Ali Khamenei Tewas dalam Serangan AS dan Israel, Media Pemerintah Iran Konfirmasi dengan Air Mata
JAKARTA, incaberita.co.id – Ali Khamenei tewas setelah serangan udara gabungan AS dan Israel menghancurkan kompleks tempat tinggalnya di Teheran, Sabtu 28 Februari 2026. Kabar ini baru dikonfirmasi sehari kemudian lewat siaran televisi negara Iran. Seorang presenter perempuan tampak menangis saat membacakan berita duka itu. Selain itu, pemerintah Iran langsung menetapkan masa berkabung 40 hari penuh. Semua kegiatan publik diliburkan selama satu pekan. Sosok yang sudah memimpin Iran lebih dari tiga dekade itu telah pergi untuk selamanya.
Konfirmasi Resmi Kematian Ali Khamenei oleh Media Iran

Sumber gambar : detik.com
Kabar tewasnya Ali Khamenei sempat jadi bahan perdebatan panas. Presiden AS Donald Trump menjadi pihak pertama yang mengumumkan kematian itu. Ia menulis di platform Truth Social bahwa Khamenei sudah tewas. Selain itu, Trump menyebut Khamenei sebagai salah satu manusia paling jahat sepanjang sejarah.
Di sisi lain, pihak Iran memberi jawaban berbeda. Abbas Araghchi selaku kepala diplomasi Teheran tampil di NBC News. Ia menyangkal seluruh klaim dari Washington. Araghchi mengatakan bahwa pemimpin tertinggi maupun presiden Iran masih hidup. Ia bahkan menyebut kehilangan satu dua komandan militer bukan masalah besar.
Meskipun demikian, bantahan itu tidak bertahan lama. Keesokan harinya, kantor berita Tasnim dan Fars mengonfirmasi bahwa Ali Khamenei tewas. Kedua kantor berita itu dikenal dekat dengan Garda Revolusi Iran. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran juga tampil di layar kaca. Mereka menyampaikan bahwa sang pemimpin gugur saat sedang bekerja di kantornya. Oleh karena itu, Iran menetapkan 40 hari duka nasional dan tujuh hari libur resmi.
Detik Terakhir Ali Khamenei Tewas di Ruang Kerjanya
Menurut kantor berita Fars, Ali Khamenei tewas tepat di ruang kerjanya pada Sabtu pagi. Ia sedang menjalankan tugas saat serangan terjadi. Dengan demikian, kabar bahwa Khamenei sempat kabur ke tempat aman terbukti tidak benar.
Rekaman satelit menunjukkan kerusakan yang sangat parah. Gedung utama di dalam kompleks itu sudah rata dengan tanah. Puing tersebar di area yang sangat luas. Lokasi serangan tepat berada di pusat pemerintahan Iran. Kantor pemimpin tertinggi, gedung parlemen, dan istana presiden semuanya berdekatan di kawasan itu.
Sementara itu, PM Israel Benjamin Netanyahu sudah memberi isyarat lebih dulu pada Sabtu malam. Ia menyatakan bahwa banyak bukti menunjukkan sang pemimpin Iran sudah tiada. Selain itu, Netanyahu menyeru warga Iran untuk turun ke jalan. Ia menyebut momen ini sebagai peluang langka untuk menuntut perubahan total.
Keluarga Ali Khamenei yang Juga Tewas dalam Serangan
Duka keluarga besar Khamenei tidak berhenti pada sang pemimpin. Kantor berita Fars melaporkan empat orang terdekat Khamenei ikut menjadi korban. Oleh karena itu, tragedi ini menjadi pukulan ganda bagi Iran.
Berikut anggota keluarga yang dilaporkan ikut gugur bersama Ali Khamenei:
- Pertama, salah seorang putri kandung Khamenei yang namanya masih dalam proses pengecekan
- Kedua, seorang menantu laki-laki berdasarkan keterangan anggota Dewan Kota Teheran Meysam Mozaffar
- Ketiga, seorang cucu yang diketahui berada di dalam kompleks saat rudal pertama menghantam
- Keempat, seorang menantu perempuan yang kabar kematiannya turut dilaporkan kantor berita Arab
Televisi pemerintah Iran menampilkan tayangan khusus. Foto mendiang Khamenei ditayangkan bersama bacaan ayat suci dan spanduk hitam. Semua program biasa dihentikan. Dengan demikian, tewasnya Ali Khamenei beserta keluarganya disebut sebagai luka paling dalam bagi Iran sejak revolusi 1979.
Petinggi Militer Iran yang Gugur Bersama Ali Khamenei
Dampak serangan jauh melampaui kematian satu pemimpin. Juru bicara militer Israel Effie Defrin mengumumkan bahwa banyak pejabat tinggi Iran turut tewas. Pengumuman itu disampaikan dalam konferensi pers pada Sabtu malam. Akibatnya, rantai komando militer Iran nyaris lumpuh total.
Berikut daftar petinggi Iran yang tewas bersama Ali Khamenei:
- Mohammad Pakpour selaku komandan pasukan darat Garda Revolusi dikonfirmasi tewas oleh juru bicara IDF
- Amir Nasirzadeh yang menjabat Menteri Pertahanan masuk dalam daftar korban yang diumumkan militer Israel
- Ali Shamkhani selaku penasihat langsung pemimpin tertinggi juga tidak selamat dari serangan
- Mohammad Bagheri yang menjabat Kepala Staf Angkatan Bersenjata dilaporkan gugur di gelombang serangan kedua
- Javad Pourhossein beserta tiga komandan intelijen lainnya turut masuk daftar korban militer Iran
- Tiga anggota pasukan paramiliter Basij yang terkait IRGC juga dilaporkan meninggal
Kehilangan sebanyak ini dalam satu waktu belum pernah terjadi di Timur Tengah. Oleh karena itu, Iran kehilangan hampir seluruh pengambil keputusan militernya bersamaan dengan tewasnya Ali Khamenei.
Pernyataan Trump Setelah Ali Khamenei Tewas
Donald Trump langsung mengirim pesan kepada rakyat Iran. Ia mengklaim bahwa kemampuan intelijen AS dan teknologi Israel membuat Khamenei tidak punya celah untuk kabur. Selain itu, Trump menyebut semua pemimpin di sekeliling Khamenei juga tidak mampu berbuat apa-apa.
Trump menyebut tewasnya Ali Khamenei sebagai peluang terbesar bagi rakyat Iran. Menurut Trump, banyak anggota Garda Revolusi dan polisi Iran yang sudah enggan bertempur. Mereka mulai mencari perlindungan hukum dari Washington. Di sisi lain, Trump juga memberi peringatan keras.
Ia menegaskan bahwa pengeboman tepat sasaran tidak akan dihentikan. Operasi akan berlanjut selama seminggu penuh atau sampai semua tujuan tercapai. Dengan demikian, tewasnya Ali Khamenei baru merupakan tahap awal. Operasi besar untuk melumpuhkan seluruh kapasitas nuklir Iran masih akan terus berjalan.
Garda Revolusi Bersumpah Balas Dendam Pasca Ali Khamenei Tewas
Garda Revolusi Iran mengeluarkan pernyataan penuh emosi. IRGC menyatakan bahwa bangsa Iran telah kehilangan pemimpin agung. Seluruh prajurit berduka sangat dalam atas kepergiannya. Selain itu, IRGC menyebut gugurnya Khamenei di tangan musuh justru membuktikan kebenaran perjuangannya.
Ancaman balas dendam yang dilontarkan IRGC sangat serius. Mereka berjanji akan melancarkan serangan paling brutal dalam sejarah perang melawan AS dan Israel. Akibatnya, dunia kini menghadapi ancaman perang yang semakin meluas.
Aksi balasan sudah dimulai dalam hitungan jam setelah Ali Khamenei tewas. Rudal dan drone Iran menyasar Israel sekaligus pangkalan militer AS di lima negara Teluk. Negara yang menjadi target adalah Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, Yordania, dan Kuwait. Oleh karena itu, perang ini sudah menjalar menjadi konflik regional yang melibatkan banyak negara.
Jejak Hidup Ali Khamenei Sebelum Tewas di Usia 86 Tahun
Pria yang tewas dalam serangan itu bernama lengkap Ali Hosseini Khamenei. Ia lahir di Mashhad pada 19 April 1939. Kota itu dianggap suci oleh umat Syiah. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya berprofesi sebagai pengajar agama dan mendidiknya hidup jauh dari kemewahan.
Karier politiknya dimulai jauh sebelum revolusi. Sejak awal 1960-an, Khamenei sudah aktif dalam gerakan perlawanan. Ia bergabung dengan kelompok Imam Khomeini yang ingin menjatuhkan rezim Shah. Akibatnya, Khamenei beberapa kali masuk penjara dan menjalani pengasingan.
Setelah revolusi 1979, Khamenei menjadi presiden selama dua periode. Ia menjabat dari 1981 sampai 1989. Ketika Imam Khomeini wafat, Khamenei naik ke posisi puncak. Ia menjadi Pemimpin Tertinggi kedua dalam sejarah Iran. Selama 36 tahun berkuasa, ia mengubah Garda Revolusi menjadi mesin politik dan ekonomi raksasa.
Meskipun demikian, rekam jejaknya penuh kontroversi. Penindakan keras terhadap protes 2009 dan gelombang demo 2022 menjadi noda hitam. Ali Khamenei tewas di usia 86 tahun dengan meninggalkan warisan yang akan terus diperdebatkan.
Masa Depan Iran Setelah Ali Khamenei Tewas
Tewasnya Ali Khamenei membuka pertanyaan besar. Siapa yang akan menggantikan posisinya? Menurut konstitusi Iran, Majelis Ahli yang berwenang memilih pemimpin baru. Dewan ini terdiri dari 88 ulama terpilih. Secara teori, jalur suksesi sudah jelas.
Meskipun demikian, kondisi di lapangan sangat kacau. Serangan militer masih berlangsung tanpa henti. Sebagian besar jajaran komando sudah tidak ada. Selain itu, komunikasi internal pemerintah kemungkinan besar terganggu. Semua faktor ini membuat pergantian pemimpin menjadi sangat sulit.
Di sisi lain, Reza Pahlavi sudah angkat bicara. Putra mendiang Shah Iran ini berterima kasih kepada Trump. Ia menyerukan agar Iran segera bertransisi menuju sistem demokratis. Sementara itu, Sekretaris Dewan Keamanan Iran Larijani justru memberi ancaman. Ia memperingatkan bahwa Amerika akan mendapat pelajaran yang tidak akan terlupakan.
Dunia kini menyaksikan Iran berdiri di titik paling kritis sepanjang sejarahnya.
Kesimpulan
Ali Khamenei tewas akibat serangan udara gabungan AS dan Israel pada Sabtu 28 Februari 2026. Kompleks tempat tinggal dan kantornya di Teheran hancur oleh puluhan bom. Iran baru mengakui kematiannya keesokan harinya lewat siaran televisi penuh tangisan. Selain itu, empat anggota keluarga dan hampir seluruh petinggi militer Iran turut gugur.
Pada akhirnya, tewasnya Ali Khamenei mengakhiri 36 tahun kekuasaannya atas Iran. Garda Revolusi bersumpah membalas dengan serangan terdahsyat dalam sejarah. Trump menyatakan operasi militer tidak akan berhenti. Apapun yang terjadi selanjutnya, tanggal 28 Februari 2026 akan tercatat sebagai hari yang mengubah segalanya.
Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Global
Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: Israel Serang Iran dengan Serangan Pendahuluan, Ledakan Dahsyat Guncang Pusat Kota Teheran
