Harga Minyak Dunia Maret 2026 Masih di Atas USD 100, Ini Kronologi Lengkap Pergerakan Harga Sepanjang Bulan Ini
JAKARTA, incaberita.co.id – Harga minyak dunia Maret 2026 menjadi salah satu episode paling dramatis dalam sejarah pasar energi global. Dalam satu bulan saja, harga minyak naik hingga 70 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini dipicu oleh serangkaian peristiwa geopolitik yang saling terkait dan sulit diprediksi.
Di balik angka yang terus berubah setiap hari, ada satu benang merah yang mengikat seluruh pergerakan ini: perang. Konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pecah pada 28 Februari 2026. Akibatnya, peta energi global berubah secara mendasar. Selat Hormuz, jalur yang setiap hari dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, kini terganggu. Oleh karena itu, pasar energi global bergejolak tanpa henti sepanjang Maret 2026.
Awal Maret: Harga Minyak Dunia Meledak Tembus USD 100

Sumber gambar : pintu.co.id
Pekan pertama Maret 2026 langsung dibuka dengan guncangan besar. Pada 9 Maret 2026, harga minyak dunia melonjak tajam menembus USD 100 per barel. Ini adalah pertama kalinya harga menembus batas itu dalam beberapa waktu terakhir. Dua acuan utama pasar energi yaitu Brent Crude dan WTI keduanya melewati batas psikologis tersebut dalam satu sesi perdagangan.
Lonjakan ini bukan tanpa sebab. Pertama, ketegangan antara Iran, AS, dan Israel terus naik setelah serangkaian serangan di kawasan Timur Tengah. Kedua, pergantian kepemimpinan di Iran menambah ketidakpastian politik. Ketiga dan paling penting, ancaman gangguan di Selat Hormuz menjadi pemicu utama yang langsung mendorong harga ke atas.
Pertengahan Maret: Harga Minyak Dunia Tetap Tinggi di USD 101
Sepanjang pekan kedua Maret 2026, harga minyak dunia bertahan di level tinggi. Pada 13 Maret 2026, Brent Crude tercatat di USD 101,07 per barel. Sementara itu, WTI berada di USD 95,91 per barel. Keduanya bergerak naik turun namun tetap kuat karena pasar terus pantau perkembangan konflik di Timur Tengah.
Pada periode ini, beberapa fakta kunci mempengaruhi pergerakan harga minyak dunia sebagai berikut:
- Konflik di kawasan Teluk secara efektif menghentikan hampir seluruh pengiriman melalui Selat Hormuz yang biasa dilalui sekitar 20 persen aliran minyak dunia setiap harinya
- Iran mengisyaratkan tidak berniat mengembalikan kondisi pengiriman normal di Selat Hormuz dalam waktu dekat
- Sekutu AS termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mengambil sikap yang lebih keras terhadap Iran setelah serangan di wilayah mereka
- Laporan menunjukkan Riyadh mulai mempertimbangkan tindakan militer jika infrastrukturnya menjadi target serangan
23 Maret: Harga Minyak Dunia Anjlok 10 Persen Sehari
Senin 23 Maret 2026 menjadi hari paling dramatis sepanjang bulan ini. Harga minyak dunia tiba-tiba anjlok lebih dari 10 persen hanya dalam satu sesi. Ini adalah salah satu penurunan harian terbesar dalam sejarah pasar energi modern.
Pemicunya adalah keputusan Presiden AS Donald Trump. Ia menunda serangan yang direncanakan terhadap fasilitas energi Iran selama lima hari. Selain itu, Trump menyatakan pembicaraan produktif sedang berlangsung. Ia juga menyebut harga minyak akan jatuh seperti batu setelah kesepakatan tercapai. Pasar langsung menafsirkan ini sebagai sinyal meredanya perang. Oleh karena itu, premi risiko yang selama ini menopang harga minyak langsung hilang.
24 Maret: Harga Minyak Dunia Naik Lagi Usai Iran Tolak Negosiasi
Hanya satu hari setelah anjlok, harga minyak dunia langsung berbalik naik. Pada Selasa 24 Maret 2026, Brent naik 2,89 dolar AS atau sekitar 2,9 persen menjadi USD 102,83 per barel. Sementara itu, WTI menguat 2,49 dolar AS atau 2,8 persen ke level USD 90,62 per barel.
Penyebabnya sama dramatisnya. Iran secara tegas menolak klaim adanya komunikasi dengan Washington. Mereka menyebutnya sebagai upaya memanipulasi pasar keuangan. Selain itu, Garda Revolusi Iran mengklaim telah menyerang target AS. Mereka juga menyebut pernyataan Trump sebagai operasi psikologis yang sudah usang. Di saat bersamaan, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menyatakan siap bergabung dalam konflik melawan Iran.
Kepala Analis KCM Trade, Tim Waterer, menilai penundaan serangan Trump sempat meredam premi risiko perang. Namun demikian, respons tegas Iran langsung membalikkan sentimen pasar.
25 Maret: Harga Minyak Dunia Kembali Turun karena Diplomasi
Rabu 25 Maret 2026 membawa angin berbeda ke pasar energi. Brent turun ke USD 99,8 per barel dan WTI ke USD 88,9 per barel. Sentimen membalik setelah kabar dari Washington menunjukkan adanya upaya serius untuk mengakhiri perang. Sebuah proposal perdamaian berisi 15 poin disebut telah dikirim kepada pihak Iran. Selain itu, laporan menyebut AS tengah menjajaki jeda tempur selama satu bulan guna membuka ruang pembicaraan.
Pasar langsung merespons positif. Namun demikian, situasi tetap penuh ketidakpastian. Trump sebelumnya telah tambah ribuan personel militer ke kawasan, membuat arah kebijakan AS sulit dibaca dalam jangka pendek.
Proyeksi Harga Minyak Dunia ke Depan
Ke mana arah harga minyak dunia Maret 2026 dan seterusnya? Para analis memberi rentang proyeksi yang sangat lebar. Ini mencerminkan betapa tingginya ketidakpastian yang masih ada di pasar energi global saat ini.
Berikut proyeksi dari berbagai lembaga dan analis terkemuka:
- Macquarie Group memperkirakan harga minyak bertahan di kisaran USD 85 hingga 90 per barel sebagai skenario dasar
- Jika Selat Hormuz belum pulih hingga akhir April 2026, harga Brent berpotensi melonjak hingga USD 150 per barel
- Analis senior Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, memperkirakan gangguan pasar masih berlangsung setidaknya hingga April 2026
- Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menyatakan pihaknya berkonsultasi dengan pemerintah di Asia dan Eropa terkait kemungkinan pelepasan cadangan strategis tambahan
- AS sementara melonggarkan sanksi terhadap minyak Rusia dan Iran yang sudah berada di laut sebagai langkah darurat meredakan kekurangan pasokan
Dampak Harga Minyak Dunia ke Subsidi BBM Indonesia
Gejolak harga minyak dunia Maret 2026 langsung memukul keuangan negara Indonesia. Pemerintah memang berhasil jaga harga Pertalite tetap stabil hingga akhir Maret. Namun di balik itu, ada beban besar yang terus bertambah di sisi anggaran.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut asumsi harga ICP dalam APBN ditetapkan di USD 70 per barel. Kenyataannya, harga minyak sudah bergerak jauh di atas USD 100 per barel. Jarak inilah yang harus ditanggung negara melalui pos subsidi dan kompensasi energi yang terus membengkak.
Angkanya tidak kecil. Beban subsidi energi nasional terus naik dari tahun ke tahun. Pada 2021, angkanya tercatat Rp 140,4 triliun. Pada 2024, naik menjadi Rp 177,6 triliun. Untuk 2026, proyeksinya sudah menyentuh Rp 210,1 triliun dengan komponen terbesar dari BBM dan LPG.
Hadi Ismoyo, praktisi industri migas, memperkirakan kemampuan pemerintah menahan harga BBM bersubsidi masih cukup untuk sekitar enam bulan ke depan. Asumsinya, harga minyak dunia tidak jauh dari kisaran USD 90 per barel. Jika kondisi itu terpenuhi, tambahan beban anggaran diperkirakan sekitar Rp 7,4 triliun sepanjang tahun ini.
Sementara itu, Dirjen Migas Laode Sulaeman menyebut dampak nyata dari lonjakan ini baru akan terasa lebih berat mulai April 2026. Oleh karena itu, fokus pemerintah saat ini adalah memastikan stok BBM, LPG, dan minyak mentah nasional dalam kondisi aman dan cukup.
Reformasi Subsidi Jadi Desakan di Tengah Lonjakan Harga Minyak Dunia
Tekanan harga minyak yang terus tinggi memunculkan suara kritis dari kalangan pengamat. Badiul Hadi dari Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran melihat kondisi ini sebagai peringatan keras bagi pemerintah. Menurutnya, selama sistem subsidi energi tidak dibenahi dari akar, setiap gejolak harga global akan selalu memukul APBN dengan cara yang sama.
Ia mendorong pemerintah beralih ke model pemberian subsidi yang lebih terukur dan tepat sasaran. Bukan lagi subsidi massal yang dinikmati semua kalangan tanpa pembedaan. Yang dibutuhkan adalah sistem yang bisa membedakan siapa yang benar-benar butuh bantuan dan siapa yang tidak.
Badiul menyebut tiga langkah yang perlu segera diambil. Pertama, pembaruan data penerima subsidi secara menyeluruh menggunakan teknologi. Kedua, penyambungan sistem subsidi dengan program perlindungan sosial yang sudah ada. Ketiga, penerbitan perhitungan subsidi yang bisa diakses publik secara terbuka. Tanpa tiga langkah itu, kata dia, APBN akan terus rentan setiap kali harga energi global bergejolak.
Satu Bulan yang Mengubah Pasar Minyak Dunia Selamanya
Maret 2026 akan diingat sebagai bulan ketika dunia tersadar betapa rapuhnya ketahanan energi global. Satu jalur laut sepanjang 33 kilometer, yaitu Selat Hormuz, terbukti cukup untuk mengguncang harga energi di seluruh penjuru bumi hanya dalam hitungan hari.
Bagi Indonesia, ini bukan sekadar berita dari luar negeri. Ini adalah ujian nyata bagi ketahanan fiskal dan energi dalam negeri. Selama model subsidi massal belum diubah dan ketergantungan pada minyak impor belum berkurang, setiap krisis energi global akan selalu menemukan celah yang sama untuk masuk dan menekan anggaran negara.
Perang di Timur Tengah belum selesai. Selat Hormuz belum pulih sepenuhnya. Dan harga minyak dunia masih jauh dari stabil. Artinya, tantangan terberat mungkin belum datang.
Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Global
Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: HKICS 2026 Resmi Digelar, Hong Kong Tegaskan Diri sebagai Pusat Seni dan Budaya Kelas Dunia di Asia
