August 23, 2026

INCABERITA

Jelajahi Kabar Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini.

Update Kebakaran Kalimantan: Titik Panas Mulai Turun tetapi Ancaman Karhutla Belum Berakhir

Kabut Asap Sempat Selimuti Sejumlah Wilayah, Update Kebakaran Kalimantan Kini Menunjukkan Kondisi Mulai Membaik

KALIMANTAN, incaberita.co.id – Update Kebakaran Kalimantan kembali menjadi perhatian setelah kebakaran hutan dan lahan atau karhutla meluas di sejumlah wilayah pada pertengahan Agustus 2026. Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan menjadi tiga daerah yang mendapatkan perhatian khusus setelah terjadi lonjakan titik panas sekaligus munculnya kabut asap yang mengganggu jarak pandang.

Perkembangan terbaru menunjukkan kondisi mulai membaik dibandingkan puncak peningkatan hotspot pada 19 Agustus. Kementerian Kehutanan mencatat jumlah titik panas nasional turun dari 2.170 titik pada 19 Agustus menjadi 950 titik pada 20 Agustus 2026 atau berkurang sekitar 56,2 persen. Penurunan yang sangat besar terjadi di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Meski demikian, pemerintah menegaskan operasi pengendalian belum dapat dikurangi. Kondisi cuaca kering, El Niño yang kuat, rendahnya curah hujan, serta kebakaran di lahan gambut membuat api berpotensi muncul kembali apabila pengawasan dihentikan terlalu cepat. Sebanyak 12.880 personel gabungan masih terlibat dalam operasi penanganan karhutla di Kalimantan.

Update Kebakaran Kalimantan setelah Hotspot Sempat Melonjak Tajam

Update Kebakaran Kalimantan: Titik Panas Mulai Turun tetapi Ancaman Karhutla Belum Berakhir

Sumber gambar : liputan6.com

Situasi memburuk pada 19 Agustus ketika pemantauan Sistem Pemantauan Karhutla atau SiPongi mendeteksi lonjakan titik panas berkepercayaan tinggi di tiga provinsi utama.

Kementerian Kehutanan mencatat:

  • Kalimantan Barat sebanyak 259 hotspot berkepercayaan tinggi.
  • Kalimantan Tengah sebanyak 242 hotspot.
  • Kalimantan Selatan sebanyak 17 hotspot.
  • Total ketiganya mencapai 518 hotspot hanya pada 19 Agustus 2026.

Angka tersebut lebih dari empat kali lipat dibandingkan jumlah sehari sebelumnya yang mencapai 109 titik.

Jika dihitung pada periode 17–19 Agustus, total hotspot berkepercayaan tinggi mencapai 750 titik, terdiri atas 367 titik di Kalimantan Barat, 343 titik di Kalimantan Tengah, dan 40 titik di Kalimantan Selatan.

Namun, istilah hotspot perlu dipahami secara tepat. Satu hotspot tidak otomatis berarti satu kejadian kebakaran. Sebuah kebakaran luas dapat menghasilkan beberapa titik panas yang terdeteksi satelit. Karena itu, setiap data satelit tetap membutuhkan pemeriksaan langsung di lapangan.

Hotspot Mulai Menurun pada 20 Agustus

Perkembangan terbaru memberikan tanda perbaikan. Data SiPongi menunjukkan jumlah hotspot nasional turun menjadi 950 titik pada 20 Agustus.

Kalimantan Barat mengalami penurunan paling tajam, dari 784 hotspot kategori menengah dan tinggi pada 19 Agustus menjadi hanya 82 titik sehari kemudian. Artinya, penurunan mencapai 702 titik hanya dalam waktu satu hari.

Penurunan tersebut merupakan perkembangan positif, tetapi belum bisa ditafsirkan bahwa seluruh kebakaran sudah padam.

Hotspot dapat berubah sangat cepat karena dipengaruhi:

  • hujan lokal;
  • kelembapan udara;
  • arah dan kecepatan angin;
  • kondisi vegetasi;
  • aktivitas pembukaan lahan;
  • efektivitas pemadaman.

Karena itu, Update Kebakaran Kalimantan masih perlu dipantau dari hari ke hari.

Kabut Asap Sempat Ganggu Jarak Pandang

Dampak karhutla tidak hanya terlihat dari api dan lahan terbakar. Kabut asap telah memengaruhi jarak pandang di sejumlah wilayah.

Pada 19 Agustus, BMKG mencatat jarak pandang di Bandara Supadio, Pontianak, sekitar 1,2 kilometer dalam kondisi berasap. Di Palangka Raya, jarak pandang sekitar 3 kilometer. Situasi yang lebih berat sempat terjadi di Bandara Internasional Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan, ketika jarak pandang turun hingga sekitar 400 meter.

Pada 20 Agustus, kondisi mulai membaik. Jarak pandang di Bandara Supadio naik menjadi sekitar 4 kilometer, sedangkan Bandara Tjilik Riwut di Palangka Raya sekitar 6 kilometer. Di sejumlah lokasi Banjarbaru, jarak pandang kembali lebih dari 10 kilometer.

Kementerian Perhubungan tetap memantau dampak asap terhadap penerbangan. Operator maskapai dapat menunda, mengalihkan, atau membatalkan penerbangan apabila jarak pandang berada di bawah batas keselamatan operasional.

12.880 Personel Dikerahkan Tangani Karhutla

Pemerintah mengerahkan operasi besar untuk mengendalikan Update Kebakaran Kalimantan.

Sebanyak 12.880 personel gabungan telah terlibat dalam operasi yang pada 21 Agustus memasuki hari ke-48. Personel berasal dari Manggala Agni, TNI, Polri, BNPB, BPBD, pemerintah daerah, Masyarakat Peduli Api, relawan, pelaku usaha, hingga masyarakat.

Dari jumlah tersebut, Kementerian Kehutanan mengerahkan 758 personel Manggala Agni, yakni:

  • 265 personel di Kalimantan Barat.
  • 208 personel di Kalimantan Tengah.
  • 174 personel di Kalimantan Selatan.
  • 111 personel di Kalimantan Timur.

Operasi lapangan mencakup patroli, pemeriksaan hotspot, pemadaman langsung, pembasahan, pendinginan, penyekatan lokasi kebakaran, dan penjagaan area yang berpotensi kembali terbakar.

Kalimantan Tengah Hadapi Risiko Kebakaran Gambut

Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah yang mendapatkan perhatian khusus karena banyak kebakaran terjadi di kawasan gambut.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meninjau Camp Peat Tumbang Nusa di Kabupaten Pulang Pisau pada 19 Agustus. Saat peninjauan, alat pemantau menunjukkan tinggi muka air gambut sekitar minus 0,99 meter. Kondisi tersebut jauh lebih rendah dari level ideal di atas minus 0,4 meter dan menunjukkan gambut dalam kondisi rawan terbakar.

Kebakaran gambut lebih sulit ditangani dibanding kebakaran permukaan biasa karena api dapat merambat di bawah lapisan tanah.

Api juga dapat kembali muncul meskipun permukaan terlihat sudah padam. Karena itu, petugas harus melakukan pembasahan dan pendinginan dalam waktu lebih lama.

Operasi Modifikasi Cuaca Dijalankan

Selain pemadaman darat, pemerintah memanfaatkan Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC untuk meningkatkan peluang hujan di wilayah rawan.

Di Kalimantan Barat, OMC telah berlangsung pada 13–17 Agustus 2026 dengan sembilan sorti penerbangan. Pemerintah memperkirakan volume curah hujan yang dihasilkan di wilayah penyemaian mencapai sekitar 10,92 juta meter kubik.

Peluang OMC lanjutan di Kalimantan Barat tersedia pada 23–27 Agustus apabila kondisi awan memungkinkan.

Sementara di Kalimantan Tengah, OMC dilakukan dalam dua periode, yakni 27 Juli–4 Agustus dan 11–15 Agustus dengan total 13 sorti penerbangan. Estimasi curah hujan yang dihasilkan mencapai sekitar 4,8 juta meter kubik.

Namun, peluang modifikasi cuaca di Kalimantan Tengah dalam waktu dekat lebih terbatas karena pertumbuhan awan hujan diperkirakan rendah hingga akhir Agustus.

El Niño Memperbesar Ancaman Kebakaran

Kondisi iklim menjadi faktor penting dalam perkembangan karhutla tahun ini.

Kementerian Kehutanan menyebut sebanyak 535 Zona Musim atau sekitar 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Sekitar 90,79 persen wilayah mengalami curah hujan rendah, sementara 87,28 persen wilayah berada dalam kondisi hujan bawah normal.

El Niño juga telah mencapai intensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole berada pada fase positif. Kedua fenomena tersebut mendukung kondisi yang lebih kering dan meningkatkan risiko kekeringan maupun kebakaran.

Situasi itulah yang membuat penurunan hotspot dalam satu atau dua hari belum cukup menjadi alasan untuk menghentikan operasi.

Kalimantan Selatan Juga Menghadapi Kebakaran

Karhutla di Kalimantan Selatan turut menimbulkan dampak di tingkat kabupaten.

Di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, misalnya, BPBD mencatat 44 kejadian karhutla dengan total area terdampak sekitar 77,78 hektare selama 19 Juli hingga 19 Agustus 2026. Kebakaran tersebar di beberapa kecamatan dan mencakup semak belukar, hutan, lahan rumbia, serta kebun.

Medan sulit menjadi salah satu kendala pemadaman. Beberapa titik tidak dapat langsung dijangkau sehingga petugas harus mencari jalur alternatif untuk mendekati sumber api.

Kabut asap juga memunculkan kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat, terutama karena wilayah tersebut mencatat kasus infeksi saluran pernapasan.

Kalimantan Utara Juga Mengalami Karhutla

Kebakaran tidak hanya terjadi di Kalimantan Barat, Tengah, dan Selatan.

BNPB sebelumnya mencatat karhutla di Desa Apung, Kecamatan Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, pada 13 Agustus. Kebakaran tersebut menghanguskan sekitar empat hektare lahan. Dugaan awal berdasarkan keterangan warga mengarah pada aktivitas pembakaran untuk membuka lahan pembangunan rumah.

Penyebab setiap kebakaran tetap perlu ditentukan melalui pemeriksaan petugas.

Tidak tepat menyimpulkan seluruh karhutla di Kalimantan berasal dari penyebab yang sama.

Pemerintah Periksa Perusahaan Kehutanan

Di Kalimantan Barat, Kementerian Kehutanan juga meningkatkan pengawasan terhadap perusahaan pemegang izin pemanfaatan hutan.

Empat perusahaan diperiksa pada 10–14 Agustus untuk mengetahui kesiapan sarana, personel, dan sistem pengendalian kebakaran menghadapi periode kemarau. Perusahaan tersebut berada di Ketapang dan Sanggau.

Langkah itu dilakukan karena pemegang izin memiliki kewajiban mencegah dan menangani kebakaran di wilayah konsesinya.

Pemerintah menegaskan perusahaan tidak cukup hanya memiliki dokumen kesiapsiagaan. Peralatan, personel, sumber air, dan prosedur pemadaman harus benar-benar dapat digunakan ketika kebakaran terjadi.

Satwa Liar Juga Menghadapi Ancaman

Kemarau dan gangguan habitat juga berdampak terhadap satwa liar.

Pada 21 Agustus, tim BKSDA Kalimantan Barat bersama sejumlah pihak melakukan penyelamatan dan translokasi tiga orangutan di Desa Tanjung Pura, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang. Operasi dilakukan sebagai bagian dari mitigasi risiko musim kemarau dan gangguan habitat.

Peristiwa tersebut menunjukkan dampak musim kering tidak hanya berkaitan dengan kesehatan manusia dan penerbangan, tetapi juga keselamatan ekosistem dan satwa yang tinggal di kawasan hutan.

Apakah Kebakaran Kalimantan Sudah Terkendali?

Berdasarkan data terbaru, kondisi menunjukkan perbaikan, tetapi belum dapat dikatakan sepenuhnya selesai.

Terdapat beberapa indikator positif:

  • jumlah hotspot nasional turun lebih dari 56 persen;
  • hotspot di Kalimantan Barat turun tajam;
  • jarak pandang di beberapa bandara membaik;
  • ribuan personel terus melakukan pemadaman.

Namun, risiko masih tinggi karena:

  • El Niño berada pada intensitas sangat kuat;
  • sebagian besar wilayah mengalami curah hujan rendah;
  • gambut di Kalimantan Tengah sangat kering;
  • titik api masih terdeteksi;
  • sebaran asap masih dipantau;
  • musim kemarau belum berakhir.

Dengan demikian, kabar bahwa “seluruh kebakaran Kalimantan sudah padam” belum sesuai dengan kondisi yang terverifikasi.

Kesimpulan

Update Kebakaran Kalimantan menunjukkan situasi karhutla mulai membaik setelah lonjakan besar titik panas pada pertengahan Agustus 2026. Kementerian Kehutanan mencatat hotspot nasional turun dari 2.170 titik pada 19 Agustus menjadi 950 titik pada 20 Agustus atau berkurang sekitar 56,2 persen.

Sebelumnya, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan mencatat total 518 hotspot berkepercayaan tinggi hanya pada 19 Agustus. Kabut asap juga sempat memangkas jarak pandang hingga sekitar 400 meter di Bandara Syamsudin Noor.

Pemerintah mengerahkan sedikitnya 12.880 personel gabungan untuk melakukan pemadaman, patroli, pembasahan lahan, pengamanan wilayah rawan, hingga Operasi Modifikasi Cuaca.

Meskipun hotspot menurun dan jarak pandang mulai membaik, ancaman belum berakhir. El Niño yang sangat kuat, rendahnya curah hujan, dan keringnya lahan gambut membuat kebakaran dapat kembali berkembang.

Karena itu, Update Kebakaran Kalimantan saat ini lebih tepat menggambarkan kondisi yang mulai terkendali di beberapa wilayah, tetapi masih membutuhkan operasi intensif dan kewaspadaan tinggi sampai musim kemarau benar-benar mereda.

Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Lokal

Author

Copyright @ 2026 Incaberita. All right reserved