March 10, 2026

INCABERITA

Jelajahi Kabar Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini.

Mojtaba Khamenei Dikepung Ancaman Israel, China dan Rusia Kompak Beri Perlindungan

China dan Rusia Kompak Lindungi Mojtaba Khamenei dari Ancaman Pembunuhan Israel

JAKARTA, incaberita.co.id – Mojtaba Khamenei dikepung ancaman sejak hari pertama ia resmi dilantik sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. However, dua kekuatan besar dunia langsung bergerak. China dan Rusia menyatakan posisi mereka dengan tegas: suksesi kepemimpinan Iran adalah urusan dalam negeri dan tidak boleh diganggu pihak luar mana pun.

Senin, 9 Maret 2026, menjadi hari yang sibuk. Di Beijing, juru bicara Kemenlu China Guo Jiakun menyampaikan pernyataan resmi. Di Moskow, Presiden Vladimir Putin mengirim pesan langsung kepada pemimpin baru Iran itu. Meanwhile, di Washington, Donald Trump duduk di depan kamera NBC dan menyebut keputusan Iran sebagai kesalahan besar.

Therefore, babak baru pun terbuka: perang kata antara Beijing-Moskow di satu sisi, dan Washington-Tel Aviv di sisi lain. Perang AS-Israel melawan Iran saat itu sudah memasuki hari kesepuluh.

Mojtaba Khamenei Dikepung Ancaman Sejak Hari Pertama Menjabat

Mojtaba Khamenei Dikepung Ancaman

Sumber gambar : viewsbangladesh.com

Mojtaba Khamenei resmi ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi ketiga Iran pada 8 Maret 2026. Assembly of Experts, lembaga 88 ulama yang berwenang memilih pemimpin tertinggi, mengumumkan keputusan itu lewat siaran televisi nasional Iran.

However, ancaman tidak menunggu lama. Militer Israel memposting pernyataan terbuka di media sosial, menyatakan bahwa tangan Israel akan terus memburu setiap penerus Khamenei. In addition, IDF sudah memperingatkan bahwa siapa pun yang hadir dalam sidang pemilihan penerus bisa dijadikan target serangan.

Furthermore, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz melangkah lebih jauh. Ia menyatakan bahwa setiap pemimpin Iran yang melanjutkan rencana merusak Israel akan menjadi target pasti, tanpa memandang siapa orangnya dan di mana pun ia berada.

Berikut ini sejumlah fakta penting tentang Mojtaba Khamenei yang kini berada di pusat badai geopolitik dunia:

  • Lahir pada 8 September 1969 di kota Mashhad, Iran timur laut
  • Putra kedua mendiang Ayatollah Ali Khamenei yang tewas dalam serangan AS-Israel pada 28 Februari 2026
  • Dikenal sebagai sosok berpengaruh besar yang hampir tidak pernah tampil di ruang publik
  • Laporan AS yang dibocorkan WikiLeaks menggambarkannya sebagai kekuatan di balik layar kekuasaan Iran
  • Pernah dijatuhi sanksi oleh Kementerian Keuangan AS sejak 2019
  • Kehilangan ayah, ibu, dan istri dalam serangan udara AS-Israel di Teheran
  • Menjadi pemimpin tertinggi ketiga Iran sejak Revolusi Islam 1979, setelah Ayatollah Khomeini dan ayahnya

China Bela Mojtaba Khamenei: Ini Urusan Konstitusi, Bukan Urusan Israel

Pernyataan Beijing pada 9 Maret 2026 datang tegas dan langsung. Kondisi Mojtaba Khamenei dikepung ancaman dari Israel membuat China merasa perlu angkat bicara. Guo Jiakun menyampaikan bahwa keputusan Iran menunjuk pemimpin baru itu didasarkan pada konstitusi negaranya sendiri. Therefore, tidak ada pihak luar yang berhak ikut campur.

Guo Jiakun dengan tegas menyatakan bahwa Beijing tidak akan membiarkan pihak luar mana pun ikut campur dalam urusan dalam negeri Iran. Menurutnya, hak Iran untuk menentukan pemimpinnya sendiri harus dijaga sepenuhnya, termasuk keamanan wilayah dan keutuhan negaranya.

Moreover, pernyataan ini bukan yang pertama dari Beijing sejak perang pecah. Previously, China sudah menyebut pembunuhan Ali Khamenei sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan Iran. However, pernyataan 9 Maret itu lebih tajam karena secara langsung menantang ancaman Israel terhadap pemimpin baru Iran.

Additionally, langkah China bukan sekadar bentuk solidaritas. Ada kepentingan besar di baliknya. Stabilitas kawasan Timur Tengah berdampak langsung pada keamanan energi China dan jalannya proyek Belt and Road Initiative yang menghubungkan China dengan puluhan negara di Asia, Afrika, dan Eropa.

Rusia Ikut Bergerak: Putin Kirim Pesan Dukungan Penuh

Not long after pernyataan China, Moskow pun angkat suara. Bagi Rusia, situasi Mojtaba Khamenei dikepung ancaman dari berbagai pihak adalah alasan kuat untuk bertindak. Vladimir Putin mengirim pesan langsung kepada pemimpin baru Iran itu dan menyatakan dukungan penuh Rusia.

Putin menegaskan dalam pesannya bahwa Iran bisa terus mengandalkan Rusia sebagai mitra yang tidak akan bergeser. Ia juga menyebut bahwa memimpin Iran di tengah serangan militer aktif adalah tugas yang membutuhkan keberanian luar biasa dari Mojtaba.

Furthermore, Putin menegaskan bahwa Moskow berdiri bersama Teheran dalam menghadapi tekanan dari Washington dan Tel Aviv. As a result, terbentuklah sebuah poros yang jelas. Di satu sisi ada China dan Rusia yang membela Iran. Di sisi lain ada AS dan Israel yang menolak pemimpin baru Teheran.

Trump dan Israel Menolak Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Iran

Meanwhile, Washington dan Tel Aviv bergerak ke arah yang berlawanan. Presiden AS Donald Trump berbicara kepada NBC News dengan nada kecewa. “Saya pikir mereka membuat kesalahan besar,” katanya tentang keputusan Iran memilih Mojtaba.

In addition, kepada CBS News, Trump menjawab singkat: “Saya tidak punya pesan untuknya.” Trump juga menyatakan bahwa ia punya calon pemimpin Iran sendiri yang lebih tepat, meski tidak mau menyebut siapa.

However, Iran membaca semua itu dengan cara yang berbeda. Anggota senior Assembly of Experts menjadikan penolakan Trump sebagai pembenaran. Mereka merujuk pada pesan mendiang Ali Khamenei bahwa pemimpin Iran harus menjadi sosok yang dibenci oleh musuh. Therefore, penolakan Trump dinilai sebagai bukti bahwa pilihan mereka sudah benar.

Berikut ini kronologi keputusan dan reaksi yang membentuk babak baru perang ini:

  1. Pertama, pada 28 Februari 2026, AS dan Israel melancarkan Operasi Epic Fury ke Iran. Ali Khamenei tewas dalam serangan hari pertama di Teheran.
  2. Kedua, pada 3 Maret 2026, IRGC menekan Assembly of Experts untuk segera memilih penerus. Sidang online pertama digelar di tengah kondisi perang.
  3. Ketiga, pada 8 Maret 2026, Assembly of Experts resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi ketiga Iran.
  4. Keempat, pada hari yang sama, IDF memposting ancaman terbuka bahwa setiap penerus Khamenei akan dijadikan target serangan.
  5. Kelima, pada 9 Maret 2026, China mengeluarkan pernyataan resmi menolak ancaman Israel dan menyebut suksesi itu urusan dalam negeri Iran.
  6. Keenam, pada hari yang sama, Putin mengirim pesan dukungan penuh kepada Mojtaba dan menyebut Rusia sebagai mitra setia Iran.
  7. Terakhir, Trump berbicara kepada dua media besar AS dan menolak memberikan pesan apa pun kepada pemimpin baru Teheran.

Siapa Sebenarnya Mojtaba Khamenei yang Kini Memimpin Iran?

Many people bertanya: siapa sebenarnya Mojtaba Khamenei? Ia adalah sosok yang sangat jarang tampil di ruang publik. Tidak pernah memegang jabatan resmi dalam pemerintahan. Tidak pernah memberi wawancara panjang.

However, pengaruhnya sudah lama terasa di dalam negeri Iran. Para analis menyebutnya sebagai sosok yang bergerak di balik layar. He is believed berada di balik naiknya Mahmoud Ahmadinejad sebagai presiden pada 2005 dan pemilihan ulang yang disengketakan pada 2009.

In addition, Mojtaba menghabiskan sebagian besar kariernya mengajar di seminari Qom. Ia memiliki kedekatan yang kuat dengan IRGC. As a result, IRGC menjadi faktor utama mengapa namanya akhirnya terpilih. IRGC menyebutnya sebagai ahli hukum yang cakap dan pemikir muda.

Kontroversi Suksesi: Warisan Keluarga atau Pilihan Sah?

Moreover, penunjukan Mojtaba memunculkan perdebatan di dalam Iran sendiri. Republik Islam yang lahir dari Revolusi 1979 secara resmi menolak konsep monarki. However, kini untuk pertama kalinya seorang putra dari pemimpin tertinggi sebelumnya menduduki posisi yang sama.

Therefore, sejumlah pengamat menyebut ini sebagai tanda suksesi yang menyerupai pola dinasti. Nevertheless, prosesnya tetap berjalan melalui mekanisme pemilihan yang sah secara hukum.

Dampak Suksesi bagi Kawasan dan Dunia

Naiknya Mojtaba Khamenei bukan hanya soal pergantian satu sosok. In fact, ada sejumlah dampak besar yang perlu dicermati terkait situasi pemimpin Iran yang kini dikepung ancaman dari berbagai penjuru.

First, soal arah perang. Mojtaba dikenal sebagai sosok garis keras yang tidak akan membuka ruang damai dalam waktu dekat. His close ties dengan IRGC memberi tanda bahwa perlawanan militer Iran akan terus berlanjut.

Second, soal posisi China dan Rusia. With Beijing dan Moskow secara terbuka membela Iran, konflik ini tidak lagi hanya antara AS-Israel melawan Iran. Dimensinya kini melebar menjadi persaingan pengaruh antara blok Barat dan blok Timur.

Finally, soal harga energi. Harga minyak mentah sudah melewati angka 100 dolar AS per barel akibat kekhawatiran atas gangguan pasokan melalui Selat Hormuz. As a result, tekanan ekonomi global ini belum akan mereda dalam waktu dekat.

Kesimpulan

Mojtaba Khamenei dikepung ancaman sejak hari pertama menjabat sebagai pemimpin Iran. However, ia tidak berdiri sendirian. China dan Rusia sudah mengambil posisi yang jelas. In conclusion, suksesi kepemimpinan Iran adalah urusan dalam negeri yang tidak boleh diintervensi oleh kekuatan asing mana pun.

Therefore, perang yang dimulai sebagai konflik militer kini berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Ini adalah ujian bagi tatanan dunia, tentang siapa yang berhak menentukan nasib sebuah bangsa. Jawaban atas pertanyaan itu akan sangat menentukan arah dunia dalam beberapa pekan ke depan.

Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Global

Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: Trump Tolak Bantuan Inggris, Dua Kapal Induk Ditolak

Author

Copyright @ 2026 Incaberita. All right reserved