Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Setelah Sempat Dibuka Pasca MoU Damai, IRGC dan Pemerintah Sipil Keluarkan Pernyataan Saling Bertentangan
JAKARTA, incaberita.co.id – Iran tutup lagi Selat Hormuz hanya beberapa jam setelah jalur pelayaran strategis itu sempat dibuka berdasarkan kesepakatan MoU Islamabad yang baru saja ditandatangani pada 17-19 Juni 2026. Pada Jumat 19 Juni 2026, Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC menyiarkan pesan radio kepada seluruh kapal di kawasan Teluk Persia dan Laut Oman bahwa Selat Hormuz kembali ditutup dan setiap kapal yang mencoba melintas akan dijadikan target. Pesan itu langsung mengguncang pasar dan memicu kepanikan baru di kalangan operator kapal yang baru saja mulai bergerak memanfaatkan pembukaan selat.
Namun demikian drama belum selesai. Iran tutup lagi Selat Hormuz versi IRGC langsung mendapat respons berlawanan dari pemerintah sipil Iran sendiri. Jubir Kemlu Iran Esmail Baghaei turun tangan. Menurutnya pelayaran komersial tetap diizinkan sesuai MoU 18 Juni 2026. Dua pernyataan saling bertolak belakang dalam waktu berdekatan itu memperlihatkan betapa rapuhnya perdamaian yang baru lahir.
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Ini Kronologi Buka-Tutup yang Membingungkan

Sumber gambar : vietnam.vn
Untuk memahami situasi terbaru ini, perlu dilihat kronologi buka-tutup Selat Hormuz dalam sebulan terakhir.
Selat Hormuz pertama kali ditutup pada Kamis 11 Juni 2026. Penutupan itu dilakukan melalui pengumuman resmi Markas Besar Khatam Al-Anbia dan PGSA. Pemicunya adalah serangan militer AS ke wilayah Iran. PGSA menyatakan selat ditutup karena ketegangan yang dipicu pasukan AS. Seluruh kapal yang sudah memperoleh izin transit diminta menunggu.
Selain itu IRGC langsung mempertegas ancaman. Mereka menyatakan sudah menembak dua kapal yang berani mencoba melintas. Rekaman audio peringatan IRGC bocor ke publik melalui Xinhua. Isinya meminta semua kapal menghindari pergerakan di Selat Hormuz demi keselamatan awak.
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Versi IRGC, Kemlu Iran Langsung Bantah
Tepat di hari penandatanganan resmi MoU Islamabad di Jenewa Swiss pada Jumat 19 Juni 2026, Selat Hormuz kembali menjadi panggung kebingungan. IRGC tiba-tiba menyiarkan pesan radio baru kepada kapal-kapal di kawasan tersebut. Mereka memperingatkan semua kapal agar tidak mendekati Selat Hormuz dan menyebut setiap pergerakan di sana akan ditindak tegas.
Pesan itu muncul hanya beberapa jam setelah AS-Iran resmi menandatangani MoU perdamaian. Reaksi dari operator kapal dan pasar energi langsung panik. Apakah ini berarti Iran membatalkan komitmen yang baru saja ditandatangani?
Namun demikian narasi itu langsung dimentahkan oleh otoritas sipil Iran. Jubir Kemlu Esmail Baghaei turun langsung menenangkan situasi. Ia memastikan pelayaran komersial tetap bisa melintas. Menurutnya militer Iran sudah menjalankan kewajibannya berdasarkan perjanjian damai yang baru disepakati. Baghaei menegaskan kapal-kapal dagang sudah bergerak normal di rute tersebut dan tidak ada hambatan resmi dari pemerintah Iran.
Dua Suara dari Satu Negara, Sinyal Konflik Internal di Teheran
Yang paling berbahaya dari insiden 19 Juni bukan penutupannya sendiri. Yang paling mengkhawatirkan adalah fakta bahwa dua lembaga dalam satu negara mengeluarkan pernyataan berlawanan dalam waktu berdekatan. IRGC tutup, Kemlu buka. Siapa yang pegang kendali?
Ini bukan pertama kali terjadi. Sejak konflik dengan AS dimulai Februari 2026, ada pola berulang. IRGC kerap mengambil langkah eskalasi secara sepihak. Sementara itu pemerintah sipil berusaha mendinginkan situasi dari luar. Pola itu mencerminkan tegangan antara militer yang ingin terus menekan dan pemerintahan sipil yang menginginkan jalan damai.
Selain itu para analis sudah lama mengingatkan bahwa IRGC makin mendominasi keputusan strategis Iran. Laporan think tank Washington pada April 2026 menyebut Komandan IRGC sudah menguasai dua sektor paling penting: militer dan urusan luar negeri.
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Harga Minyak Kembali Bergolak
Setiap kali Selat Hormuz bergejolak, pasar energi global langsung merasakan dampaknya. Ketika Iran pertama kali menutup selat pada 11 Juni 2026, harga minyak mentah Brent langsung naik ke kisaran USD 94 per barel. Harga minyak WTI juga ikut melonjak. Analis ING saat itu menyatakan eskalasi ini menunjukkan bahwa kesepakatan damai masih jauh dan aliran energi dari Teluk Persia akan tetap sangat terbatas.
Sebaliknya ketika kabar perdamaian MoU Islamabad diumumkan pada 14-17 Juni 2026, harga minyak langsung turun sekitar 10 persen. Pasar energi yang sudah lama tertekan akhirnya bisa bernapas. Namun dengan munculnya insiden simpang siur 19 Juni, kepercayaan pasar kembali terguncang.
Selat Hormuz memang bukan jalur sembarangan. Jalur itu mengalirkan sekitar 20 persen dari seluruh pasokan minyak dan gas alam cair global setiap harinya. Setiap kabar penutupan, bahkan yang kemudian dibantah sekalipun, langsung memantik reaksi yang sangat sensitif di pasar komoditas global.
Iran Ubah Aturan, Kapal Wajib Minta Izin 48 Jam Sebelum Lewat
Di luar drama buka-tutup, Iran juga sudah secara sepihak mengubah aturan pelayaran di Selat Hormuz. Setelah penandatanganan MoU, Iran mengumumkan bahwa kapal-kapal yang ingin melintas Selat Hormuz kini wajib mengajukan permohonan izin paling lambat 48 jam sebelum memasuki selat.
Kebijakan baru itu langsung menimbulkan kontroversi. AS bersikeras bahwa Selat Hormuz adalah jalur internasional yang bebas dan tidak boleh diatur secara sepihak oleh Iran. Sementara Iran dan Oman berdasarkan MoU menegaskan bahwa pengelolaan selat akan dilakukan bersama-sama oleh kedua negara itu.
Selain itu Jerman sudah mengambil langkah konkret dengan mengirimkan kapal khusus pembersih ranjau ke kawasan Selat Hormuz. Kapal itu bertugas membantu membersihkan ranjau laut yang diduga sudah dipasang selama konflik berlangsung — sesuai dengan komitmen Iran dalam MoU untuk membersihkan ranjau dalam 30 hari.
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Pertamina Siapkan Rencana Darurat
Di sisi Indonesia, ketidakpastian di Selat Hormuz langsung berdampak pada perencanaan operasional perusahaan pelayaran nasional. Pertamina International Shipping atau PIS sudah menyiapkan langkah antisipasi sejak kabar perdamaian AS-Iran pertama kali muncul.
Pjs Corporate Secretary PIS Vega Pita mengungkapkan pihaknya sudah intensif memantau situasi dan menyiapkan perencanaan pelayaran yang aman. Strategi yang disiapkan mencakup penyusunan rute alternatif, identifikasi risiko, navigasi elektronik, serta rencana kontijensi jika situasi di Selat Hormuz kembali memburuk.
Berdasarkan data pelacak maritim pada pertengahan Juni 2026, terdapat delapan kapal tanker yang tengah transit di perairan Selat Hormuz. Jumlah itu menjadi pergerakan terbesar di kawasan tersebut sejak perang pecah pada 28 Februari 2026 — cerminan harapan yang muncul setelah MoU ditandatangani, meski situasi masih jauh dari stabil.
Penutup: Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, 60 Hari Ke Depan Adalah Ujian Sesungguhnya
Iran tutup lagi Selat Hormuz dalam versi yang lebih membingungkan pada 19 Juni 2026: bukan penutupan resmi dari pemerintah, tapi peringatan sepihak IRGC yang langsung dibantah Kemlu. Kejadian itu adalah cermin paling jujur tentang kondisi perdamaian AS-Iran yang baru saja lahir.
MoU Islamabad adalah fondasi. Tapi fondasi itu belum cukup kuat untuk menahan guncangan dari dalam Iran sendiri. Selama IRGC dan pemerintah sipil Iran masih mengeluarkan sinyal yang berbeda, selama itulah ketidakpastian akan terus membayangi Selat Hormuz dan pasar energi global yang sangat bergantung pada jalur itu.
Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Global
Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti : Serpong Mati Lampu Dua Kali dalam Sepekan, PLTGU Jawa 1 Bermasalah dan Warga BSD Mengeluh Tidak Ada Info Awal dari PLN
