May 31, 2026

INCABERITA

Jelajahi Kabar Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini.

Dolar Tembus Rp17.800, Rupiah Melemah ke Level Terendah dalam Sejarah

Rupiah Terpuruk! Dolar Tembus Rp17.800, BI dan Pemerintah Bergerak Cepat

Jakarta, incaberita.co.id Dolar tembus Rp17.800 menjadi isu ekonomi yang paling banyak dibahas dalam beberapa hari terakhir. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan hingga menyentuh level yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Berdasarkan data perdagangan pasar spot, rupiah sempat bergerak di kisaran Rp17.800 per dolar AS dan bahkan menyentuh level Rp17.830 hingga Rp17.871 per dolar AS dalam beberapa sesi perdagangan akhir Mei 2026.

Pelemahan ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha, investor, hingga masyarakat karena dapat berdampak langsung terhadap harga barang impor, biaya produksi, dan kondisi ekonomi nasional.

Rupiah Tembus Level Terlemah Sepanjang Sejarah

Dolar Tembus Rp17.800

Image Source: INCABERITA

Melemahnya rupiah kali ini menjadi perhatian karena telah melewati sejumlah level psikologis penting yang sebelumnya dianggap sulit ditembus.

Pada perdagangan 27 Mei 2026, rupiah dibuka melemah hingga menyentuh Rp17.833 per dolar AS dan melanjutkan tren negatif dari hari-hari sebelumnya.

Sementara itu, data Bloomberg yang dikutip sejumlah media menunjukkan rupiah sempat bergerak di kisaran Rp17.795 hingga Rp17.871 per dolar AS, menjadikannya salah satu titik terlemah dalam sejarah nilai tukar rupiah.

Kondisi tersebut membuat banyak pihak mulai membandingkan situasi saat ini dengan periode tekanan rupiah pada krisis ekonomi sebelumnya.

Penyebab Dolar Tembus Rp17.800

Sejumlah analis menilai pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga tekanan global yang sedang berlangsung.

Beberapa faktor utama yang disebut menjadi penyebab dolar tembus Rp17.800 antara lain:

  • Penguatan dolar AS di pasar global.
  • Ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
  • Kenaikan harga minyak dunia.
  • Arus modal asing yang keluar dari negara berkembang.
  • Kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi global.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut konflik geopolitik dan kenaikan harga minyak menjadi salah satu pemicu utama tekanan terhadap rupiah dalam beberapa pekan terakhir.

Selain faktor eksternal, sejumlah pengamat juga menyoroti sentimen domestik yang dinilai ikut memengaruhi kepercayaan investor terhadap aset keuangan Indonesia.

Pemerintah dan BI Berusaha Menahan Tekanan Rupiah

Di tengah pelemahan nilai tukar, pemerintah dan Bank Indonesia terus melakukan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah telah melakukan simulasi terhadap berbagai skenario terburuk, termasuk ketika rupiah berada di level Rp17.800 per dolar AS.

Menurut Purbaya, kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih dalam kondisi aman dan tidak memerlukan perhitungan ulang meskipun kurs dolar terus menguat.

Pemerintah juga disebut melakukan intervensi di pasar obligasi untuk menjaga stabilitas yield dan mempertahankan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.

Sementara itu, Bank Indonesia terus melakukan langkah stabilisasi nilai tukar guna mengurangi tekanan yang terjadi di pasar valuta asing.

Dampak Dolar Rp17.800 bagi Masyarakat

Ketika dolar tembus Rp17.800, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku pasar keuangan, tetapi juga masyarakat secara langsung.

Beberapa sektor yang berpotensi terdampak antara lain:

1. Harga Barang Impor Naik

Produk elektronik, gadget, komputer, hingga barang impor lainnya berpotensi mengalami kenaikan harga karena biaya pembelian dari luar negeri menjadi lebih mahal.

2. Biaya Produksi Industri Bertambah

Banyak industri nasional masih menggunakan bahan baku impor. Pelemahan rupiah membuat biaya produksi meningkat sehingga berpotensi memicu kenaikan harga barang di pasaran.

3. Tiket dan Biaya Perjalanan Luar Negeri Lebih Mahal

Masyarakat yang berencana bepergian ke luar negeri juga akan merasakan dampaknya karena kebutuhan valuta asing menjadi lebih mahal.

4. Risiko Inflasi Meningkat

Jika pelemahan rupiah berlangsung lama, harga barang dan jasa berpotensi naik sehingga dapat memengaruhi daya beli masyarakat.

Pengamat Prediksi Rupiah Bisa Sentuh Rp18.000

Sejumlah pengamat bahkan memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut apabila kondisi global belum membaik.

Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah memiliki peluang menyentuh level Rp18.000 per dolar AS jika tekanan eksternal terus berlanjut dan sentimen pasar belum pulih.

Prediksi tersebut membuat pasar terus memantau perkembangan kebijakan Bank Indonesia, arah suku bunga AS, serta kondisi geopolitik dunia yang saat ini masih penuh ketidakpastian.

Penutup

Dolar tembus Rp17.800 menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap rupiah masih cukup besar. Faktor global seperti geopolitik, harga minyak, dan penguatan dolar AS menjadi pemicu utama pelemahan nilai tukar dalam beberapa pekan terakhir.

Meski pemerintah memastikan kondisi APBN dan pasar keuangan masih terkendali, masyarakat tetap perlu mewaspadai dampak pelemahan rupiah terhadap harga barang, biaya produksi, dan aktivitas ekonomi sehari-hari.

Baca Juga Konten Dengan Kategori Terkait Tentang: Lokal

Baca Juga Artikel Dari: Kebakaran di Tambora Krendang Hanguskan Puluhan Rumah, Ratusan Warga Terdampak

Author

Copyright @ 2026 Incaberita. All right reserved