Kunjungan Trump Ke China, Beijing dan Washington Cari Jalan Tengah di Tengah Krisis Iran
incaberita.co.id — Kunjungan Trump Ke China menjadi perhatian besar setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump tiba di Beijing untuk kunjungan kenegaraan pertamanya ke negara tersebut. Lawatan ini dianggap penting karena menjadi kunjungan pertama pemimpin AS ke China dalam sembilan tahun terakhir.
Pesawat Air Force One mendarat di Bandara Internasional Beijing Capital pada Rabu (13/5) malam sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Kedatangan Trump disambut secara resmi melalui seremoni karpet merah yang melibatkan pejabat tinggi China, pasukan kehormatan, serta anak-anak pembawa bendera.
Wakil Presiden China Han Zheng hadir menyambut kedatangan Trump di bandara. Penyambutan tersebut memperlihatkan bahwa Beijing memberi perhatian diplomatik besar terhadap kunjungan ini, terutama di tengah situasi hubungan kedua negara yang penuh tekanan.
Agenda utama kunjungan dimulai pada Kamis (14/5) pagi. Trump dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping di Great Hall of the People untuk membahas sejumlah isu strategis yang menyangkut perdagangan, geopolitik, teknologi, hingga perang Iran.
Pertemuan Trump dan Xi Berlangsung di Tengah Tekanan Global
Pertemuan antara Kunjungan Trump Ke China berlangsung ketika hubungan AS-China masih berada dalam fase sensitif. Dua kekuatan ekonomi terbesar dunia itu berupaya menstabilkan hubungan bilateral setelah beberapa tahun diliputi perang tarif, pembatasan teknologi, dan persaingan geopolitik.
Xi disebut memasuki pertemuan dengan posisi yang relatif kuat dibandingkan Trump. Setelah pertemuan keduanya di Korea Selatan tahun lalu, Beijing dinilai berhasil memanfaatkan posisi strategisnya dalam rantai pasok logam tanah jarang untuk menekan Washington.
Di sisi lain, Trump menghadapi tantangan politik domestik akibat perang Iran yang belum sepenuhnya mereda. Mahkamah Agung AS juga disebut telah membatasi ruang gerak pemerintahannya dalam memberlakukan tarif baru terhadap China.
Meski demikian, Trump tetap membawa agenda keras dalam pertemuan tersebut. Ia dan para pejabat pemerintahannya ingin menekan China pada sejumlah isu, mulai dari akses pasar, hambatan perdagangan, hingga peran Beijing dalam dinamika Timur Tengah.
Trump Dorong China Membuka Pasar untuk Perusahaan AS
Salah satu fokus utama Trump dalam pertemuan ini adalah mendorong China membuka akses lebih luas bagi perusahaan-perusahaan Amerika Serikat. Dalam unggahan media sosialnya, Trump menyatakan akan meminta Xi agar China lebih terbuka terhadap pelaku bisnis AS.
Trump membawa sejumlah eksekutif perusahaan besar dalam rombongan kenegaraannya. Ia menyebut para pemimpin bisnis tersebut memiliki kemampuan untuk membantu mendorong pertumbuhan dan inovasi jika diberi ruang lebih besar di pasar China.

Sumber Gambar : Detiknews.com
Permintaan pembukaan pasar itu diperkirakan menjadi salah satu pembahasan pertama dalam pertemuan Trump dan Xi. Isu ini penting karena perusahaan AS selama ini kerap mengeluhkan hambatan regulasi, pembatasan akses, dan persaingan tidak seimbang di China.
AS dan China juga disebutkan sedang mempertimbangkan kerangka kerja baru untuk melonggarkan tarif pada sejumlah produk. Nilai produk yang dibahas diperkirakan mencapai sekitar USD 30 miliar, selama tidak mengganggu kepentingan keamanan nasional kedua pihak.
Perang Iran Membayangi Diplomasi AS-China
Meski Kunjungan Trump Ke China berusaha menempatkan perdagangan sebagai prioritas utama, perang Iran tetap menjadi bayang-bayang besar. Konflik tersebut memengaruhi kalkulasi geopolitik Washington dan membuat hubungan dengan Beijing semakin rumit.
Trump sebelumnya menunjukkan kekecewaan terhadap proposal Iran terkait penghentian program nuklir. Ia menilai Teheran belum memberikan konsesi yang cukup besar, sementara gencatan senjata yang sedang berjalan masih dianggap rapuh.
China memiliki posisi penting karena menjadi salah satu pembeli utama minyak Iran. Hubungan ekonomi tersebut membuat Beijing dipandang sebagai pihak yang memiliki pengaruh terhadap kemampuan Iran mempertahankan ketahanan ekonominya.
Pemerintahan Trump juga telah menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah perusahaan China yang diduga membeli minyak Iran atau menyediakan dukungan berupa citra satelit bagi Teheran. Karena itu, isu Iran hampir pasti menjadi salah satu topik sensitif dalam pembicaraan dua pemimpin.
Delegasi Bisnis AS Bawa Isu Teknologi dan Industri
Kunjungan Trump ke China turut diwarnai kehadiran sejumlah tokoh bisnis besar dari Amerika Serikat. Delegasi tersebut mencakup CEO Tesla Elon Musk, CEO Apple Tim Cook, dan CEO Boeing Kelly Ortberg.
Kehadiran para eksekutif ini memperlihatkan bahwa Washington tidak hanya membawa agenda politik, tetapi juga kepentingan ekonomi dan industri. Sektor pertanian, energi, kedirgantaraan, otomotif, dan teknologi diperkirakan menjadi bagian dari pembahasan bisnis.
Secara mengejutkan, CEO Nvidia Jensen Huang juga ikut dalam rombongan setelah bergabung secara mendadak di Air Force One. Kehadirannya membuat isu kecerdasan buatan, chip, dan teknologi komputasi ikut menonjol dalam kunjungan ini.
Teknologi menjadi salah satu medan persaingan paling tajam antara AS dan China. Karena itu, hadirnya pemimpin perusahaan teknologi besar menambah bobot kunjungan ini, terutama di tengah ketatnya kontrol ekspor dan perebutan dominasi AI global.
Taiwan, Perdagangan, dan Keamanan Jadi Agenda Berat
Selain perdagangan dan Iran, isu Taiwan diperkirakan masuk dalam pembahasan Trump dan Xi. Trump sebelumnya menyatakan akan membicarakan penjualan senjata AS ke Taiwan dengan pemimpin China tersebut.
Menjelang lawatan ke Beijing, Trump disebut menunda paket bantuan senjata senilai USD 14 miliar untuk Taiwan. Keputusan ini memicu kekhawatiran dari sejumlah anggota parlemen AS, baik dari Partai Demokrat maupun Republik.
Selama puluhan tahun, Amerika Serikat biasanya tidak meminta persetujuan Beijing terkait dukungan pertahanan untuk Taiwan. Karena itu, penundaan tersebut dianggap sensitif dan berpotensi memunculkan pertanyaan tentang konsistensi komitmen Washington terhadap Taipei.
Xi sendiri disebut memberi perhatian pribadi terhadap isu Taiwan. Dalam percakapan sebelumnya, ia meminta Trump menangani persoalan tersebut dengan sangat hati-hati karena Beijing memandang Taiwan sebagai salah satu isu inti dalam hubungan China-AS.
Kunjungan Ini Jadi Ujian Besar Hubungan Washington-Beijing
KTT selama 36 jam di Beijing mencakup beberapa agenda simbolis dan strategis. Selain pertemuan resmi, Trump dijadwalkan menghadiri jamuan kenegaraan, mengunjungi Temple of Heaven, serta melakukan pertemuan santai sambil minum teh di kompleks kepemimpinan Zhongnanhai.
Kunjungan tersebut juga menarik perhatian besar di media sosial China. Banyak pengguna internet memantau pergerakan Air Force One, membahas agenda Trump, hingga menyoroti kehadiran tokoh-tokoh bisnis AS dalam rombongan tersebut.
Di luar simbol diplomatik, pertemuan ini menjadi ujian penting bagi masa depan hubungan AS-China. Kedua negara harus mencari jalan tengah di antara persaingan dagang, rivalitas teknologi, kepentingan keamanan, dan konflik Timur Tengah.
Jika pertemuan ini menghasilkan kesepakatan konkret, hubungan Washington dan Beijing berpeluang memasuki fase yang lebih stabil. Namun, jika isu-isu sensitif gagal dikelola, kunjungan ini bisa menjadi babak baru dari ketegangan dua raksasa dunia.
Baca juga konten dengan artikel terkait yang membahas tentang global
Simak ulasan mendalam lainnya mengenai Tuntutan Nadiem Makarim Rp 5,68 Triliun, Eks Mendikbudristek Mengaku Terpukul
