April 3, 2026

INCABERITA

Jelajahi Kabar Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini.

Harga Emas Anjlok, Emas Antam Turun ke Rp2.843.000 per Gram Usai Lebaran, Ini Dampak bagi Investor Lokal

Harga Emas Anjlok 13 Persen dalam Delapan Hari, Catat Rekor Penurunan Terburuk Sejak 43 Tahun Silam

JAKARTA, incaberita.co.id – Harga emas anjlok di momen yang paling tidak terduga. Tepat setelah jutaan orang Indonesia selesai merayakan Hari Raya Idulfitri 2026, kabar dari pasar logam mulia dunia datang dengan nada yang sama sekali tidak meriah. Harga emas Antam pada Senin 23 Maret 2026 resmi merosot ke level Rp2.843.000 per gram. Angka ini turun Rp50.000 dari harga sebelumnya di angka Rp2.893.000 per gram.

Tidak hanya harga beli yang tergerus. Harga buyback atau harga jual kembali ke Antam pun ikut turun sebesar Rp50.000 ke posisi Rp2.560.000 per gram. Oleh karena itu, memahami apa yang terjadi di balik penurunan harga emas anjlok ini menjadi sangat penting sebelum mengambil keputusan investasi apapun.

Harga Emas Anjlok Terparah dalam 43 Tahun Terakhir

Harga Emas Anjlok, Emas Antam Turun ke Rp2.843.000 per Gram Usai Lebaran, Ini Dampak bagi Investor Lokal

Sumber gambar : celah.id

Penurunan harga emas saat ini bukan koreksi biasa. Ini adalah salah satu episode paling berat dalam sejarah modern pasar logam mulia. Berdasarkan data Refinitiv, harga emas dunia pada penutupan Jumat 20 Maret 2026 berada di posisi USD 4.494,02 per troy ons. Harganya ambruk 3,32 persen hanya dalam satu hari.

Yang lebih mengejutkan adalah gambaran kumulatifnya. Dalam delapan hari beruntun, harga emas terjun bebas sebesar 13,43 persen. Sementara itu, dalam skala mingguan, harga emas anjlok 10,58 persen. Penurunan ini tercatat sebagai yang terbesar sejak pekan yang berakhir 4 Maret 1983 atau 43 tahun silam.

Sejak perang AS-Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari 2026, harga emas telah merosot lebih dari 14 persen. Padahal sebelumnya, pada akhir Januari 2026, harga emas sempat menyentuh rekor mendekati USD 5.600 per troy ons.

Tiga Faktor Utama Penyebab Harga Emas Anjlok

Banyak investor bertanya mengapa harga emas anjlok justru di tengah perang dan ketidakpastian global. Bukankah emas adalah aset safe haven yang seharusnya naik saat dunia bergejolak? Kenyataannya, ada tiga faktor yang bekerja bersamaan dan menekan harga emas ke bawah.

Berikut tiga penyebab utama harga emas anjlok saat ini:

  • Penguatan dolar AS yang dipicu lonjakan harga energi akibat konflik Iran. Karena emas dihargai dalam dolar, penguatan ini membuat harga emas lebih mahal bagi investor global. Indeks dolar AS tercatat berada di kisaran 99,56 hingga 99,65 dalam beberapa hari terakhir
  • Ekspektasi suku bunga tinggi dari bank sentral global, terutama The Fed. Peluang pemangkasan suku bunga pada Mei 2026 anjlok dari 60 persen menjadi hanya 16 persen. Ketika suku bunga tinggi, emas kalah menarik dibanding obligasi yang memberi imbal hasil
  • Aksi jual besar-besaran oleh investor yang butuh likuiditas. Gejolak pasar memaksa banyak pihak menjual emas untuk menutup kerugian di aset lain. Dana berbasis emas atau ETF pun mencatat arus keluar yang signifikan

Dengan demikian, emas berperilaku sangat berbeda dari biasanya. Para strategist bank Belanda ING menyebut momentum kenaikan harga emas telah memudar. Bahkan emas kini diperdagangkan lebih mirip saham spekulatif dibanding aset safe haven tradisional.

Dampak Harga Emas Anjlok bagi Investor Lokal Indonesia

Penurunan harga emas dunia langsung terasa di pasar dalam negeri. Berikut gambaran pergerakan harga emas anjlok di Indonesia yang perlu diketahui investor lokal:

  1. Harga emas Antam 1 gram kini di Rp2.843.000, turun dari rekor tertinggi Rp3.168.000 per gram pada 29 Januari 2026
  2. Harga buyback emas Antam saat ini di level Rp2.560.000 per gram, turun jauh dari level tertinggi Rp2.989.000 per gram
  3. Harga emas batangan turun dari Rp2.992.000 menjadi Rp2.843.000 per gram hanya dalam sepekan
  4. Investor yang beli emas Antam awal 2026 di harga Rp2.504.000 per gram masih bisa untung meski harga sedang terkoreksi
  5. Investor yang masuk awal 2025 di harga Rp1.524.000 per gram masih mencatat kenaikan yang sangat besar

Dengan demikian, dampak penurunan ini dirasakan berbeda tergantung kapan investor pertama kali masuk ke pasar emas.

Peringatan Trader dan Analis soal Harga Emas Anjlok

Komunitas trader dan analis keuangan global tidak tinggal diam. Robert Gottlieb, mantan trader logam mulia di JPMorgan Chase, memberi peringatan tegas kepada investor yang tergoda beli di harga yang sudah turun jauh ini.

Menurutnya, jangan terburu-buru masuk saat harga emas anjlok karena volatilitasnya masih terlalu tinggi. Selama harga belum menunjukkan tanda konsolidasi, tekanan jual masih bisa berlanjut.

Selain itu, Tai Wong, trader logam independen, menyebut emas dan perak terseret turun karena pasar menghadapi tekanan berlapis. Ia menyebut emas kini sangat bergejolak dan kemungkinan besar akan segera konsolidasi, namun tetap berisiko tinggi dalam jangka pendek.

Hardika Singh dari Fundstrat menilai bahwa meningkatnya imbal hasil obligasi menjadi penyebab utama turunnya harga emas dalam beberapa waktu terakhir.

China Justru Borong Emas Saat Harga Anjlok

Di tengah tekanan jual yang masif, ada satu kekuatan besar yang bekerja menahan harga emas agar tidak jatuh lebih dalam. Bank sentral China atau PBOC tercatat membeli emas secara konsisten selama 16 bulan berturut-turut.

Cadangan emas China kini mencapai 74,22 juta troy ons dengan nilai hampir USD 387 miliar. Langkah ini disebut para analis sebagai lantai struktural yang menopang harga emas secara global. Artinya, meski harga emas anjlok dalam jangka pendek, ada batas bawah yang cukup kuat selama pembelian masif dari bank sentral besar masih berjalan.

Selain China, sejumlah bank sentral negara berkembang lainnya juga masih aktif menambah cadangan emas mereka sebagai bagian dari strategi menjauhi dolar AS.

Prospek dan Strategi Investasi di Tengah Harga Emas Anjlok

Meski situasi terlihat berat, sejumlah analis masih memandang prospek jangka panjang emas dengan positif. Pengamat komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan jika harga emas berbalik menguat, level tahan pertama ada di USD 4.559 per troy ons. Kondisi ini dapat mendorong harga emas Antam kembali ke kisaran Rp2.920.000 per gram.

Dalam jangka panjang, harga emas masih berpotensi naik hingga Rp3.500.000 per gram pada akhir 2026. Selain itu, meski harga emas anjlok tajam, emas masih mencatat kenaikan sekitar 8 persen sepanjang tahun berjalan.

Bagi investor yang ingin masuk di tengah kondisi ini, berikut strategi yang bisa dipertimbangkan:

  • Terapkan metode beli bertahap atau dollar cost averaging daripada membeli sekaligus dalam satu waktu
  • Perhatikan level tahan kuat di Rp2.800.000 per gram sebagai batas bawah harga emas Antam jangka pendek
  • Pantau pergerakan indeks dolar AS dan kebijakan suku bunga The Fed sebagai dua sinyal utama arah harga emas
  • Jangan panik dan jual besar-besaran jika tujuan investasi adalah jangka panjang karena dasar emas masih kuat
  • Waspadai volatilitas yang masih tinggi dan hindari keputusan investasi berdasarkan emosi sesaat

Harga Emas Anjlok, Tapi Belum Saatnya Panik

Penurunan harga emas yang terjadi saat ini memang terasa berat, terutama bagi mereka yang masuk di dekat harga tertinggi. Namun perlu diingat bahwa koreksi adalah bagian alami dari setiap siklus pasar. Sepanjang 2025, harga emas sudah naik 64 persen dan mencetak kinerja tahunan terbaik sejak 1979.

Yang berubah saat ini adalah konteksnya. Perang di Timur Tengah yang seharusnya mendorong harga emas naik justru memicu kebijakan moneter yang menekannya dari arah berbeda. Namun selama bank sentral besar masih aktif membeli, emas tetap punya dasar yang kuat untuk kembali naik.

Bagi investor lokal Indonesia, kunci utamanya adalah tetap tenang dan tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya karena harga emas anjlok hari ini terlihat menakutkan.

Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Global

Author

Copyright @ 2026 Incaberita. All right reserved