Mojtaba Khamenei Menghilang, IRGC Disebut Kini Kendalikan Seluruh Kekuasaan Iran di Balik Layar
JAKARTA, incaberita.co.id – Sudah tiga pekan berlalu sejak Mojtaba Khamenei menghilang dari hadapan publik dunia. Padahal, ia baru saja resmi dinobatkan sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru. Selama tiga pekan itu, tidak satu pun wajahnya terlihat secara nyata. Tidak ada video, tidak ada siaran langsung, dan tidak ada suara yang keluar dari mulutnya sendiri. Yang ada hanyalah pesan tertulis di kanal Telegram dan foto-foto yang justru memunculkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Bagi komunitas intelijen global, keheningan Mojtaba Khamenei menghilang dari ruang publik ini bukan sekadar keanehan protokol. Ini adalah sinyal bahaya yang berkibar kencang. Oleh karena itu, CIA, Mossad, dan sejumlah badan intelijen lainnya kini aktif bekerja untuk menemukan satu hal sederhana namun krusial: apakah Mojtaba Khamenei benar-benar masih memegang kendali atas negara yang sedang berperang?
Mengapa Mojtaba Khamenei Menghilang Setelah Naik Takhta

Sumber gambar : npr.org
Untuk memahami mengapa keberadaan Mojtaba Khamenei begitu misterius, perlu dilihat bagaimana ia tiba di posisi tertinggi Iran. Segalanya bermula pada 28 Februari 2026, hari ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer besar ke Iran. Operasi ini diberi nama “Epic Fury” oleh AS dan “Lion’s Roar” oleh Israel.
Serangan itu bukan hanya memukul fasilitas militer Iran. Lebih dari itu, serangan tersebut merenggut nyawa Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei sekaligus menghancurkan sebagian besar jajaran komando senior Iran dalam satu pukulan. Mojtaba sendiri diyakini berada di lokasi yang sama saat serangan terjadi. Ia selamat, namun kondisinya hingga kini masih jadi perdebatan berbagai pihak.
Pada 8 hingga 9 Maret 2026, Majelis Pakar Iran yang beranggotakan 88 ulama senior akhirnya memilih Mojtaba sebagai penerus sang ayah. Proses pemilihan berlangsung dalam kondisi tidak biasa karena gedung Majelis Pakar dilaporkan hancur sebelum pemungutan suara, sehingga sidang digelar secara daring. Sejak saat itu, Mojtaba Khamenei resmi menjadi pemimpin tertinggi ketiga dalam sejarah Republik Islam Iran.
Mojtaba Khamenei Menghilang, Nowruz Jadi Titik Balik Kecurigaan
Sejak dinobatkan, Mojtaba hanya bicara lewat tulisan. Pernyataan publik pertamanya pada 12 Maret 2026 pun tidak dibacakan sendiri. Sebaliknya, pernyataan itu disampaikan oleh seorang presenter televisi pemerintah Iran. Tidak ada rekaman suara, tidak ada gambar bergerak, hanya teks semata.
Momentum paling ditunggu datang saat perayaan Nowruz, Tahun Baru Persia, pada Jumat 20 Maret 2026. Seluruh badan intelijen dunia mengarahkan perhatian ke sana. Tradisi yang selalu dijaga mendiang Ali Khamenei adalah memberikan pidato langsung setiap Nowruz. Oleh karena itu, banyak pihak berharap Mojtaba akan melanjutkan tradisi tersebut sebagai bukti bahwa ia sehat dan masih memegang kendali.
Yang terjadi justru sebaliknya. Nowruz berlalu hanya dengan pesan tertulis di kanal Telegram Mojtaba dan beberapa foto yang langsung memancing kecurigaan. Selain itu, tidak ada pidato dan tidak ada rekaman suara sekalipun.
Reaksi dari komunitas intelijen pun sangat tajam. Berikut sejumlah fakta yang memperdalam misteri Mojtaba Khamenei menghilang ini:
- CIA aktif menyelidiki apakah foto-foto yang diunggah bersama pesan Nowruz benar-benar baru diambil atau merupakan dokumentasi lama
- Wall Street Journal melaporkan bahwa Iran tidak merilis gambar baru maupun rekaman suara Mojtaba sama sekali
- Sejumlah foto yang beredar di kanal resmi Iran diduga dihasilkan atau diubah menggunakan kecerdasan buatan
- Presiden Iran Masoud Pezeshkian justru merilis pesan video untuk Nowruz meski ia pun menghadapi ancaman nyata, sehingga ketidakhadiran Mojtaba semakin mencolok
CIA dan Mossad Angkat Bicara soal Mojtaba Khamenei Menghilang
Dua badan intelijen paling berpengaruh di dunia itu tidak lagi menyimpan kebingungan mereka. Pernyataan yang bocor ke publik menggambarkan betapa seriusnya situasi ini dipandang oleh Washington dan Tel Aviv.
Seorang pejabat senior AS yang dikutip media internasional menyebut kondisi Mojtaba Khamenei menghilang sebagai sesuatu yang jauh di luar kebiasaan. Ia menyampaikan bahwa Iran tidak mungkin melalui proses rumit memilih pemimpin baru hanya untuk memilih seseorang yang sudah tidak bernyawa. Namun di sisi lain, pihaknya tidak punya bukti bahwa Mojtaba benar-benar memegang kendali kepemimpinan.
Sementara itu, seorang pejabat senior Israel menambahkan bahwa mereka tidak punya bukti bahwa Mojtaba adalah pihak yang memberi perintah. Ketidakhadirannya saat Nowruz disebut sebagai sinyal merah besar yang tidak bisa diabaikan.
Lebih jauh lagi, dalam sidang tertutup di hadapan Komite Intelijen DPR Amerika Serikat pada 19 Maret 2026, Direktur CIA John Ratcliffe dan Kepala Badan Intelijen Pertahanan Jenderal James Adams memberi keterangan yang mengejutkan: rezim Iran sedang mengalami krisis dalam struktur komando dan kendalinya. Meski demikian, mereka menyatakan tidak ada tanda keruntuhan rezim yang akan segera terjadi.
Saat Mojtaba Menghilang, IRGC Isi Kekosongan Kekuasaan Iran
Di sinilah gambaran yang paling meresahkan mulai terbentuk. Ketika pemimpin tertinggi tidak terlihat dan tidak ada kepastian soal kondisinya, siapa yang sesungguhnya menjalankan Iran?
Jawaban dari berbagai sumber intelijen mengarah ke satu institusi: Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC. Dua pejabat senior Israel menyatakan bahwa pembunuhan Ali Larijani, yang sebelumnya dilihat sebagai pemimpin nyata Iran pasca-serangan, telah memperluas kekosongan kekuasaan yang kini perlahan diisi IRGC.
Berikut gambaran bagaimana IRGC memperkuat kendali dalam situasi ini:
- IRGC adalah pihak yang sejak awal mendorong terpilihnya Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi, sehingga mereka punya kedekatan struktural yang kuat
- Naiknya Mojtaba didukung oleh hubungan personalnya dengan elite IRGC yang dibangun selama puluhan tahun
- Pasca-serangkaian pembunuhan pemimpin senior Iran, IRGC adalah satu-satunya institusi yang struktur komandonya masih relatif berdiri
- Para pejabat Israel menyatakan IRGC kini secara nyata menjalankan negara, bukan sebaliknya
- Seorang pejabat Arab senior menyebut IRGC sebagai kelompok yang sangat ideologis dan siap mati demi keyakinan mereka
Dengan demikian, gambaran ini memunculkan kekhawatiran baru. Jika IRGC benar-benar memegang kendali, maka Iran berpotensi jauh lebih sulit diajak bicara dibandingkan era Ali Khamenei.
Beragam Klaim Kondisi Fisik Mojtaba Khamenei yang Menghilang
Kepastian memang tidak kunjung datang. Namun berbagai versi laporan dari sumber yang berbeda terus mengalir deras ke ruang publik, masing-masing dengan ceritanya sendiri.
Dari kubu intelijen Israel, Mojtaba disebut mengalami cedera di bagian kaki. Ia kini dilaporkan bersembunyi di sebuah lokasi yang dijaga ketat dengan jalur komunikasi yang sangat terbatas ke dunia luar. Selaras dengan itu, sebuah laporan jaringan televisi internasional CNN menyebut kondisi Mojtaba lebih rinci: kaki yang patah, memar di sekitar area mata sebelah kiri, serta beberapa luka yang menghiasi wajahnya sejak serangan 28 Februari.
Versi yang jauh lebih dramatis datang dari sebuah surat kabar berbasis di Kuwait. Menurut laporan tersebut, Mojtaba tidak lagi berada di tanah Iran. Ia disebut telah dipindahkan secara rahasia ke luar negeri dengan bantuan angkatan udara militer Rusia, untuk menjalani prosedur medis intensif. Klaim ini menyebut adanya kesepakatan di tingkat kepala negara yang memungkinkan langkah tersebut terjadi. Meski demikian, hingga saat ini tidak ada satu pun lembaga independen yang berhasil memverifikasi kebenaran laporan tersebut.
Klaim paling ekstrem justru datang bukan dari media arus utama, melainkan dari kanal-kanal oposisi Iran yang aktif di media sosial. Salah satu kanal menyebarkan informasi bahwa Mojtaba telah meninggal dunia setelah kondisinya memburuk secara drastis. Klaim ini beredar luas namun sama sekali tidak memiliki dasar verifikasi yang bisa dipertanggungjawabkan.
Dari sisi pemerintah Iran sendiri, respons yang muncul terasa normatif dan minim detail. Pejabat tinggi Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan soal kondisi pemimpin tertinggi yang baru. Menurut pejabat tersebut, Mojtaba dalam kondisi baik dan terus aktif memantau perkembangan situasi. Sayangnya, pernyataan itu hadir tanpa satu pun bukti visual atau audio yang bisa memperkuatnya di mata dunia.
Perspektif Berbeda soal Mojtaba Khamenei yang Menghilang
Tidak semua pihak terbawa arus kepanikan yang sedang bergulir. Raz Zimmt, Direktur Program Iran di Institut Studi Keamanan Nasional di Tel Aviv, hadir dengan suara yang lebih dingin dan terukur di tengah hiruk-pikuk spekulasi.
Ia menegaskan bahwa tidak ada satu pun bukti konkret yang menunjukkan Mojtaba tidak lagi mampu menjalankan fungsinya sebagai pemimpin. Dalam situasi yang tidak biasa seperti ini, adalah hal yang masuk akal jika seorang pemimpin baru yang baru saja kehilangan hampir seluruh keluarga intinya dalam satu serangan memilih untuk tidak tampil secara terbuka. Lebih jauh, kondisi lukanya pun kemungkinan besar menjadi pertimbangan tersendiri agar kelemahan fisiknya tidak terekspos dan dijadikan bahan propaganda oleh pihak lawan.
Ketidakpastian yang Lebih Berbahaya dari Perang
Paradoks terbesar dari kasus Mojtaba Khamenei menghilang ini justru terletak pada diam itu sendiri. Di satu sisi, ketidakhadirannya di ruang publik melindunginya dari ancaman pembunuhan yang nyata dan terus membayangi. Di sisi lain, diam yang berkepanjangan itu justru menciptakan lubang informasi yang berbahaya, menyuburkan spekulasi tanpa batas, dan membuat pihak luar semakin sulit membaca ke mana arah Iran sesungguhnya melangkah.
Pertanyaan terpenting bukan sekadar soal lokasi Mojtaba Khamenei saat ini. Pertanyaan yang lebih besar dan lebih mendesak adalah: jika IRGC memang yang kini memegang seluruh tali kendali, sampai sejauh mana mereka bersedia melangkah dalam konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda akan segera padam?
Dunia masih menunggu jawaban itu. Selama Mojtaba Khamenei belum muncul dan berbicara sendiri, keheningannya akan terus menjadi sumber ketidakpastian yang jauh lebih berbahaya dari peluru manapun.
Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Global
Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: Pemotongan Gaji Menteri dan Anggota DPR Sedang Didetailkan, Mensesneg Pastikan Kajian Terus Berjalan
