Ali Larijani Tewas dalam Serangan Israel, Struktur Kekuasaan Iran Kian Terguncang
JAKARTA, incaberita.co.id – Dunia internasional kembali diguncang kabar mengejutkan dari Timur Tengah. Ali Larijani tewas dalam serangan udara Israel pada Selasa malam, 17 Maret 2026. Sosok yang selama hampir dua dekade menjadi salah satu pilar kekuasaan Iran ini dinyatakan gugur. Berita Ali Larijani tewas dikonfirmasi secara resmi oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran beberapa jam setelah Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengklaim keberhasilan operasi tersebut.
Lebih dari itu, kematian Ali Larijani bukan sekadar hilangnya seorang pejabat tinggi. Dalam konteks geopolitik regional yang sedang memanas, gugurnya tokoh berusia 67 tahun ini menandai pukulan telak bagi struktur kepemimpinan Iran. Terlebih lagi, negara ini baru saja kehilangan Ayatollah Ali Khamenei kurang dari tiga pekan sebelumnya. Akibatnya, peristiwa Ali Larijani tewas memicu pertanyaan besar: siapa yang akan mengisi kekosongan kekuasaan di Teheran? Bagaimana pula Iran akan merespons eskalasi konflik yang kian tak terkendali?
Serangan Malam yang Merenggut Ali Larijani

Sumber gambar : siap.viva.co.id
Tragedi terjadi pada malam 16 Maret 2026 di kawasan pinggiran timur Tehran. Saat itu, Ali Larijani tengah berada di kediaman putrinya. Fars News Agency, media semi-resmi Iran, melaporkan bahwa rudal tiba-tiba menghantam kompleks hunian tersebut. Korban bukan hanya Ali Larijani. Morteza Larijani, putranya, beserta Alireza Bayat yang menjabat sebagai kepala kantor pribadi, juga gugur dalam peristiwa kelam tersebut.
Pernyataan Iran tersebut mengonfirmasi klaim Israel yang lebih dulu disampaikan. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyebut operasi ini sebagai bagian dari balasan atas tindakan Iran yang menutup Selat Hormuz sejak akhir Februari. “Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, telah dilenyapkan,” ucap Katz tegas dalam konferensi pers di Tel Aviv.
Profil Ali Larijani: Tokoh yang Tewas dan Mengapa Signifikan
Mengenal sosok yang tewas dalam serangan Israel ini menjadi penting untuk memahami seberapa besar dampak kehilangannya bagi Iran. Ali Larijani, pria kelahiran Najaf (Irak) pada 3 Juni 1958, berasal dari salah satu keluarga paling berpengaruh di Iran. Media global kerap menyamakan posisi keluarga Larijani dengan dinasti Kennedy di Amerika Serikat. Sang ayah merupakan ulama besar, sedangkan saudara-saudaranya menempati jabatan kunci di berbagai institusi negara.
Yang menarik dari perjalanan hidup Ali Larijani adalah kombinasi pendidikan yang tidak biasa. Di Universitas Teknologi Sharif, ia meraih gelar sarjana matematika dan ilmu komputer. Namun minatnya tidak berhenti di sana. Ia kemudian mendalami filsafat Barat di Universitas Tehran, khususnya pemikiran Immanuel Kant. Perpaduan antara rasionalitas Barat dan komitmen terhadap Revolusi Islam inilah yang membentuk karakter uniknya: pragmatis sekaligus ideologis.
Perjalanan kariernya di panggung politik Iran dimulai pada awal dekade 1980-an saat bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Dari sana, Ali Larijani membangun jejak karier yang mengesankan:
- Era 1994-1997: Menjabat sebagai Menteri Kebudayaan dalam kabinet Presiden Akbar Hashemi Rafsanjani
- Periode 1994-2004: Memimpin Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), media penyiaran negara
- Tahun 2005-2007: Ditunjuk sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dengan fokus utama negosiasi program nuklir
- Masa 2008-2020: Terpilih sebagai Ketua Parlemen Iran selama tiga periode berturut-turut
- Tahun 2025-2026: Kembali dipercaya memimpin Dewan Keamanan Nasional Tertinggi
Ali Larijani sebagai Pemimpin De Facto di Tengah Krisis
Ketika Ayatollah Ali Khamenei gugur dalam serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026, posisi Ali Larijani berubah drastis. Meski tanpa pengangkatan formal, ia dipercaya menjalankan kendali penuh atas Iran sebagai pemimpin de facto.
Pengakuan datang dari berbagai media terkemuka dunia. Antara lain:
- The New York Times menulis bahwa ia “secara efektif menjalankan Iran sejak Januari 2026 sampai gugurnya”
- Haaretz menyebutnya sebagai “figur paling berkuasa di negara itu”
- The Australian bersama sejumlah publikasi internasional menjulukinya “pemimpin de facto”
Yang memperkuat posisinya adalah dukungan penuh dari IRGC. Berdasarkan berbagai laporan, Ali Larijani yang kemudian tewas ini membangun relasi solid dengan jajaran komandan IRGC dan badan intelijen. Di sisi lain, jaringan keluarganya yang kuat dengan kalangan ulama senior menjadi modal legitimasi yang tak ternilai.
Peran Ali Larijani dalam Penindasan Demonstrasi dan Sanksi Internasional
Namun, perjalanan kekuasaan Ali Larijani tidak lepas dari kontroversi. Januari 2026 menjadi bulan kelam ketika gelombang demonstrasi masif melanda seluruh Iran. Rakyat turun ke jalan sebagai bentuk penolakan terhadap sejumlah kebijakan represif pemerintah. Iran Wire, sebuah media independen, bahkan menyebut Ali Larijani sebagai “dalang pembantaian Januari.” Dikatakan bahwa ia menggunakan pengaruhnya terhadap komandan IRGC dan jaringan intelijen untuk memadamkan aksi protes dengan cara brutal.
Tindakan kerasnya tidak luput dari perhatian internasional. Amerika Serikat menjatuhkan sanksi baru kepada Ali Larijani pada 15 Januari 2026. Departemen Keuangan AS secara tegas menyebut sanksi itu ditujukan untuk “arsitek penindasan brutal terhadap para demonstran damai.” Tak lama kemudian, Uni Eropa mengikuti jejak Washington dengan mendesain IRGC sebagai organisasi teroris. Keputusan ini memantik reaksi keras dari tokoh yang kemudian tewas pada Maret 2026 ini.
Melalui akun media sosialnya, Ali Larijani menulis ancaman tegas: “Pasukan militer dari negara mana pun yang mendukung keputusan UE terhadap IRGC akan dianggap sebagai kelompok teroris dan akan menghadapi konsekuensi dari tindakan mereka.”
Perang yang Melatarbelakangi Tewasnya Ali Larijani
Akar konflik yang menyebabkan Ali Larijani tewas bermula dari eskalasi dramatis pada 28 Februari 2026. Hari itu, pesawat tempur gabungan AS-Israel melancarkan serangan udara ke kompleks kediaman Khamenei di jantung kota Tehran. Serangan tersebut merenggut nyawa pemimpin tertinggi Iran beserta sejumlah anggota keluarga dan pejabat senior.
Balasan Iran datang cepat dan masif. Teheran langsung menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan sekitar sepertiga pasokan minyak global. Keputusan ini memicu goncangan ekonomi di berbagai belahan dunia. Presiden AS Donald Trump merespons dengan ancaman terbuka: “Kami akan menyerang Iran dua puluh kali lebih keras jika mereka terus menghentikan aliran minyak.”
Ali Larijani, yang saat itu mengendalikan Iran sebagai pemimpin de facto, tidak tinggal diam. Seminggu sebelum gugurnya, ia membalas ancaman Trump lewat cuitan di media sosial. “Bangsa Iran yang penuh pengorbanan tidak gentar dengan ancaman kosong Anda,” tulisnya. “Bahkan kekuatan yang lebih besar dari Anda pun tidak mampu melenyapkan Iran. Hati-hati, jangan sampai Anda sendiri yang dilenyapkan.”
Ironis memang. Kurang dari sepekan setelah peringatan itu, peristiwa Ali Larijani tewas benar-benar terjadi dalam serangan yang ia sendiri ingatkan.
Dampak Strategis Tewasnya Ali Larijani bagi Iran
Gugurnya Ali Larijani menciptakan kevakuman kekuasaan yang sangat mengkhawatirkan bagi Iran di tengah perang yang tengah berlangsung. Hanya dalam rentang waktu kurang dari tiga pekan, Iran kehilangan dua figur paling berpengaruh di jajaran kepemimpinannya. Sejak Ali Larijani tewas, pertanyaan krusial mulai mengemuka:
Siapa yang akan mengisi kekosongan ini?
Sejumlah nama mulai muncul sebagai kandidat kuat pengganti Ali Larijani. Di antaranya:
- Mojtaba Khamenei – Putra almarhum Ayatollah Ali Khamenei, dipandang sebagai pewaris spiritual sang ayah
- Ebrahim Raisi – Presiden Iran yang memiliki basis dukungan kokoh dari kalangan konservatif
- Mohammad Bagher Ghalibaf – Ketua Parlemen yang memiliki latar belakang militer kuat
- Sadeq Larijani – Saudara kandung Ali Larijani, mantan pimpinan badan peradilan Iran
- Esmail Qaani – Komandan Pasukan Quds IRGC yang menggantikan posisi Qasem Soleimani
Meski demikian, tidak satupun dari mereka yang memiliki kombinasi sempurna antara pengaruh politik, legitimasi religius, dan jaringan internasional sekuat yang dimiliki Ali Larijani.
Reaksi Regional terhadap Tewasnya Ali Larijani
Kabar Ali Larijani tewas memantik beragam reaksi di panggung internasional. Tel Aviv merayakannya sebagai pencapaian operasional yang gemilang. Sebaliknya, negara-negara sekutu Iran mengecam tindakan tersebut sebagai kejahatan perang.
Posisi paling sulit dialami negara-negara Teluk yang selama ini berada di persimpangan antara kepentingan Washington dan Teheran. Menariknya, salah satu pesan terakhir Ali Larijani yang banyak dikutip berbagai media justru berisi peringatan untuk negara-negara Teluk. “AS dan Israel tidak akan pernah setia melindungi negara Islam,” demikian tulisnya. “Aliansi yang mereka bangun tak lebih dari alat pragmatis yang bisa dibuang kapan saja.”
Pesan tersebut kini bergema kuat di kalangan pengamat Timur Tengah. Banyak yang mulai mempertanyakan: apakah arsitektur keamanan regional yang terlalu bergantung pada perlindungan Amerika masih bisa diandalkan?
Warisan Ali Larijani yang Tewas: Kompleks dan Kontradiktif
Tokoh yang tewas ini meninggalkan jejak yang rumit dan penuh kontradiksi. Di satu sisi, Ali Larijani dikenang sebagai diplomat handal yang pernah memimpin negosiasi program nuklir Iran. Ia berperan penting dalam upaya mencegah konfrontasi terbuka dengan negara-negara Barat. Namun di sisi lain, reputasinya tercoreng sebagai arsitek penindasan yang tidak ragu menggunakan kekerasan demi mempertahankan kekuasaan.
Dalam konteks Iran kontemporer, Ali Larijani merepresentasikan generasi pemimpin yang berusaha mencari keseimbangan antara idealisme revolusioner dan realisme politik. Pendidikan filsafat Barat yang ia tempuh memberinya kemampuan untuk berdialog dengan para diplomat Eropa dan Amerika. Di saat bersamaan, kesetiaannya terhadap nilai-nilai Revolusi Islam memastikan ia tetap mendapat dukungan dari kelompok konservatif di dalam negeri.
Seorang pengamat dari Belfer Center for Science and International Affairs pernah mengategorikannya sebagai “figur kunci kubu kanan teokratik.” Namanya disejajarkan dengan tokoh-tokoh seperti Mahmoud Hashemi Shahroudi dan Mohammad Reza Mahdavi Kani. Meskipun begitu, dalam beberapa tahun belakangan, Ali Larijani mulai menunjukkan sikap yang lebih moderat. Ia berupaya menjembatani jurang pemisah antara kelompok reformis dan konservatif.
Apa yang Terjadi Setelah Ali Larijani Tewas
Setelah gugurnya Ali Larijani, Iran kini berdiri di persimpangan yang sangat krusial. Struktur kekuasaan yang sudah rapuh pasca tewasnya Khamenei kini semakin goyah. Oleh karena itu, beberapa skenario mungkin terjadi:
Skenario Pertama: Konsolidasi Militer
IRGC kemungkinan besar akan mengambil kendali lebih dominan dalam pemerintahan. Komandan senior seperti Esmail Qaani atau Gholamreza Soleimani (kepala Basij yang juga dilaporkan gugur dalam serangan terpisah) berpeluang mengisi kevakuman kekuasaan.
Skenario Kedua: Kepemimpinan Kolektif Transisi
Sebagai alternatif, Iran bisa membentuk dewan kepemimpinan kolektif sementara. Dewan ini akan memadukan berbagai tokoh dari beragam faksi untuk menjaga stabilitas sambil menyiapkan suksesi yang lebih formal.
Skenario Ketiga: Eskalasi Konflik
Gugurnya Ali Larijani bisa memicu respons militer yang jauh lebih agresif dari Iran sebagai bentuk pembalasan. Ini berpotensi menyeret kawasan ke dalam konflik regional yang lebih luas dan berbahaya.
Skenario Keempat: Negosiasi Darurat
Meski terlihat mustahil dalam kondisi saat ini, sebagian pihak masih berharap krisis kepemimpinan ini justru membuka ruang untuk de-eskalasi dan diplomasi.
Pesan Terakhir Ali Larijani yang Terngiang
Salah satu momen paling mengharukan di hari-hari akhir Ali Larijani adalah saat ia memberikan penghormatan kepada para prajurit Angkatan Laut Iran. Mereka telah lebih dulu gugur dalam pertempuran di Selat Hormuz. “Kenangan mereka akan selalu tertanam di hati rakyat Iran,” demikian tulisnya dalam sebuah pesan yang kini terasa sangat ironis mengingat nasibnya sendiri.
Kalimat tersebut kini menjadi epitaf bagi dirinya sendiri. Rakyat Iran, tanpa memandang perbedaan politik, kini berduka atas hilangnya seorang tokoh yang sampai detik terakhirnya masih memikirkan kedudukan negaranya di kancah internasional.
Dalam lanskap geopolitik Timur Tengah yang terus bergeser, fakta bahwa Ali Larijani tewas menandakan berakhirnya sebuah era. Era ketika seorang diplomat-filsuf masih memiliki tempat di tengah mesin kekuasaan yang kian dikuasai logika militer dan kekerasan. Pertanyaan besar kini: siapa yang sanggup mewarisi peran itu? Apakah Iran masih punya ruang untuk figur seperti Ali Larijani di masa mendatang?
Yang pasti, sejak Ali Larijani tewas, fondasi struktur kekuasaan Iran telah berguncang hebat. Dan dalam guncangan itu, yang dipertaruhkan bukan hanya masa depan Iran. Stabilitas seluruh kawasan Timur Tengah juga kini semakin tidak menentu.
Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Global
Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: Puncak Arus Mudik 2026 Nasional 18-19 Maret: 143,9 Juta Orang Bergerak dari Sabang Sampai Merauke
