Taktik AS Gencatan Senjata Dinilai Iran Sebagai Cara Mengulur Waktu untuk Serangan Mendadak, Blokade Tetap Jalan
JAKARTA, incaberita.co.id – Taktik AS gencatan senjata kini menjadi tanda tanya besar di mata Iran. Trump tiba-tiba mengumumkan perpanjangan gencatan senjata pada Selasa 21 April 2026 malam, hanya beberapa jam sebelum tenggat berakhir. Namun di saat yang sama, blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran tetap berjalan penuh. Akibatnya, Iran langsung bereaksi keras. Mereka menyebut langkah ini bukan niat damai, melainkan cara mengulur waktu sebelum serangan baru.
Selain itu, Trump mengumumkan perpanjangan ini secara sepihak tanpa koordinasi dengan Teheran. Oleh karena itu, Iran menegaskan mereka tidak pernah meminta perpanjangan tersebut. Mereka pun tidak merasa terikat oleh keputusan Washington yang disampaikan lewat Truth Social itu.
Taktik AS Gencatan Senjata, Trump Umumkan Sepihak di Menit Terakhir

Sumber gambar : news.detik.com
Trump mengumumkan perpanjangan lewat Truth Social pada Selasa 21 April 2026 malam. Ia menyatakan jeda pertempuran akan berlanjut hingga Iran mengajukan proposal nyata. Selain itu, ia menegaskan perundingan harus selesai bagaimanapun caranya.
Namun demikian, Trump menegaskan satu hal yang langsung memicu reaksi keras Iran. Blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran tidak akan dicabut. Ia menulis di Truth Social bahwa militer AS diperintahkan melanjutkan blokade dan tetap siap sepenuhnya.
Selain itu, Trump menyebut alasan perpanjangan ini adalah permintaan Pakistan selaku mediator. Ia juga menggambarkan Iran sebagai pihak yang masih terbagi dalam menyusun proposal. Oleh karena itu, perpanjangan ini ia anggap perlu untuk memberi waktu bagi Teheran.
Iran Tolak dan Sebut Taktik AS Gencatan Senjata Cara Mengulur Waktu
Respons Iran sangat tegas. Penasihat Ketua Parlemen Iran, Mahdi Mohammadi, menyebut perpanjangan sepihak Trump itu tidak berarti apa-apa. Bahkan, ia menyebutnya taktik AS untuk mengulur waktu sebelum serangan mendadak ke Iran.
Selain itu, Mohammadi menegaskan langkah ini harus dibalas dengan aksi militer, bukan lewat meja perundingan. Menurutnya, blokade yang terus berjalan tidak berbeda dengan pemboman. Oleh karena itu, Iran harus merespons dengan kekuatan, bukan negosiasi.
Namun demikian, kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran juga menegaskan bahwa Teheran tidak pernah meminta perpanjangan gencatan senjata. Pernyataan itu langsung membantah klaim Trump yang menyebut langkah ini atas permintaan Pakistan.
Kapal Touska Disita, Ini Bukti Taktik AS Gencatan Senjata di Lapangan
Di tengah debat soal taktik AS gencatan senjata, insiden kapal Touska menjadi bukti nyata tekanan tidak mereda. Pada Minggu 19 April 2026, kapal perusak USS Spruance mencegat kapal kargo Iran bernama Touska di Teluk Oman.
Touska berlayar dari Malaysia menuju Bandar Abbas, Iran. Kapal itu diduga mencoba menembus blokade AS. Setelah awak kapal mengabaikan peringatan selama enam jam, AS bertindak keras. Ruang mesin kapal dilubangi secara paksa. Kemudian, pasukan marinir AS naik ke dek dan menguasai kapal.
Trump membenarkan insiden ini lewat Truth Social. Ia menyebut Touska mencoba menembus blokade dan hasilnya tidak baik bagi mereka. Selain itu, CENTCOM mengonfirmasi kapal itu kena sanksi Kementerian Keuangan AS karena aktivitas ilegal.
Akibatnya, Iran marah besar. Militer Iran menyebut penyitaan Touska sebagai pembajakan laut dan pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata. Oleh karena itu, mereka memperingatkan akan segera membalas tindakan AS tersebut.
Taktik AS Gencatan Senjata di Lapangan, 28 Kapal Iran Dipaksa Putar Balik
Insiden Touska bukan satu-satunya dampak nyata. CENTCOM juga mengungkap data skala besar operasi blokade ini. Sejak blokade resmi dimulai 13 April 2026, pasukan AS sudah memaksa 28 kapal berbalik arah atau kembali ke pelabuhan Iran.
Angka itu menunjukkan blokade bukan sekadar gertakan. Ini adalah operasi militer aktif yang terus berjalan. Di sisi lain, Iran juga masih menutup Selat Hormuz sejak konflik pecah 28 Februari 2026. Akibatnya, kebuntuan maritim ini menekan ekonomi global. Jalur yang biasanya mengalirkan 20 persen minyak dunia kini menjadi arena konfrontasi.
Taktik AS Gencatan Senjata Disertai Ancaman Hancurkan Infrastruktur Sipil Iran
Di balik pengumuman gencatan senjata, Trump juga tidak melepas tekanan verbal. Sebelum mengumumkan perpanjangan, ia sudah mengeluarkan ancaman keras kepada Iran.
Trump menyatakan jika Iran menolak proposal yang ia anggap adil, AS siap menghancurkan setiap pembangkit listrik dan jembatan di Iran. Ancaman seperti ini langsung mendapat perhatian luas dari komunitas internasional.
Selain itu, Trump menuduh Iran melanggar gencatan senjata dengan melakukan tembakan di Selat Hormuz pada Sabtu 18 April 2026. Oleh karena itu, narasi perpanjangan gencatan senjata ini bukan soal kepercayaan. Melainkan soal persiapan langkah berikutnya dari Washington.
Lima Titik Sengketa di Balik Taktik AS Gencatan Senjata yang Belum Menemukan Jalan
Kegagalan negosiasi Islamabad 11-12 April 2026 bukan soal taktik di meja saja. Ada lima titik sengketa mendasar yang belum satupun menemukan titik temu.
Pertama, program nuklir Iran. Washington menuntut Iran berhenti total mengayakan uranium. Selain itu, AS menuntut penyerahan sekitar 400 kilogram uranium yang sudah diperkaya tinggi. Iran menolak karena menganggap ini hak kedaulatan mereka.
Kedua, status Selat Hormuz. Iran ingin tetap memegang kendali jalur itu sebagai kartu tawar. Namun demikian, AS menuntut kebebasan berlayar penuh tanpa campur tangan IRGC.
Ketiga, blokade pelabuhan Iran. Iran menuntut blokade dicabut sebelum mau berunding lagi. Sebaliknya, AS menolak mencabut blokade sebelum ada kesepakatan final.
Keempat, situasi Lebanon. Iran bersikeras Lebanon harus masuk dalam paket kesepakatan. Sementara itu, AS tidak mau mencampur dua isu yang berbeda.
Kelima, kepercayaan yang sudah hancur. Baik AS maupun Iran saling tidak percaya. Akibatnya, setiap tindakan di lapangan seperti penyitaan kapal Touska hanya memperburuk jurang ketidakpercayaan yang sudah sangat dalam.
Penutup: Gencatan Senjata Tanpa Kepercayaan Adalah Jeda, Bukan Damai
Taktik AS gencatan senjata yang dijalankan Trump memang berhasil menghindari pecahnya perang kembali, setidaknya untuk saat ini. Namun demikian, perpanjangan sepihak yang dibarengi blokade aktif dan penyitaan kapal itu mengirim pesan yang membingungkan ke Teheran.
Iran membaca semua sinyal itu dengan logika keamanan mereka sendiri. Kesimpulannya adalah ketidakpercayaan. Oleh karena itu, selama kedua pihak belum menemukan cara membangun kepercayaan minimal di lapangan, setiap gencatan senjata hanyalah jeda. Bukan damai. Dan setiap jeda yang berakhir hanya membawa dunia selangkah lebih dekat ke babak konflik berikutnya.
Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Global
Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: Peringatan Tsunami di Jepang Dikeluarkan Setelah Gempa M7,7 Guncang Iwate, Warga Pesisir Didesak Segera Evakuasi
