April 17, 2026

INCABERITA

Jelajahi Kabar Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini.

AS Resmi Blokade Selat Hormuz Mulai Hari Ini, Trump Tuduh Iran Lakukan Pemerasan dan Perintahkan Buru Kapal Pelanggar

JAKARTA, incaberita.co.id – AS resmi blokade Selat Hormuz mulai hari ini, Senin 13 April 2026, setelah Trump mengeluarkan perintah langsung kepada Angkatan Laut AS untuk menghentikan semua lalu lintas kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran. Keputusan ini diambil hanya beberapa jam setelah perundingan damai antara AS dan Iran di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan pada Sabtu 11 April 2026.

Langkah ini menandai eskalasi paling serius dalam konflik AS-Iran sejak perang pecah pada 28 Februari 2026. Bukan hanya soal militer, blokade Selat Hormuz oleh AS kini langsung berbenturan dengan blokade serupa yang sudah lebih dulu diterapkan Iran. Dua kekuatan besar kini saling kunci di jalur laut yang menghidupi seperlima pasokan energi dunia.

AS Resmi Blokade Selat Hormuz, Ini Isi Perintah Trump

AS Resmi Blokade Selat Hormuz Mulai Hari Ini, Trump Tuduh Iran Lakukan Pemerasan dan Perintahkan Buru Kapal Pelanggar

Sumber gambar : internasional.kompas.com

Sabtu malam 12 April 2026, Trump membuka aplikasi Truth Social dan mengetik perintah yang langsung mengguncang pasar energi global. Ia menyatakan pasukan lautnya akan segera bergerak memblokade jalur masuk dan keluar kawasan Teluk yang selama ini dikuasai Iran. Bukan sekadar ancaman, ini adalah perintah operasional yang berlaku efektif.

CENTCOM kemudian memperinci implementasinya. Blokade mulai berlaku Senin 13 April 2026 pukul 10 pagi waktu AS. Namun ada perbedaan penting antara pernyataan Trump dan posisi militernya. CENTCOM menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan ditutup total. Sasaran blokade adalah kapal-kapal yang hendak berlabuh atau bertolak dari pelabuhan milik Iran. Kapal dari negara lain yang tidak menuju Iran tetap bebas melintas.

Meski demikian, dampaknya tetap luar biasa luas. Setiap kapal dari negara manapun, termasuk China, India, dan Rusia, yang berniat berdagang dengan pelabuhan Iran akan langsung terkena pembatasan ini. CENTCOM menegaskan kebijakan diterapkan tanpa pandang bulu terhadap bendera negara manapun.

Mengapa Negosiasi AS-Iran di Pakistan Gagal

Kegagalan di Islamabad bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Selama berhari-hari, kedua delegasi duduk bersama dan membahas berbagai poin. Banyak yang berhasil diselesaikan. Tapi satu topik tetap menjadi dinding beton yang tidak bisa ditembus oleh negosiasi sepanjang apapun: nuklir Iran.

Washington datang dengan satu tuntutan yang tidak bisa ditawar yaitu Iran harus berhenti sepenuhnya dari semua aktivitas pengayaan uranium. Bagi Iran, ini bukan sekadar soal teknis militer. Ini menyentuh prinsip kedaulatan yang sudah lama mereka pertahankan. Teheran menolak mentah-mentah dan menyebut tuntutan itu tidak berdasar secara hukum internasional.

Versi Iran bahkan lebih pedas. Mereka mengklaim kesepakatan sudah hampir di tangan, tapi AS tiba-tiba mengubah posisinya di detik-detik terakhir. Manuver itulah yang menurut Teheran sengaja dirancang untuk menjatuhkan perundingan. Gencatan senjata dua pekan yang sudah terbentuk pun kini berada di tepi jurang. Blokade Trump adalah sinyal bahwa Washington memilih tekanan maksimum daripada kompromi.

Trump Tuduh Iran Lakukan Pemerasan di Selat Hormuz

Dalam pernyataannya pasca-gagalnya negosiasi, Trump menggunakan kata yang sangat keras untuk menggambarkan tindakan Iran di Selat Hormuz. Ia menyebut Iran melakukan pemerasan terhadap kapal-kapal dagang internasional.

Dasar tuduhan Trump ini mengacu pada praktik yang sudah berlangsung sejak Iran menguasai akses Selat Hormuz. Iran dilaporkan telah membatasi jumlah kapal yang boleh melintas hanya 12 unit per hari. Setiap kapal wajib bernegosiasi terlebih dahulu dengan Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC sebelum mendapat izin. Tarifnya pun mencapai Rp34 miliar per tanker. Yang lebih mengejutkan, Iran meminta pembayaran dalam bentuk mata uang kripto atau yuan China karena sanksi AS dan Eropa telah memutus Iran dari sistem keuangan global.

Trump juga memerintahkan AL AS untuk memburu dan mencegat kapal-kapal di perairan internasional yang sudah terlanjur membayar Iran biaya transit tersebut. Selain itu, pasukan AS akan mulai membersihkan ranjau yang menurut Trump telah ditempatkan Iran di jalur selat.

AS Resmi Blokade Selat Hormuz, Inggris Langsung Menolak Ikut

Trump mengklaim dalam wawancara dengan Fox News bahwa banyak negara siap membantu AS dalam blokade ini. Ia menyebut negara-negara Teluk sudah menyatakan kesediaan untuk berpartisipasi, meski tanpa menyebut nama spesifik.

Realitanya berbeda. London adalah yang pertama angkat tangan dan berkata tidak. Pejabat Inggris menegaskan bahwa armada militer dan personel tempurnya tidak akan dilibatkan dalam upaya memblokir akses ke pelabuhan Iran. Inggris membedakan diri dengan tetap menjalankan operasi penyapuan ranjau dan sistem pertahanan drone di kawasan tersebut, tapi bukan sebagai bagian dari blokade Trump.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menekankan perlunya koalisi yang lebih luas untuk melindungi kebebasan navigasi. London bahkan menyatakan sedang bekerja sama dengan Prancis dan mitra lainnya untuk membentuk koalisi alternatif yang fokus pada kebebasan navigasi, bukan pada blokade sepihak terhadap Iran.

Sikap Inggris ini mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas di kalangan sekutu AS. Banyak yang khawatir blokade ini justru akan memperparah krisis energi global dan mempersempit ruang diplomasi yang tersisa.

Iran Tidak Gentar, IRGC Siapkan Perlawanan Keras

Di Teheran, kabar blokade AS tidak disambut dengan kepanikan. IRGC langsung mengeluarkan peringatan militer yang tegas. Siapapun yang mengirim kapal perang ke kawasan Selat Hormuz akan berhadapan dengan respons bersenjata yang tidak main-main. Iran tidak berniat menyerahkan kendali atas jalur air yang selama ini mereka anggap sebagai wilayah kedaulatan mereka.

Sementara IRGC bicara dengan bahasa senjata, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf memilih perang urat saraf. Ia menyampaikan pesan yang ditujukan bukan kepada pemerintah AS, melainkan langsung kepada rakyat biasa Amerika. Pesannya sederhana dan menusuk: warga AS sebaiknya menikmati harga di pompa bensin hari ini, karena harga itu tidak akan bertahan lama.

Ancaman itu punya konteks yang nyata. Sebelum perang pecah, rata-rata harga bensin di AS berada di kisaran hampir 3 dolar per galon. Kini angkanya sudah melewati 4,1 dolar per galon, naik lebih dari 40 persen. Jika blokade memperparah situasi dan konflik terus membara, pompa bensin di seluruh Amerika bisa menjadi salah satu medan pertempuran ekonomi yang paling dirasakan langsung oleh rakyatnya.

Rusia dan China Perkuat Posisi Iran di PBB

Di arena diplomatik internasional, posisi Iran justru semakin dikuatkan oleh dua kekuatan besar. Rusia dan China menggunakan hak veto mereka di Dewan Keamanan PBB pada 7 April 2026 untuk menggagalkan resolusi yang bertujuan melindungi pelayaran komersial di Selat Hormuz.

Resolusi yang diajukan Bahrain dan didukung 11 dari 15 anggota DK PBB itu kandas karena Moskow dan Beijing menilai rancangan teksnya terlalu memojokkan Iran dan tidak mencerminkan konteks perang yang sebenarnya. Veto ganda ini secara praktis menutup jalur multilateral untuk menyelesaikan krisis Selat Hormuz melalui mekanisme PBB.

Dengan Rusia dan China di belakang Iran, posisi AS dalam blokade ini semakin terisolasi secara diplomatik. Tekanan militer boleh jadi meningkat, tapi legitimasi internasional untuk tindakan AS terus melemah.

Dampak Blokade AS di Selat Hormuz bagi Ekonomi Global

Begitu Trump mengumumkan blokade, pasar energi langsung bereaksi. Harga minyak Brent melonjak di atas USD 100 per barel saat pasar dibuka pada Minggu 12 April 2026 malam. Ini adalah respons instan yang menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap setiap perkembangan di Selat Hormuz.

Dampak yang lebih luas diprediksi para analis akan jauh lebih besar. Berikut gambaran risiko ekonomi global dari blokade ini:

  1. Harga minyak berpotensi menembus USD 130 hingga 150 per barel jika blokade berlangsung lebih dari dua minggu
  2. Negara-negara Asia Tenggara yang bergantung pada impor minyak Timur Tengah akan kembali tertekan
  3. Filipina yang sudah darurat energi bisa semakin parah jika pasokan alternatif tidak segera ditemukan
  4. Inflasi global akan kembali naik seiring lonjakan harga energi dan biaya logistik
  5. Industri penerbangan yang sudah tertekan krisis avtur bisa menghadapi pemangkasan rute yang lebih besar
  6. Dua kapal tanker Pertamina yang masih tertahan di Teluk berpotensi semakin sulit mendapat izin keluar

Pertaruhan Besar Trump: Antara Tekanan Efektif atau Eskalasi Berbahaya

Blokade Selat Hormuz adalah kartu trump yang selama ini dipegang Washington. Sekarang kartu itu sudah dimainkan. Pertanyaannya: apakah ini akan berhasil memaksa Iran kembali ke meja perundingan dengan syarat yang lebih baik, atau justru membuka kotak pandora eskalasi yang lebih berbahaya?

Para pendukung langkah ini berpendapat bahwa memutus pendapatan minyak Iran adalah cara paling efektif untuk melemahkan rezim tanpa perlu mengirim pasukan darat. Ini juga adalah taktik yang pernah Trump gunakan terhadap Venezuela dengan hasil yang cukup signifikan.

Namun para pengkritiknya memperingatkan bahwa situasi Iran jauh lebih kompleks. Iran bukan Venezuela. Teheran memiliki kapasitas militer yang jauh lebih besar, dukungan Rusia dan China yang solid, dan posisi geografis yang memungkinkan mereka untuk menyerang balik secara langsung di Selat Hormuz.

Satu hal yang pasti: dengan AS resmi blokade Selat Hormuz dan IRGC menyiapkan perlawanan, jalur yang sudah menjadi titik paling berbahaya di dunia kini makin mendekati titik didihnya. Dunia menahan napas menunggu langkah berikutnya dari Washington dan Teheran.

Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Global

Author

Copyright @ 2026 Incaberita. All right reserved