Harga Minyak Anjlok 3 Persen Setelah Israel-Lebanon Sepakat Gencatan Senjata, Pasar Taruh Harapan Besar pada Pembukaan Selat Hormuz
JAKARTA, incaberita.co.id – Harga minyak anjlok 3 persen pada perdagangan Kamis 4 Juni 2026, menutup sesi dengan penurunan tajam yang langsung terasa di seluruh pasar energi global. Minyak mentah jenis WTI atau West Texas Intermediate turun 2,98 dolar AS atau 3,1 persen ke level 93,04 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak Brent yang menjadi acuan internasional juga melemah signifikan ke kisaran 94 hingga 96 dolar AS per barel.
Pemicu utama harga minyak anjlok 3 persen ini adalah kabar gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang diumumkan pada Rabu malam 3 Juni 2026. Kesepakatan itu langsung memupuk harapan besar di kalangan investor bahwa konflik lebih luas antara AS-Israel dan Iran bisa segera menemukan jalan keluarnya, yang pada akhirnya membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal tanker minyak dunia.
Harga Minyak Anjlok 3 Persen, Ini Pemicunya

Sumber gambar : money.kompas.com
Gencatan senjata Israel-Lebanon bukan sekadar berita perang biasa bagi pasar minyak. Iran selama ini mensyaratkan penghentian pertempuran antara Israel dan Hizbullah sebagai salah satu prasyarat utama sebelum mau kembali ke meja perundingan dengan Washington. Oleh karena itu, begitu Israel dan Lebanon mengumumkan kesepakatan gencatan senjata, pasar langsung membaca ini sebagai sinyal positif yang membuka jalan bagi negosiasi AS-Iran untuk kembali bergulir.
Analis pasar dari IG, Tony Sycamore, menjelaskan bahwa harga minyak memang sangat sensitif terhadap setiap perkembangan di Timur Tengah. Mitra Again Capital, John Kilduff, melihat pergeseran besar dalam cara pasar membaca situasi ini. Menurutnya investor kini jauh lebih tertarik pada kemungkinan perang berakhir ketimbang terus menghitung berapa besar gangguan yang mungkin terjadi pada rantai pasokan. Gencatan senjata Israel-Lebanon menurutnya sudah cukup untuk mengguncang fondasi yang selama ini menopang kenaikan harga minyak.
Selain itu, Senior Vice President Trading BOK Financial Dennis Kissler mencatat bahwa meski lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz masih hampir terhenti, sudah ada tanda-tanda pergerakan kapal yang lebih dekat ke kawasan Teluk Persia. Ini bisa menjadi pertanda pembukaan Selat Hormuz lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.
Dari Puncak USD 111 ke USD 93, Ini Perjalanan Harga Minyak dalam 2 Pekan
Untuk memahami betapa dramatisnya pergerakan harga minyak belakangan ini, perlu dilihat konteks dua pekan terakhir. Pada 19 Mei 2026, harga Brent sempat melambung hingga menyentuh USD 111,28 per barel. Pada hari yang sama, WTI juga mencapai puncaknya di level USD 107,77 per barel. Angka-angka itu mencerminkan betapa parahnya kepanikan pasar saat eskalasi konflik Timur Tengah mencapai titik tertingginya.
Namun dalam waktu kurang dari dua pekan, seluruh kenaikan itu berbalik arah. Harga Brent anjlok hampir 17 persen dari puncaknya. WTI bahkan turun lebih dalam hingga melampaui 18 persen. Koreksi tajam ini adalah yang paling besar sejak awal pandemi COVID-19 pada Maret 2020 silam ketika ekonomi global sempat terhenti.
Penurunan harga minyak anjlok 3 persen pada 4 Juni ini merupakan kelanjutan dari tren negatif yang sudah berjalan selama beberapa hari terakhir. Secara kumulatif, harga minyak mentah sudah merosot lebih dari 8 persen dalam sepekan terakhir. Ini mencerminkan perubahan arah sentimen pasar yang sangat cepat seiring bergesernya narasi dari eskalasi perang menuju harapan damai.
Selat Hormuz Masih Tertutup, Pasar Belum Benar-benar Lega
Meski harga minyak anjlok 3 persen mencerminkan optimisme pasar, para analis mengingatkan bahwa kegembiraan ini masih terlalu dini. Selat Hormuz, jalur yang biasanya mengalirkan sekitar 20 persen dari seluruh pengiriman minyak global, masih dalam kondisi hampir terhenti. Iran belum membuka kembali jalur itu secara resmi.
Selain itu, Badan Energi Internasional atau IEA sudah memperingatkan bahwa cadangan energi global bisa mencapai titik berbahaya tepat saat kebutuhan puncak musim panas tiba jika laju pengurasan stok tidak melambat. Ini berarti meski harga turun hari ini, tekanan fundamental di pasar energi belum benar-benar hilang.
Data dari Badan Informasi Energi AS atau EIA memperkuat kekhawatiran itu. Stok minyak mentah AS pada pekan yang berakhir 29 Mei 2026 menyusut 8 juta barel menjadi 433,7 juta barel. Penyusutan itu dua kali lebih besar dari perkiraan analis yang hanya menduga sekitar 4 juta barel. Dengan cadangan yang terkuras jauh lebih cepat dari ekspektasi, potensi lonjakan harga kembali masih sangat terbuka lebar jika negosiasi AS-Iran buntu lagi.
Dampak Perang terhadap Produksi Minyak Global
Harga minyak anjlok 3 persen hari ini tidak mengubah fakta bahwa perang AS-Israel versus Iran telah memukul pasokan energi global dengan sangat keras. IMF mencatat bahwa konflik ini berhasil memangkas kapasitas produksi minyak dunia sekitar 14 juta barel setiap harinya. Angka itu setara dengan sekitar 14 persen dari total kebutuhan minyak dunia.
Sejak perang dimulai, Iran menutup akses kapal-kapal asing di kawasan Teluk secara nyaris total. Dampaknya langsung terasa: jalur distribusi yang biasanya mengalirkan miliaran dolar energi ke seluruh penjuru dunia terhenti. Harga-harga energi melonjak sangat tajam dalam beberapa bulan pertama konflik.
Korban ekonominya pun nyata. Fitch Ratings memangkas outlook pertumbuhan global 2026 sebesar 0,2 poin menjadi 2,4 persen dengan menyebut krisis energi sebagai penyebab utama. IMF juga menyoroti bahwa harga minyak yang berlaku saat ini masih melampaui asumsi dasar yang mereka pakai untuk proyeksi pertumbuhan April. IEA menambahkan bahwa cadangan global diperkirakan akan terus menyusut memasuki kuartal ketiga dan tekanan harga ke atas belum sepenuhnya hilang.
Kongres AS Setujui RUU Hentikan Perang Iran
Di saat yang sama, Washington juga bergolak dari dalam. Kongres AS mengambil langkah bersejarah dengan meloloskan regulasi yang secara resmi mendorong penghentian operasi militer di Iran. Suaranya tipis — 215 mendukung berbanding 208 menolak. Tapi cukup untuk menjadi sinyal politik yang kuat.
Keputusan itu mempersempit ruang gerak Trump untuk terus mempertahankan tekanan militer. Di sisi lain, upaya diplomatik masih menghadapi jalan berliku. Trump sebelumnya menyiratkan bahwa negosiasi bisa mencapai titik terang lebih cepat dari perkiraan. Namun sinyal dari Teheran masih sangat campuraduk. Para pejabat Iran menegaskan jalur komunikasi dengan Washington belum putus, tapi mereka juga belum memberi tanda-tanda akan menerima tawaran apapun dalam waktu dekat.
Harga Minyak Anjlok 3 Persen, Dampaknya ke Indonesia
Penurunan harga minyak dunia memberikan dampak ganda bagi Indonesia. Dari sisi positif, harga minyak yang lebih rendah berarti beban subsidi energi pemerintah berpotensi berkurang. Selain itu, biaya produksi industri yang bergantung pada bahan bakar minyak juga bisa sedikit turun.
Namun demikian, Indonesia sebagai negara dengan sektor hulu migas yang masih aktif juga merasakan dampak dari sisi penerimaan. Harga minyak yang lebih rendah berarti pendapatan dari sektor migas untuk APBN juga ikut tertekan. Oleh karena itu, stabilisasi harga di level moderat adalah skenario yang paling menguntungkan bagi keseimbangan fiskal Indonesia.
Penutup: Harapan Besar tapi Ketidakpastian Masih Tinggi
Harga minyak anjlok 3 persen pada 4 Juni 2026 adalah sinyal kuat bahwa pasar percaya gencatan senjata Israel-Lebanon bisa menjadi batu loncatan menuju perdamaian yang lebih luas. Tapi keyakinan itu masih rapuh. Selat Hormuz belum dibuka. Iran belum memberi sinyal positif yang konkret. Dan cadangan minyak global terus menyusut.
Dalam beberapa hari ke depan, semua mata di pasar energi global akan tertuju pada satu pertanyaan: apakah gencatan senjata Israel-Lebanon bisa benar-benar memulai proses yang akhirnya membuka kembali Selat Hormuz? Jika ya, penurunan harga minyak bisa berlanjut lebih dalam. Jika tidak, harga bisa dengan cepat kembali naik ke level yang mengkhawatirkan.
Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Global
Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: Zelensky Kirim Surat ke Putin Sepanjang 1.800 Kata, Usul Pertemuan Tatap Muka dan Gencatan Senjata Penuh Selama Negosiasi
