasiswa dan masyarakat luas.

Tuntutan pertama adalah mendesak pemerintah menghentikan sementara dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program Makan Bergizi Gratis serta Koperasi Desa Merah Putih. Tuntutan kedua adalah mendesak peninjauan kembali Undang-Undang Kepolisian yang baru saja disahkan DPR pada 9 Juni 2026. Tuntutan ketiga adalah menghentikan praktik militerisme dan menegakkan supremasi sipil.

Tuntutan keempat adalah mendesak pemerintah mengambil langkah nyata untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan ketahanan ekonomi nasional. Tuntutan kelima adalah menuntut hak pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan terjangkau bagi seluruh rakyat. Tuntutan keenam adalah meninjau kembali kebijakan kenaikan harga BBM yang dinilai semakin membebani masyarakat.

Aliansi Perisai Bawa 20 Tuntutan, Termasuk Copot Tiga Menteri

Di Bundaran HI, kelompok yang berbeda tampil dengan tuntutan yang jauh lebih panjang. Aliansi Persatuan Rakyat Indonesia Anti Imperialis atau Perisai membawa total 20 tuntutan yang mereka sebut formula 11+9 yang terdiri dari 11 tuntutan prioritas dan 9 tuntutan umum.

Yang paling mencolok dari 20 tuntutan Aliansi Perisai adalah poin kesebelas: mencopot Menteri Keuangan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, dan Menteri ESDM karena dinilai gagal menjaga stabilitas sektor masing-masing. Tuntutan lainnya mencakup transparansi BPI Danantara, penolakan Sekolah Rakyat, alokasi anggaran pendidikan sesuai konstitusi 20 persen, serta berbagai isu ketenagakerjaan dan pertahanan.

Sementara itu, organisasi lain seperti Front Mahasiswa Nasional, GMNI Jakarta, Aliansi Cipayung Plus, dan Sentral Perjuangan Pemuda menggelar aksi di Gedung DPR RI Senayan. Orator mereka berkali-kali meminta aparat membuka barikade pagar besi yang terpasang di depan gedung parlemen.

Demo Mahasiswa Berlanjut, 5.955 Polisi dan 500 TNI Diterjunkan ke Lapangan

Skala pengamanan yang disiapkan Polri untuk demo mahasiswa berlanjut hari ini sangat besar. Sebanyak 5.955 personel gabungan dari Polda Metro Jaya, Polres Jakarta Pusat, dan jajaran polsek diterjunkan ke lapangan. Mereka mendapat dukungan tambahan dari 500 personel TNI yang disiagakan sebagai cadangan.

Pihak kepolisian menjelaskan bahwa pengelolaan arus kendaraan di sekitar titik-titik demonstrasi tidak diterapkan secara kaku. Petugas di lapangan diberi keleluasaan untuk menyesuaikan kondisi lalu lintas berdasarkan situasi aktual yang berkembang dari jam ke jam. Warga yang tidak berkepentingan dengan aksi diimbau memilih jalur lain untuk menghindari potensi kemacetan di kawasan pusat kota.

Amnesty International sebelumnya sudah mendesak agar TNI tidak dilibatkan dalam pengamanan demo mahasiswa hari ini. Lembaga hak asasi manusia internasional itu mengingatkan bahwa pelibatan militer dalam pengamanan demonstrasi sipil berpotensi memperkeruh suasana dan menimbulkan pelanggaran HAM.

BEM UI Tidak Hadir, tapi Berjanji Akan Datang Lagi

Satu ketidakhadiran yang cukup mencolok dalam aksi 15 Juni 2026 adalah BEM Universitas Indonesia. BEM kampus bergengsi itu memastikan tidak ikut serta dalam demonstrasi hari ini. Namun pernyataan yang mereka unggah di media sosial tidak terdengar seperti pernyataan mundur.

BEM UI menegaskan perjuangan akan terus berlanjut. Mereka menyatakan akan kembali merebut Bundaran HI dan merebut kemenangan. Pernyataan itu menunjukkan BEM UI sama sekali belum menutup kemungkinan untuk terlibat dalam gelombang demonstrasi berikutnya jika situasi menuntutnya.

Meski tidak hadir secara fisik, BEM UI menyatakan tetap memantau perkembangan situasi dan dinamika gerakan mahasiswa di berbagai daerah. Ketidakhadiran mereka hari ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh pertimbangan strategis, bukan tanda melemahnya komitmen terhadap tuntutan yang sama.

Demo Mahasiswa Berlanjut, Perwakilan Temui Gibran dan Beri Tenggat 5 Hari

Perkembangan paling krusial dari demo mahasiswa berlanjut hari ini terjadi menjelang petang. Sebanyak 15 perwakilan mahasiswa dari BEM UBK, Universitas MH Thamrin, dan Universitas Terbuka berhasil bertemu langsung dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Istana Wakil Presiden Jakarta.

Pertemuan berlangsung hampir dua jam dimulai pukul 17.20 WIB dan berakhir sekitar pukul 19.00 WIB. Koordinator Aksi UBK Muhammad Abdimaludin menyebut pertemuan itu membuahkan hasil karena mahasiswa bisa menyampaikan aspirasi dan keluhan secara langsung. Ia menambahkan Gibran merespons dengan baik dan mencatat berbagai poin tuntutan yang disampaikan.

Namun demikian mahasiswa tidak pulang dengan tangan kosong dari negosiasi. Mereka memberikan tenggat waktu 5 kali 24 jam kepada pemerintah untuk menindaklanjuti dan merealisasikan tuntutan yang sudah disampaikan. Jika dalam waktu itu tidak ada kemajuan yang nyata, mahasiswa memastikan akan menggelar aksi lanjutan yang lebih besar.

Pengamat UGM Ingatkan: Jangan Remehkan Unjuk Rasa

Ahli hukum tata negara dari Universitas Gadjah Mada Yance Arizona memberikan peringatan keras kepada pemerintah. Ia menegaskan bahwa demo mahasiswa berlanjut ini tidak boleh diremehkan oleh siapapun yang berada di posisi pengambil keputusan.

Yance menjelaskan bahwa gelombang aksi ini terus berlanjut karena isu-isu yang disampaikan mahasiswa sangat seragam dan konkret, tapi hingga kini belum diakomodasi oleh pemerintah secara memadai. Selama respons pemerintah tidak nyata dan terasa langsung oleh masyarakat, potensi eskalasi gerakan ini akan terus ada.

Sultan Hamengkubuwono X juga turut merespons dengan pernyataan yang sangat tegas. Raja Yogyakarta itu menyatakan demonstrasi yang dilakukan mahasiswa dan warga adalah hak yang sah dalam negara demokrasi dan harus dihormati oleh semua pihak.

Penutup: Demo Mahasiswa Berlanjut, Tenggat 5 Hari Jadi Ujian Nyata Pemerintah

Demo mahasiswa berlanjut pada 15 Juni 2026 bukan sekadar kelanjutan aksi 12 Juni. Ini adalah eskalasi yang semakin terorganisir, semakin menyebar ke berbagai kota, dan kini sudah berhasil memaksa pemerintah berbicara langsung melalui pertemuan dengan Gibran.

Tenggat 5 hari yang diberikan mahasiswa kepada pemerintah setelah pertemuan dengan Gibran kini menjadi ujian yang sangat konkret. Apakah pemerintah akan merespons dengan tindakan nyata yang bisa dirasakan langsung, atau sekadar menerima aspirasi tanpa tindak lanjut yang jelas. Jawaban atas pertanyaan itu yang akan menentukan apakah gelombang demo berikutnya akan lebih besar dari yang terjadi hari ini.

Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Lokal

Author

Copyright @ 2026 Incaberita. All right reserved