Demo BEM UI Bundaran HI Bawa Delapan Tuntutan, Mahasiswa Soroti Kekuasaan Negara
JAKARTA, incaberita.co.id — Aksi mahasiswa kembali mewarnai kawasan pusat Jakarta dengan membawa sejumlah persoalan yang dinilai membutuhkan perhatian pemerintah. Demo BEM UI Bundaran HI menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan kritik terhadap berbagai kebijakan sekaligus mengangkat persoalan mengenai hubungan antara kekuasaan negara dan posisi masyarakat.
Wakil Ketua BEM Universitas Indonesia, Fatimah Azzahra, menyampaikan bahwa terdapat delapan tuntutan yang dibawa dalam aksi tersebut. Meskipun menyentuh sejumlah isu berbeda, menurut Fatimah, tuntutan itu memiliki benang merah yang sama, yaitu kekhawatiran terhadap kondisi ketika negara dianggap semakin memiliki kekuasaan besar sementara masyarakat berada dalam posisi yang semakin lemah.
Persoalan tersebut tidak hanya dipandang dari sudut kebijakan tertentu, tetapi juga menyangkut mekanisme pengawasan terhadap kekuasaan. Mahasiswa menilai prinsip check and balance diperlukan agar kewenangan pemerintah tetap memiliki batas sekaligus dapat diawasi secara efektif melalui mekanisme demokratis.
Di sisi lain, jalannya Demo BEM UI Bundaran HI turut menempatkan keselamatan peserta sebagai perhatian penting. Mahasiswa menyatakan tetap berusaha menyampaikan aspirasi secara maksimal, tetapi perkembangan situasi di lapangan dan keberadaan aparat menjadi faktor yang terus diperhitungkan.
Demo BEM UI Bundaran HI dan Delapan Tuntutan yang Dianggap Mendesak
Fatimah menjelaskan bahwa delapan tuntutan yang dibawa mahasiswa memiliki tingkat kepentingan yang sama. Karena itu, mahasiswa tidak menempatkan satu persoalan sebagai tuntutan tunggal yang mengesampingkan isu lainnya, melainkan melihat keseluruhannya sebagai rangkaian persoalan yang saling berkaitan.
“Dari tuntutan delapan itu sebetulnya semuanya sama-sama urgen ya, sama-sama sangat penting menurut kita, sama-sama harga mati,” kata Fatimah sebagaimana dikutip dari keterangan kepada awak media.
Menurutnya, terdapat satu kekhawatiran besar yang menghubungkan berbagai tuntutan dalam Demo BEM UI Bundaran HI, yakni anggapan bahwa kekuatan negara semakin besar sementara ruang dan posisi masyarakat justru semakin melemah. Kondisi semacam itu dipandang mahasiswa membutuhkan perhatian karena kekuasaan idealnya berjalan beriringan dengan pengawasan.
Fatimah menekankan bahwa persoalan yang mereka sampaikan bukan hanya berkaitan dengan besarnya kewenangan pemerintah, tetapi juga seberapa kuat mekanisme yang tersedia untuk mengawasi penggunaan kewenangan tersebut. Bagi mahasiswa, pengawasan menjadi bagian penting agar kekuasaan tidak berkembang tanpa batas yang memadai.
Keselamatan Demonstran Menjadi Pertimbangan Penting di Lapangan
Di tengah penyampaian tuntutan, aspek keamanan menjadi perhatian tersendiri bagi peserta Demo BEM UI Bundaran HI. Fatimah mengatakan mahasiswa tetap berusaha menyampaikan aspirasi dengan maksimal, tetapi keselamatan peserta tidak dapat ditempatkan sebagai persoalan sekunder.
“Kita akan berusaha semaksimal mungkin, tapi dari kita sendiri tetap mengutamakan keamanan dari teman-teman mahasiswa juga sih,” ujar Fatimah kepada awak media.

Sumber Gambar : Tribunnews
Pertimbangan tersebut muncul karena mahasiswa mengaku tidak dapat sepenuhnya memprediksi perkembangan situasi ketika aksi berlangsung dan ketika peserta berhadapan dengan aparat keamanan. Kehadiran kepolisian maupun TNI menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan dalam menentukan langkah peserta selama demonstrasi.
“Karena kita tidak pernah tahu polisi apalagi ada TNI akan seperti apa, kita mengutamakan keselamatan sih,” ucap Fatimah. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa penyampaian aspirasi dan perlindungan terhadap peserta berjalan sebagai dua perhatian yang sama-sama diperhitungkan mahasiswa.
Program Strategis Nasional Ikut Masuk dalam Sorotan Mahasiswa
Salah satu isu yang dibawa dalam Demo BEM UI Bundaran HI berkaitan dengan pelaksanaan Program Strategis Nasional atau PSN. Mahasiswa menilai implementasi sejumlah program tersebut masih memiliki persoalan yang membutuhkan evaluasi lebih mendalam dari pemerintah.
Fatimah mengatakan mahasiswa tidak hanya mempertanyakan keberlanjutan program, tetapi juga bagaimana program tersebut dijalankan. Ia menilai terdapat pelaksanaan PSN yang dianggap belum tertata dengan baik sehingga menjadi salah satu bagian dari kritik yang disampaikan dalam aksi.
“Untuk detailnya berbagai macam mulai dari program-program PSN yang masih dijalankan dengan bukan hanya masih dijalankan tapi dijalankan dengan semraut ya,” kata Fatimah ketika menjelaskan beberapa isu yang masuk dalam tuntutan mahasiswa.
Kritik terhadap PSN menunjukkan bahwa tuntutan dalam demonstrasi tidak hanya bergerak pada isu demokrasi secara umum. Mahasiswa juga membawa persoalan implementasi kebijakan sebagai bagian dari evaluasi terhadap bagaimana kewenangan pemerintah diterjemahkan menjadi program yang secara langsung maupun tidak langsung berdampak terhadap masyarakat.
Persoalan MBG dan Kasus Keracunan Diminta Mendapat Evaluasi Serius
Selain PSN, Demo BEM UI Bundaran HI turut menyoroti pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis atau MBG. Perhatian mahasiswa terutama diarahkan pada kasus keracunan makanan yang dikaitkan dengan pelaksanaan program tersebut dan dinilai membutuhkan langkah evaluasi yang lebih efektif.
Fatimah menyinggung adanya korban keracunan, termasuk anak-anak, yang menurutnya bahkan menyampaikan keengganan untuk kembali menerima makanan dari program tersebut. Situasi ini dipandang sebagai sinyal bahwa evaluasi tidak cukup berhenti pada respons administratif semata.
“Masih banyak korban keracunan bahkan anak-anak dari korban keracunan tersebut juga mengatakan bahwa mereka tidak ingin ada makan MBG lagi,” kata Fatimah dalam keterangannya.
Menurut mahasiswa, ukuran evaluasi yang bermakna seharusnya dapat terlihat dari kemampuan mencegah persoalan serupa kembali terjadi. Fatimah menilai apabila kasus yang sama terus berulang dalam periode panjang, efektivitas langkah perbaikan pemerintah layak kembali dipertanyakan.
Kekhawatiran terhadap Check and Balance Menjadi Benang Merah Aksi
Persoalan keseimbangan kekuasaan menjadi salah satu pesan paling menonjol dalam Demo BEM UI Bundaran HI. Fatimah berulang kali menekankan kekhawatiran mahasiswa. Mereka menilai negara semakin kuat, sementara masyarakat tidak memiliki kekuatan pengimbang yang sebanding.
“Tapi tadi benang merahnya bahwa negara ini semakin kuat, sementara rakyat semakin lemah dan tidak ada check and balance yang memadai,” ujar Fatimah saat menjelaskan keresahan yang melandasi tuntutan mahasiswa.
Dalam sistem demokrasi, mekanisme check and balance berfungsi menjaga agar kewenangan dapat diawasi. Mekanisme ini juga mencegah kekuasaan terkonsentrasi tanpa kontrol. Karena itu, mahasiswa menilai pembahasan kebijakan pemerintah harus ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas. Kerangka tersebut berkaitan dengan pembatasan kekuasaan.
Fatimah mengatakan mahasiswa menginginkan mekanisme yang benar-benar mampu membatasi kekuasaan pemerintah. Kekhawatiran ini menjadi fondasi utama. Hal tersebut menghubungkan kritik terhadap program pemerintah, penyelenggaraan kebijakan, serta relasi antara negara dan masyarakat.
Alasan Polisi Menahan Massa Turut Dipertanyakan
Perhatian peserta Demo BEM UI Bundaran HI juga tertuju pada alasan aparat kepolisian yang disebut menahan massa di lokasi. Fatimah meminta masyarakat, terutama pekerja di sekitar area demonstrasi, ikut mengonfirmasi alasan yang disampaikan aparat.
Menurut Fatimah, kepolisian menyebut bahwa demonstrasi mengganggu aktivitas pekerja di sekitar lokasi. Pernyataan ini kemudian dipertanyakan mahasiswa. Mereka menilai perlu ada konfirmasi langsung dari pihak yang disebut terdampak.
Fatimah juga mengajak pekerja di sekitar lokasi untuk menyampaikan apakah aksi benar-benar mengganggu aktivitas mereka. Konfirmasi ini dianggap penting agar alasan tindakan terhadap massa memiliki dasar yang jelas dan dapat diuji.
Ia menyinggung adanya pihak yang siap bertanggung jawab jika klaim tersebut tidak benar. Bagi mahasiswa, persoalan ini tidak hanya soal perbedaan pandangan antara demonstran dan aparat. Ini juga menyangkut transparansi dalam pengelolaan massa.
Suara Mahasiswa dan Ujian Ruang Kritik dalam Demokrasi
Lebih luas, Demo BEM UI Bundaran HI menunjukkan bahwa aksi mahasiswa masih menjadi saluran penting untuk menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Delapan tuntutan yang dibawa merangkum berbagai isu dalam satu narasi besar tentang pengawasan kekuasaan dan perlindungan masyarakat.
Kritik terhadap PSN dan MBG memperlihatkan bahwa kebijakan publik tetap dapat dievaluasi. Hal ini terjadi ketika muncul persoalan dalam pelaksanaannya. Mahasiswa juga mengaitkan isu tersebut dengan kekhawatiran terhadap lemahnya kontrol terhadap pemerintah.
Pernyataan Fatimah tentang keselamatan demonstran menambah dimensi lain dalam aksi ini. Kebebasan berpendapat tidak hanya soal menyampaikan suara. Kondisi aman bagi semua pihak di lapangan juga menjadi hal yang penting.
Pada akhirnya, Demo BEM UI Bundaran HI tidak hanya menjadi aksi mahasiswa di Jakarta. Respons pemerintah, aparat, dan masyarakat akan menentukan sejauh mana kritik ini mendapat ruang dalam evaluasi kebijakan dan praktik demokrasi.
Baca juga konten dengan artikel terkait yang membahas tentang lokal
Simak ulasan mendalam lainnya mengenai Praperadilan Febrie Adriansyah Memasuki Titik Panas: Adu Prosedur, Wewenang, dan TPPU
