Trump Ngincar Pulau Kharg Iran, Ancam Kuasai 90 Persen Ekspor Minyak Teheran tapi Tiba-tiba Klaim Akhiri Perang
JAKARTA, incaberita.co.id – Trump ngincar Pulau Kharg dan langsung mengguncang pasar energi global pada Kamis 11 Juni 2026. Melalui akun Truth Social miliknya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana paling berani sejauh ini dalam konflik AS-Iran yang sudah berlangsung sejak Februari 2026. AS akan merebut Pulau Kharg dan mengambil kendali penuh atas seluruh infrastruktur minyak dan gas Iran dalam waktu dekat. Ancaman itu bukan sekadar gertakan. Ini adalah sinyal eskalasi terbesar yang pernah Trump keluarkan sejak perang dimulai.
Selain itu, Trump ngincar Pulau Kharg ini bukan muncul tiba-tiba. Ancaman itu datang tepat setelah serangkaian pertempuran yang makin intens antara pasukan AS dan Iran di sepanjang Selat Hormuz dan kawasan Teluk Persia. Sebuah helikopter Apache milik Angkatan Darat AS ditembak jatuh oleh pasukan Iran di Selat Hormuz. CENTCOM membalas dengan serangan udara ke fasilitas radar dan pertahanan udara Iran. Iran kemudian menghantam lima pangkalan militer AS di Kuwait, Bahrain, dan Yordania termasuk markas besar Armada Kelima AS di Bahrain.
Trump Ngincar Pulau Kharg, Ini Isi Ancaman Lengkapnya

Sumber gambar : suara.com
Trump tidak setengah-setengah dalam menyampaikan ancamannya. Dalam postingan di Truth Social, ia menyatakan militer AS dalam waktu yang tidak lama lagi akan merebut Pulau Kharg dan titik-titik infrastruktur minyak lainnya di Iran. Setelah itu, AS akan mengambil kendali penuh atas pasar minyak dan gas Iran sepenuhnya.
Trump juga menyebut militer AS akan menyerang Iran dengan sangat keras pada malam harinya setelah menyelesaikan serangkaian serangan udara yang sudah berlangsung sehari sebelumnya. Pernyataan itu muncul bersamaan dengan tekanan militer yang sudah sangat intens di lapangan.
Selain itu, Trump menyamakan rencana pengambilalihan Pulau Kharg ini dengan apa yang ia sebut keberhasilan Operation Absolute Resolve di Venezuela. Dalam operasi itu, AS mengambil alih kendali atas sektor minyak Venezuela setelah penangkapan mantan Presiden Nicolas Maduro. Analogi itu menunjukkan Trump benar-benar serius dengan rencananya, bukan sekadar bermain kata-kata di media sosial.
Pulau Kharg, Jantung yang Jika Direbut Runtuhkan Ekonomi Iran
Untuk memahami mengapa Trump ngincar Pulau Kharg sebagai target strategis, perlu dipahami betapa vitalnya pulau kecil ini bagi Iran. Pulau Kharg terletak di bagian utara Teluk Persia dan secara fisik terbilang sangat kecil. Panjangnya hanya sekitar 8 kilometer dengan lebar 4 hingga 5 kilometer. Namun di atas luasan yang sangat terbatas itulah tersimpan infrastruktur yang menjadi tulang punggung perekonomian Iran.
Sebelum perang pecah pada 28 Februari 2026, Pulau Kharg menangani sekitar 90 persen dari seluruh ekspor minyak mentah Iran ke pasar internasional. Semua pipa dari ladang-ladang minyak terbesar Iran bertemu di sini sebelum minyak dimuat ke kapal tanker. Pulau ini juga dilengkapi tangki-tangki penyimpanan raksasa, terminal pemuatan lepas pantai, dan sistem kontrol yang mengelola seluruh aliran minyak.
Minyak adalah sumber pendapatan utama pemerintah Iran. Tanpa Pulau Kharg, kemampuan Iran untuk mengekspor minyak dan memperoleh devisa akan lumpuh total. Itulah mengapa Yair Lapid dari Israel pernah menyatakan bahwa menghancurkan Pulau Kharg akan melemahkan perekonomian Iran dan mempercepat runtuhnya rezim.
Trump Ngincar Pulau Kharg, Tapi AS Pernah Tahan Diri
Menariknya, meski sudah terlibat perang langsung dengan Iran sejak Februari 2026, AS selama ini masih menahan diri untuk tidak menyentuh infrastruktur minyak Pulau Kharg secara langsung. Pada 13 Maret 2026, USAF memang melancarkan serangan besar-besaran ke Pulau Kharg. Lebih dari 90 situs militer di pulau itu dihancurkan total. Trump menyebutnya sebagai salah satu pengeboman paling kuat dalam sejarah kawasan itu.
Namun dalam serangan Maret itu, AS secara sengaja menghindari penghancuran infrastruktur minyak dan gas. Trump bahkan secara eksplisit menekankan bahwa fasilitas minyak tidak menjadi sasaran. Keputusan itu mencerminkan kalkulasi bahwa menghancurkan infrastruktur minyak Iran akan memicu lonjakan harga minyak global yang juga merugikan AS dan sekutunya.
Kini dengan ancaman terbaru, Trump mengubah kalkulasi itu. Bukan menghancurkan infrastruktur minyaknya, tapi merebut dan menguasainya. Jika berhasil, AS tidak hanya melumpuhkan Iran tapi juga mendapatkan aset energi yang nilainya sangat besar.
Iran Ancam Balas Keras, IRGC Bantah Ada Kesepakatan
Teheran tidak tinggal diam menghadapi ancaman Trump ngincar Pulau Kharg. Iran langsung mengeluarkan respons yang sangat keras. IRGC menyatakan bahwa jika AS berani menyerang Pulau Kharg, mereka akan menerima respons yang keras, menyakitkan, dan membuat mereka menyesal selamanya.
Namun cerita mengambil giliran yang aneh beberapa jam kemudian. Sekitar lima jam setelah Trump mengumumkan ancaman serangan besar ke Pulau Kharg, ia tiba-tiba membatalkan rencana serangan itu. Trump mengklaim semua pihak sudah menyetujui poin-poin akhir kesepakatan damai dan menyebutnya sebagai sebuah penyelesaian antara kedua negara.
Tapi Iran langsung membantah. IRGC menyatakan tidak ada kesepakatan apapun yang sudah dikonfirmasi. Klaim Trump soal tercapainya kesepakatan damai tidak bisa diverifikasi secara independen dan situasi di lapangan masih sangat cair. Kebingungan sinyal dari Washington dan Teheran ini membuat pasar dan komunitas internasional sangat sulit membaca ke mana arah konflik ini sesungguhnya akan bergerak.
Eskalasi yang Didahului Penembakan Apache dan Serangan Balik Iran
Untuk memahami konteks ancaman Trump ngincar Pulau Kharg, perlu dilihat rangkaian peristiwa dalam 48 jam terakhir. Sebuah helikopter Apache milik Angkatan Darat AS ditembak jatuh oleh Iran di kawasan Selat Hormuz. Peristiwa itu memicu kemarahan besar di Washington.
CENTCOM langsung melancarkan serangan udara balasan yang menargetkan sistem radar, komunikasi, dan pertahanan udara Iran. Serangan itu lebih luas dan lebih intens dari serangan-serangan sebelumnya. Iran kemudian membalas dengan menghantam lima pangkalan militer AS yang tersebar di Kuwait, Bahrain, dan Yordania. Yang paling signifikan adalah serangan ke markas besar Armada Kelima AS di Bahrain yang merupakan pusat komando angkatan laut AS di kawasan Teluk.
Spiral kekerasan yang terus meningkat inilah yang membawa konflik ke titik paling berbahaya sejak perang pertama kali pecah pada 28 Februari 2026.
Trump Ngincar Pulau Kharg, Dampak ke Harga Minyak Dunia
Ancaman Trump terhadap Pulau Kharg langsung memukul pasar energi global. Harga minyak mentah kembali melonjak tajam seiring kekhawatiran bahwa eskalasi baru ini bisa memperparah gangguan pasokan yang sudah berlangsung berbulan-bulan.
Investor energi global kini menghadapi skenario yang jauh lebih buruk dari sebelumnya. Jika AS benar-benar merebut Pulau Kharg, efeknya bisa sangat kompleks. Di satu sisi ekspor minyak Iran akan berhenti total. Di sisi lain ketegangan di Teluk Persia akan meledak ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya dan berpotensi mengganggu seluruh jalur pelayaran di kawasan itu.
Negara-negara pengimpor minyak besar seperti Jepang, Korea Selatan, China, dan India sedang memantau perkembangan ini dengan sangat cemas. Sebagian besar pasokan energi mereka bergantung pada stabilitas kawasan Teluk yang kini berada di tepi jurang eskalasi yang tidak bisa diprediksi.
Penutup: Trump Ngincar Pulau Kharg, Dunia di Ambang Babak Paling Berbahaya
Trump ngincar Pulau Kharg adalah pernyataan paling berani dan paling berbahaya yang pernah ia keluarkan dalam konflik AS-Iran ini. Lima jam kemudian ia membatalkannya dengan klaim kesepakatan damai yang langsung dibantah Iran. Pola buka-tutup yang kaotis itu mencerminkan betapa tidak stabilnya situasi saat ini.
Yang pasti adalah bahwa Pulau Kharg kini berada di pusat perhatian dunia. Nasib pulau kecil di Teluk Persia itu dalam beberapa hari ke depan bisa menentukan apakah konflik ini akan menemukan jalan damai atau justru meluncur ke perang yang jauh lebih besar dari yang sudah terjadi sejauh ini.
Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Global
Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: Reformasi Jilid II Bergema di Bundaran HI, BEM UI Turun ke Jalan Bawa Spanduk Indonesia Bangkrut dan Ultimatum 18 Hari untuk Prabowo
