April 3, 2026

INCABERITA

Jelajahi Kabar Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini.

Krisis Pangan Negara Teluk Makin Nyata, Iran Blokir Selat Hormuz dan Hentikan Seluruh Ekspor Makanan

Krisis Pangan Negara Teluk Jadi Cermin Dunia, Konflik di Satu Kawasan Bisa Hancurkan Rantai Makanan Global Sekaligus

JAKARTA, incaberita.co.id – Di rak-rak supermarket Dubai yang biasanya selalu penuh, kini mulai terlihat celah-celah kosong. Bukan karena pembeli yang tiba-tiba membeli lebih banyak, melainkan karena kapal-kapal pengangkut makanan tidak lagi bisa masuk dengan bebas. Krisis pangan negara Teluk bukan lagi cerita buruk yang dibahas di ruang sidang. Kini, krisis itu mulai mengintip dari balik pintu lemari es jutaan warga Arab Saudi, UEA, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman.

Perang Iran yang meletus sejak 28 Februari 2026, setelah serangan gabungan AS dan Israel dalam Operasi Epic Fury, telah mengubah peta ketahanan pangan kawasan secara besar. Selat Hormuz, jalur sempit yang selama ini menjadi urat nadi pasokan makanan kawasan Teluk, kini dalam kondisi terganggu berat. Akibatnya, dampak yang muncul jauh lebih dalam dari sekadar lonjakan harga bahan bakar.

Krisis Pangan Negara Teluk Bermula dari Satu Selat

Krisis Pangan Negara Teluk Makin Nyata, Iran Blokir Selat Hormuz dan Hentikan Seluruh Ekspor Makanan

Sumber gambar : Inca Berita

Selat Hormuz sering disebut sebagai titik paling rawan dalam jalur energi dunia. Namun pada kenyataannya, selat ini jauh lebih dari sekadar jalur minyak. Lebih dari 70 persen kebutuhan pangan negara-negara GCC diimpor melalui jalur ini. Selain itu, kawasan Teluk secara keseluruhan bergantung pada impor untuk 80 hingga 90 persen kebutuhan pangannya. Angka ini mengejutkan, mengingat betapa kayanya kawasan ini secara keuangan.

Ketika Iran melancarkan serangan balasan pasca Operasi Epic Fury, salah satu target yang paling terasa dampaknya adalah Pelabuhan Jebel Ali di Dubai. Pelabuhan ini adalah tempat penyimpanan barang terbesar di kawasan Timur Tengah. Serangan Iran memaksa kegiatan pelabuhan itu berhenti selama berjam-jam. Ini bukan sekadar angka perdagangan yang terganggu. Ini adalah pintu masuk utama makanan bagi puluhan juta warga.

Neil Quilliam, peneliti dari lembaga kajian Chatham House, memperingatkan bahwa meski negara-negara GCC telah mengambil langkah untuk mencari pemasok lain dan membangun cadangan, ketahanan itu hanya bisa bertahan beberapa bulan. Setelah itu, kenaikan harga dan keterlambatan barang akan mulai memukul pasar secara nyata.

Mengapa Krisis Pangan Terjadi di Negara Kaya Minyak

Inilah ironi terbesar kawasan Teluk. Negara-negara yang selama ini menjual minyak ke seluruh dunia justru tidak mampu menanam cukup pangan untuk rakyatnya sendiri. Bukan karena malas, melainkan karena iklim dan letak geografis tidak mendukung.

Setelah krisis pangan global 2008, negara-negara Teluk mengubah cara mereka secara mendasar. Alih-alih memaksakan produksi pangan lokal di tengah iklim gurun yang keras dan kurangnya air, mereka memilih untuk menanamkan kekayaan minyak ke lahan pertanian di luar negeri. Dengan demikian, mereka membangun jaringan impor yang lebih murah dan efisien. Arab Saudi, misalnya, secara resmi memangkas program tanam gandumnya pada 2008. Sejak saat itu, negara ini menjadi hampir sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar negeri.

Cara ini masuk akal di masa damai. Namun ketika perang menutup jalur laut utama, seluruh bangunan ketahanan pangan itu langsung goyah. Tidak ada lagi lahan pertanian cadangan yang bisa dipakai. Tidak ada lagi program pangan lokal yang bisa dihidupkan kembali dalam semalam.

Kondisi paling berat dialami Bahrain. Negara pulau kecil ini hanya memiliki satu jalur darat ke daratan Arab Saudi, yaitu melalui King Fahd Causeway. Warga Bahrain secara terbuka mengakui bahwa mereka sangat bergantung pada jembatan itu. Jika jalur laut terganggu dan jembatan itu pun bermasalah karena perang di kawasan, Bahrain bisa terisolasi secara logistik dalam waktu yang sangat singkat.

Rantai Krisis Pangan Negara Teluk dari Perang hingga Meja Makan

Berikut adalah urutan bagaimana perang Iran berubah menjadi ancaman pangan kawasan:

  1. Pertama, pada 28 Februari 2026, AS dan Israel melancarkan Operasi Epic Fury terhadap Iran secara serentak
  2. Kedua, Iran membalas dengan mengirim rudal balistik dan drone ke pangkalan militer AS di Qatar, UEA, Kuwait, Bahrain, Arab Saudi, dan Yordania
  3. Ketiga, Iran menutup Selat Hormuz secara efektif dan menghentikan seluruh ekspor makanan serta hasil pertaniannya
  4. Keempat, serangan Iran menghantam Pelabuhan Jebel Ali di Dubai, menghentikan kegiatan pelabuhan terbesar kawasan selama berjam-jam
  5. Kelima, perusahaan pelayaran besar seperti Maersk dan Hapag-Lloyd mulai mengalihkan jalur kapal melalui Tanjung Harapan, sehingga waktu dan biaya pengiriman bertambah jauh
  6. Keenam, harga urea sebagai bahan baku pupuk naik dari 466 dolar per ton menjadi 590 dolar per ton hanya dalam tiga hari
  7. Terakhir, stok pangan di pelabuhan-pelabuhan Teluk mulai habis tanpa ada pengisian ulang yang normal

Krisis Pangan Negara Teluk Diperberat oleh Pupuk dan Air

Krisis pangan negara Teluk tidak hanya soal makanan yang tidak bisa masuk. Ada dua lapis ancaman tambahan yang membuat keadaan ini jauh lebih berat.

Pertama, soal pupuk. Kawasan Teluk bukan hanya penghasil minyak, melainkan juga penghasil pupuk terbesar di dunia. Negara-negara di sepanjang Teluk menghasilkan amonia dan urea dalam jumlah sangat besar. Bahan-bahan ini adalah bahan utama pupuk nitrogen yang menjadi dasar hasil panen di seluruh dunia. Selain itu, sepertiga dari seluruh kiriman pupuk dunia melewati Selat Hormuz. Oleh karena itu, ketika jalur ini terganggu, dampaknya tidak langsung terasa hari ini. Efeknya baru akan muncul pada musim tanam berikutnya di lahan-lahan pertanian di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

Kedua, soal air. Kawasan Teluk mendapat sekitar 60 persen kebutuhan airnya dari pabrik pengolahan air laut. Pabrik-pabrik ini sangat mudah diserang. Jika satu pabrik pengolahan air besar di Riyadh hancur, sebuah kota dengan 10 juta penduduk bisa kehabisan air dalam dua pekan. Akibatnya, krisis pangan yang sudah mengkhawatirkan bisa berubah menjadi krisis pangan sekaligus krisis air pada waktu yang sama.

Cadangan Pangan Ada, Namun Tidak Cukup untuk Selamanya

Beberapa langkah http://2017.mekongtourismforum.org/ yang sudah disiapkan negara-negara Teluk untuk menghadapi krisis pangan ini antara lain:

  • UEA memiliki gudang biji-bijian di Fujairah sejak 2016, letaknya di pantai Samudra Hindia di luar jangkauan Selat Hormuz, dengan kapasitas sekitar 300.000 ton
  • Qatar memiliki Terminal Ketahanan Pangan di Pelabuhan Hamad yang dilengkapi 51 gudang berpendingin
  • Beberapa negara GCC telah mencari pemasok pangan dari negara-negara yang tidak bergantung pada jalur Hormuz
  • Delapan negara OPEC+ mengumumkan penambahan produksi minyak pada 1 Maret 2026 untuk menstabilkan pasar energi

Namun demikian, semua cadangan itu ada batasnya. Para ahli menegaskan bahwa jika perang terus berlanjut lebih dari beberapa bulan, tidak ada cadangan yang cukup untuk menopang kawasan yang sepenuhnya bergantung pada impor.

Sinyal Bahaya Krisis Pangan bagi Seluruh Dunia

Krisis pangan negara Teluk adalah gambaran nyata dari kelemahan sistem pangan dunia. Ketika satu jalur laut terganggu, seluruh rantai pasokan makanan dunia ikut goyah. Ini bukan pertama kalinya dunia menghadapi keadaan serupa. Sebagai contoh, pandemi Covid-19 pernah memperlihatkan betapa rapuhnya rantai pasok global. Kemudian, Perang Ukraina pada 2022 mengguncang pasar gandum dan pupuk secara bersamaan. Kini, konflik Iran mengancam sepertiga kiriman pupuk dan sebagian besar pasokan energi dunia dalam satu waktu.

Bagi Indonesia sebagai negara yang masih mengimpor minyak dan memakai pupuk dalam jumlah besar, keadaan ini bukan sekadar berita dari jauh. Kenaikan harga pupuk dunia akan langsung menekan biaya produksi petani. Selain itu, naiknya harga pangan dari kawasan Teluk bisa terasa sampai ke pasar tradisional di Jawa, Sumatera, hingga Sulawesi.

Sampai Kapan Krisis Pangan Negara Teluk Akan Berlangsung?

Tidak ada jawaban pasti. Perang Iran belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Sementara itu, waktu terus berjalan bagi cadangan pangan negara-negara Teluk. Setiap hari tanpa kapal yang masuk adalah satu hari lebih dekat ke titik kritis.

Di balik kemewahan gedung-gedung tinggi Dubai, di balik kemegahan pusat perbelanjaan Abu Dhabi, ada kenyataan baru yang diam-diam mulai terbentuk: rak-rak yang lebih kosong, harga yang lebih tinggi, dan rasa tidak pasti yang semakin tebal. Negara-negara Teluk yang selama ini dikenal sebagai lambang kemakmuran kini menghadapi pertanyaan paling dasar: dari mana makanan untuk besok akan datang?

Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Global

Author

Copyright @ 2026 Incaberita. All right reserved