Harga Minyak Turun 5% Setelah AS dan Iran Hentikan Serangan, Selat Hormuz Jadi Penentu
JAKARTA, incaberita.co.id – Harga Minyak Turun 5% pada perdagangan Senin, 27 Juli 2026, setelah Amerika Serikat dan Iran tidak melancarkan serangan baru selama akhir pekan. Jeda dalam konflik tersebut memunculkan harapan bahwa ketegangan dapat mereda dan jalur pengiriman energi di Selat Hormuz secara bertahap kembali normal.
Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman September turun sekitar 4,9 persen menjadi 92,02 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI merosot sekitar 5,6 persen menjadi 84,34 dolar AS per barel.
Penurunan ini terjadi setelah harga Brent sempat menembus 100 dolar AS per barel pada pekan sebelumnya. Kenaikan tersebut dipicu oleh meningkatnya konflik di Timur Tengah serta kekhawatiran terhadap gangguan pengiriman minyak dari kawasan Teluk.
Meski harga minyak turun tajam, kondisi pasar belum sepenuhnya stabil. Aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz masih terbatas, sementara ancaman terhadap jalur alternatif di Laut Merah membuat pelaku pasar tetap berhati-hati.
Penyebab Harga Minyak Turun 5%

Faktor utama yang mendorong penurunan harga minyak adalah berkurangnya kekhawatiran bahwa konflik Amerika Serikat dan Iran akan segera meningkat.
Kedua negara dilaporkan tidak melancarkan serangan baru selama dua hari. Presiden AS Donald Trump juga memberi waktu bagi upaya mediasi sebelum menentukan apakah operasi militer akan kembali dilanjutkan.
Jeda serangan tersebut memengaruhi persepsi pasar terhadap risiko pasokan. Ketika ancaman gangguan pasokan diperkirakan menurun, premi risiko geopolitik yang sebelumnya membuat harga melonjak ikut berkurang.
Beberapa faktor yang menekan harga minyak meliputi:
- tidak adanya serangan baru antara AS dan Iran selama akhir pekan;
- munculnya harapan terhadap jalur diplomasi;
- kemungkinan dibukanya kembali pengiriman melalui Selat Hormuz;
- aksi ambil untung setelah Brent menembus 100 dolar AS;
- berkurangnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dalam waktu dekat.
Namun, penurunan harga belum menunjukkan bahwa konflik telah berakhir. Pasar masih menunggu perkembangan diplomasi serta kepastian mengenai keamanan kapal tanker di kawasan tersebut.
Pergerakan Harga Brent dan WTI
Penurunan terjadi pada dua acuan utama harga minyak dunia, yakni Brent dan WTI.
Brent merupakan acuan yang banyak digunakan untuk perdagangan minyak internasional, termasuk minyak yang diproduksi di Eropa, Timur Tengah, dan sebagian Asia. WTI lebih banyak digunakan sebagai acuan minyak mentah Amerika Serikat.
Pada perdagangan terbaru:
- Brent September turun sekitar 4,9 persen menjadi 92,02 dolar AS per barel;
- WTI September merosot sekitar 5,6 persen menjadi 84,34 dolar AS per barel;
- Brent sebelumnya sempat mencapai sekitar 102 dolar AS per barel;
- WTI juga mengalami tekanan setelah kenaikan tajam selama konflik berlangsung.
Data tersebut memperlihatkan bahwa minyak Amerika mengalami penurunan lebih tajam dibandingkan Brent. Meski demikian, kedua harga masih berada pada tingkat yang relatif tinggi dibandingkan sebelum eskalasi konflik.
Selat Hormuz Menjadi Pusat Perhatian
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pengiriman energi terpenting di dunia. Sebelum konflik terbaru, sekitar seperlima pasokan minyak global melewati perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.
Konflik telah menghambat lalu lintas kapal dan memaksa produsen mencari jalur alternatif. Kondisi itu sempat mengurangi pasokan ke pasar global dan mendorong harga minyak ke atas.
Dana Moneter Internasional atau IMF memperkirakan penutupan efektif Selat Hormuz memangkas sekitar 20 juta barel per hari minyak mentah dan produk olahan dari jalur perdagangan normal. Produsen di kawasan Teluk kemudian berusaha mengalihkan sebagian pasokan melalui jaringan pipa dan pelabuhan alternatif.
Harga minyak dapat kembali bergerak turun apabila:
- kapal tanker kembali melintasi Selat Hormuz dengan aman;
- premi asuransi pelayaran menurun;
- ekspor minyak negara-negara Teluk pulih;
- tidak terjadi serangan baru terhadap fasilitas energi;
- negosiasi antara AS dan Iran menghasilkan kesepakatan yang lebih permanen.
Sebaliknya, harga dapat kembali melonjak jika pelayaran kembali terganggu atau konflik militer meningkat.
Jalur Laut Merah Juga Belum Aman
Pengalihan pengiriman dari Selat Hormuz tidak sepenuhnya menghilangkan risiko. Kapal yang membawa minyak melalui jalur alternatif juga menghadapi ancaman keamanan di Laut Merah.
Serangan terhadap kapal tanker Arab Saudi sebelumnya memperlihatkan bahwa gangguan tidak hanya terpusat di Selat Hormuz. Ancaman terhadap kapal di Laut Merah dapat membatasi kemampuan produsen mengalihkan minyak melalui pelabuhan barat Arab Saudi.
Situasi tersebut menjelaskan mengapa harga minyak masih bertahan di atas level sebelum konflik meskipun turun sekitar 5 persen.
Pasar belum hanya mempertimbangkan jumlah minyak yang tersedia. Pelaku industri juga menghitung biaya pengiriman, asuransi, keamanan kapal, waktu perjalanan, dan kemampuan pelabuhan alternatif menangani tambahan ekspor.
Apakah Penurunan Ini Akan Bertahan?
Harga Minyak Turun 5% bukan jaminan bahwa tren penurunan akan terus berlanjut. Pergerakan harga masih sangat bergantung pada perkembangan konflik dan pemulihan arus perdagangan.
Penurunan kali ini lebih banyak mencerminkan perubahan sentimen pasar daripada pemulihan pasokan secara penuh. Pelaku pasar bereaksi terhadap berkurangnya ancaman serangan dalam waktu dekat, tetapi kondisi fisik pengiriman belum sepenuhnya kembali normal.
Prospek harga dalam beberapa hari berikutnya akan dipengaruhi oleh:
- kelanjutan pembicaraan diplomatik antara Washington dan Teheran;
- keamanan kapal yang melintasi Selat Hormuz;
- volume ekspor minyak dari negara-negara Teluk;
- perkembangan serangan terhadap jalur Laut Merah;
- kebijakan produksi negara-negara OPEC+;
- kondisi permintaan minyak global;
- pergerakan stok minyak Amerika Serikat.
Apabila jeda serangan berubah menjadi gencatan senjata yang lebih stabil, harga dapat kembali melemah. Namun, kegagalan diplomasi berpotensi mengembalikan premi risiko dan mendorong harga naik tajam.
Pasokan Global Belum Sepenuhnya Pulih
Laporan pasar minyak IEA pada Juli 2026 menunjukkan pasokan global sempat pulih sebesar 4,1 juta barel per hari pada Juni menjadi sekitar 98,8 juta barel per hari. Pemulihan tersebut didukung oleh kembalinya sebagian aliran minyak melalui Selat Hormuz.
Walaupun meningkat, pasokan global masih sekitar 9,4 juta barel per hari di bawah tingkat sebelum perang. IEA juga memperingatkan bahwa eskalasi baru dapat menggagalkan pemulihan dan mengubah kembali keseimbangan pasar.
Ekspor minyak dari kawasan Teluk, termasuk volume yang dialihkan melalui jalur lain, meningkat menjadi sekitar 16,1 juta barel per hari pada Juni. Angka itu masih berada di bawah rata-rata sekitar 24 juta barel per hari sebelum perang.
Artinya, pasar masih kehilangan sebagian besar pasokan normal dari kawasan produsen utama. Kondisi ini membuat harga mudah berubah ketika muncul berita baru terkait konflik.
Dampak bagi Harga BBM
Penurunan harga minyak mentah dapat membantu menekan biaya produksi bahan bakar, tetapi dampaknya terhadap harga BBM tidak selalu terjadi secara langsung.
Harga BBM juga dipengaruhi oleh:
- nilai tukar mata uang;
- biaya pengolahan di kilang;
- ongkos pengiriman dan asuransi;
- pajak serta kebijakan subsidi;
- persediaan bahan bakar dalam negeri;
- formula penetapan harga masing-masing negara.
Di Amerika Serikat, harga rata-rata bensin telah mencapai sekitar 4,11 dolar AS per galon, naik dari 3,90 dolar AS sebulan sebelumnya dan 3,15 dolar AS pada periode yang sama tahun lalu.
Penurunan minyak mentah dapat menahan kenaikan lebih lanjut apabila berlangsung konsisten. Namun, harga bensin eceran biasanya membutuhkan waktu untuk menyesuaikan karena stok yang dijual saat ini dapat dibeli ketika harga minyak masih tinggi.
Dampak bagi Indonesia
Bagi Indonesia, penurunan harga minyak dunia dapat memberikan tekanan yang lebih ringan terhadap biaya impor energi, inflasi, dan anggaran kompensasi BBM.
Indonesia masih mengimpor minyak mentah maupun produk bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan domestik. Karena itu, harga minyak global yang tinggi dapat meningkatkan kebutuhan devisa dan memengaruhi biaya pengadaan energi.
Namun, penurunan sekitar 5 persen dalam satu sesi belum otomatis mengubah harga BBM di SPBU. Pemerintah dan badan usaha biasanya menggunakan rata-rata harga dalam periode tertentu, bukan hanya pergerakan harian.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga memegang peranan penting. Jika minyak turun tetapi rupiah melemah, sebagian manfaat penurunan harga dapat berkurang karena transaksi minyak dilakukan menggunakan dolar AS.
Di Indonesia, kenaikan harga energi global sebelumnya telah berkontribusi terhadap penyesuaian BBM nonsubsidi dan peningkatan inflasi komponen harga yang diatur pemerintah.
Dampak terhadap Inflasi Global
Harga minyak memengaruhi biaya transportasi, produksi, distribusi barang, penerbangan, dan berbagai kegiatan industri. Karena itu, lonjakan harga energi dapat mendorong inflasi di banyak negara.
Penurunan harga minyak dapat membantu meredakan tekanan tersebut apabila berlangsung cukup lama. Biaya bahan bakar yang lebih rendah dapat mengurangi ongkos transportasi dan mencegah kenaikan harga barang menjadi lebih luas.
Namun, dampaknya tidak selalu langsung. Perusahaan dapat tetap menghadapi harga bahan bakar tinggi berdasarkan kontrak sebelumnya, sementara biaya asuransi dan pengiriman di kawasan konflik belum tentu segera turun.
Di Amerika Serikat, lonjakan energi telah menjadi salah satu tekanan terhadap inflasi dan memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Karena itu, stabilisasi harga minyak dapat menjadi kabar positif bagi bank sentral. Sebaliknya, kenaikan kembali menuju atau melampaui 100 dolar AS per barel dapat memperumit upaya pengendalian inflasi.
Keuntungan dan Kerugian dari Penurunan Harga
Harga minyak yang lebih rendah dapat menguntungkan negara konsumen, perusahaan transportasi, maskapai penerbangan, dan industri yang menggunakan energi dalam jumlah besar.
Manfaat potensialnya meliputi:
- biaya impor energi yang lebih rendah;
- tekanan inflasi yang lebih ringan;
- penurunan biaya transportasi;
- perbaikan margin perusahaan pengguna bahan bakar;
- berkurangnya beban subsidi dan kompensasi energi.
Namun, penurunan harga dapat menekan pendapatan negara pengekspor minyak serta keuntungan perusahaan energi.
Negara yang sangat bergantung pada penerimaan minyak dapat menghadapi penurunan pendapatan apabila harga terus melemah. Produsen dengan biaya operasional tinggi juga dapat meninjau kembali rencana investasi dan produksi.
Meski demikian, pada tingkat di atas 80 hingga 90 dolar AS per barel, harga minyak masih tergolong tinggi bagi banyak konsumen dan tetap memberikan pendapatan besar bagi produsen utama.
Pasar Masih Sangat Volatil
Pergerakan harga selama beberapa pekan terakhir memperlihatkan tingginya volatilitas pasar energi.
Brent sempat turun hingga sekitar 68 dolar AS per barel pada awal Juli sebelum eskalasi baru kembali mengangkat harga. Harga kemudian melewati 100 dolar AS per barel dan kini turun menuju kisaran 92 dolar AS.
Perubahan besar dalam waktu singkat menunjukkan bahwa pasar sangat sensitif terhadap:
- pernyataan pemerintah AS dan Iran;
- laporan serangan terhadap kapal atau fasilitas energi;
- perkembangan mediasi;
- perubahan arus kapal tanker;
- laporan persediaan dan produksi;
- kebijakan OPEC+.
Investor dan konsumen tidak dapat menganggap penurunan satu hari sebagai tanda bahwa harga telah memasuki tren turun jangka panjang.
Kesimpulan Harga Minyak Turun 5%
Harga Minyak Turun 5% setelah Amerika Serikat dan Iran tidak melancarkan serangan baru selama akhir pekan. Jeda tersebut memunculkan harapan bahwa ketegangan dapat diredakan melalui diplomasi dan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz secara bertahap kembali pulih.
Brent turun sekitar 4,9 persen menjadi 92,02 dolar AS per barel, sedangkan WTI melemah sekitar 5,6 persen menjadi 84,34 dolar AS per barel. Penurunan ini terjadi setelah Brent sempat menembus 100 dolar AS akibat kekhawatiran terhadap gangguan pasokan.
Meski turun tajam, pasar minyak belum sepenuhnya aman. Selat Hormuz masih menjadi titik kritis, pengiriman di Laut Merah menghadapi ancaman, dan pasokan global belum pulih ke tingkat sebelum konflik.
Arah harga berikutnya akan bergantung pada keberhasilan diplomasi, keamanan pelayaran, serta kemampuan produsen Teluk mengembalikan ekspor. Jeda konflik yang bertahan dapat menekan harga lebih lanjut, sedangkan serangan baru berpotensi kembali mendorong minyak ke atas 100 dolar AS per barel.
Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Global
Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: Perjanjian Nuklir AS-Arab Saudi Resmi Ditandatangani, Isu Pengayaan Uranium Jadi Sorotan
