August 20, 2026

INCABERITA

Jelajahi Kabar Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini.

Gempa M5.9 di Manggarai Perlu Diluruskan, BMKG Catat M5.8 dan Ribuan Gempa Susulan di NTT

Jakarta Selatan, incaberita.co.idGempa M5.9 di Manggarai kembali menjadi perhatian setelah wilayah Nusa Tenggara Timur diguncang gempa kuat pada Kamis, 20 Agustus 2026. Namun, terdapat perbedaan angka magnitudo yang penting untuk diluruskan agar informasi yang beredar tidak membingungkan masyarakat.

Hasil penelusuran menunjukkan lembaga geosains Jerman GFZ mencatat salah satu gempa di kawasan Pota, Nusa Tenggara Timur, dengan magnitudo 5,9 pada 20 Agustus sekitar pukul 02.47 UTC atau 10.47 WITA. Sementara itu, informasi BMKG yang beredar melalui laporan terbaru mencatat gempa signifikan pada Kamis pagi dengan parameter M5,8, bukan M5,9.

Perbedaan magnitudo semacam ini bukan berarti salah satu lembaga pasti keliru. Lembaga seismologi dapat menghasilkan angka berbeda karena menggunakan jaringan sensor, jenis magnitudo, data, serta metode analisis yang berbeda.

Yang lebih penting, gempa tersebut terjadi di tengah rangkaian aktivitas seismik sangat tinggi setelah gempa utama M7,7 yang mengguncang kawasan Flores pada 15 Agustus 2026. Data yang mengutip BMKG menyebut jumlah gempa susulan telah mencapai ribuan kejadian hingga 20 Agustus.

Gempa M5.9 di Manggarai, Mengapa BMKG Menyebut M5.8?

Gempa M5.9 di Manggarai Perlu Diluruskan, BMKG Catat M5.8 dan Ribuan Gempa Susulan di NTT

Sumber gambar : liputan6.com

Informasi Gempa M5.9 di Manggarai perlu dibaca berdasarkan lembaga yang mengeluarkan parameternya.

GFZ mencatat kejadian sekitar pukul 02.47 UTC pada 20 Agustus dengan magnitudo 5,9 dan lokasi di sekitar Pota, Nusa Tenggara Timur. Data agregasi seismologi yang memuat catatan GFZ menempatkannya sekitar koordinat 8,38 LS dan 120,68 BT.

Sementara informasi terbaru yang mengutip Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menyebut gempa berkekuatan M5,8 terjadi di wilayah Flores pada Kamis pagi.

BMKG mencatat episenter berada pada koordinat sekitar 8,35 LS dan 120,63 BT atau di darat sekitar 34 kilometer timur laut Ruteng, Manggarai, NTT, dengan kedalaman sekitar 10 kilometer.

Dengan demikian, penggunaan istilah Gempa M5.9 di Manggarai dapat merujuk pada parameter lembaga internasional, tetapi untuk informasi kebencanaan di Indonesia, parameter BMKG sebaiknya menjadi rujukan utama dan diperbarui menjadi M5,8 apabila merujuk kejadian yang sama.

Gempa Tidak Berpotensi Tsunami

Berdasarkan pemodelan yang disampaikan BMKG, gempa M5,8 tersebut tidak berpotensi tsunami.

Lokasi pusat gempa berada di daratan dan memiliki kedalaman dangkal sekitar 10 kilometer.

Meski tidak berpotensi tsunami, gempa dangkal dapat menghasilkan guncangan permukaan yang cukup kuat, terutama bagi daerah yang berada dekat dengan episenter.

Karena itu, tidak adanya ancaman tsunami tidak berarti masyarakat dapat mengabaikan risiko lain seperti kerusakan bangunan, longsor, benda jatuh, dan gempa susulan.

Guncangan Kuat Dirasakan di Manggarai

BMKG mencatat guncangan paling kuat dirasakan di Kabupaten Manggarai pada kisaran V–VI MMI.

Pada tingkat tersebut, getaran dapat dirasakan hampir seluruh penduduk. Sebagian masyarakat dapat terkejut dan keluar dari bangunan, sementara bangunan tertentu berpotensi mengalami kerusakan ringan.

Guncangan juga dilaporkan dirasakan di beberapa daerah lain dengan intensitas berbeda, yakni:

  • Kabupaten Manggarai sekitar V–VI MMI.
  • Kabupaten Nagekeo sekitar IV MMI.
  • Kabupaten Manggarai Barat sekitar III–IV MMI.
  • Kabupaten Sikka sekitar III MMI.

Besarnya intensitas yang dirasakan tidak selalu sama dengan magnitudo. Magnitudo menggambarkan besarnya energi gempa, sedangkan MMI menggambarkan kekuatan guncangan yang dirasakan pada lokasi tertentu.

Dipicu Aktivitas Flores Back-Arc Thrust

Analisis BMKG menyebut gempa merupakan gempa dangkal yang berkaitan dengan aktivitas Flores Back-Arc Thrust atau sistem sesar naik belakang busur Flores.

Namun, analisis mekanisme sumber pada kejadian ini menunjukkan pergerakan sesar normal atau normal fault.

Flores dan wilayah sekitarnya memang berada dalam lingkungan tektonik yang kompleks. Kawasan tersebut dipengaruhi sejumlah sistem tektonik aktif sehingga memiliki tingkat kegempaan tinggi.

Kajian ilmiah mengenai gempa Manggarai sebelumnya juga mengidentifikasi sistem Flores Back-Arc Thrust sebagai salah satu sumber aktivitas gempa dangkal di kawasan Flores.

Kondisi tersebut menjelaskan mengapa gempa susulan dapat terus berlangsung setelah gempa besar.

Terjadi setelah Gempa M7.7 pada 15 Agustus

Gempa M5.9 di Manggarai terjadi hanya beberapa hari setelah gempa utama berkekuatan M7,7 mengguncang kawasan Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Gempa utama terjadi sekitar pukul 05.58 WITA dengan kedalaman sekitar 10 kilometer. Data Asian Disaster Reduction Center menempatkan episenternya di Laut Flores sekitar 68 kilometer utara-barat laut Ende. BMKG ketika itu mengeluarkan peringatan tsunami untuk sejumlah wilayah.

Gempa tersebut menyebabkan kerusakan luas di sejumlah wilayah NTT, termasuk Manggarai dan Manggarai Timur.

Laporan terbaru Associated Press menyebut korban akibat gempa utama dan dampaknya telah meningkat menjadi sedikitnya 68 orang meninggal, lebih dari 200 orang terluka, dan lebih dari 4.500 rumah mengalami kerusakan. Sekitar 19.000 orang juga dilaporkan mengungsi.

Dengan demikian, masyarakat Manggarai saat ini menghadapi gempa susulan ketika proses pemulihan dari gempa utama masih berlangsung.

Ribuan Gempa Susulan Sudah Tercatat

Hal yang paling menonjol setelah gempa utama M7,7 adalah tingginya aktivitas gempa susulan.

Informasi terbaru yang mengutip BMKG menyebut hingga Kamis, 20 Agustus 2026 pukul 06.00 WIB telah terdeteksi sekitar 3.422 aktivitas gempa susulan.

Magnitudo terbesar dalam rangkaian susulan tersebut mencapai M6,2.

Jumlah tersebut menunjukkan kerak bumi di sekitar sumber gempa masih melakukan penyesuaian setelah pelepasan energi besar pada 15 Agustus.

Gempa susulan dengan magnitudo lebih kecil juga terus tercatat di sekitar Ruteng, Manggarai, Labuan Bajo, Nagekeo, dan wilayah sekitarnya. Pada 16 Agustus saja, BMKG mencatat puluhan gempa susulan dalam periode beberapa jam.

Gempa M5.9 Bukan Gempa Besar Baru yang Terpisah

Hal lain yang perlu diperjelas adalah konteks kejadian.

Berdasarkan rangkaian kegempaan yang sedang berlangsung, gempa kuat terbaru berada dalam periode aftershock atau gempa susulan setelah gempa utama M7,7 pada 15 Agustus.

Karena itu, informasi di media sosial yang menggambarkan Gempa M5.9 di Manggarai sebagai gempa utama baru yang sama sekali tidak berkaitan dengan rangkaian sebelumnya perlu diperlakukan secara hati-hati.

Gempa susulan tidak selalu berukuran kecil. Setelah gempa utama yang sangat besar, aftershock dapat memiliki magnitudo cukup kuat dan kembali dirasakan masyarakat.

Asian Disaster Reduction Center sebelumnya juga mencatat rangkaian gempa susulan setelah M7,7 mencakup kejadian M5,9, M5,6, dan M6,1.

Manggarai Menjadi Salah Satu Daerah Terdampak Berat

Kabupaten Manggarai termasuk wilayah yang mengalami dampak serius dari rangkaian gempa sejak 15 Agustus.

Data awal pada hari pertama bencana bahkan mencatat puluhan korban jiwa dan ratusan fasilitas terdampak di Manggarai. Angka tersebut kemudian terus diperbarui seiring proses pencarian dan verifikasi.

Laporan tingkat regional juga menunjukkan kerusakan rumah terjadi di Manggarai Barat. Pemerintah daerah masih melakukan pendataan karena jumlah bangunan terdampak mencapai ratusan.

Gempa terbaru dengan guncangan V–VI MMI menjadi perhatian karena sejumlah bangunan telah mengalami kerusakan akibat gempa sebelumnya.

Bangunan yang struktur utamanya sudah melemah dapat lebih rentan terhadap guncangan susulan meskipun magnitudo gempa lebih kecil dibandingkan gempa utama.

Masyarakat Diminta Menjauhi Bangunan Rusak

Dalam kondisi rangkaian gempa susulan, masyarakat perlu memperhatikan kondisi bangunan sebelum kembali masuk.

Beberapa tindakan yang penting dilakukan antara lain:

  • Jangan memasuki bangunan dengan retakan besar atau struktur miring.
  • Periksa kondisi atap, dinding, dan fondasi sebelum kembali menggunakan rumah.
  • Jauhi lereng yang menunjukkan tanda longsor.
  • Pastikan jalur evakuasi tidak terhalang.
  • Simpan dokumen penting dan kebutuhan darurat di lokasi yang mudah dijangkau.
  • Pantau informasi BMKG dan BPBD.
  • Jangan mempercayai prediksi waktu gempa berikutnya dari media sosial.

BMKG juga mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Tidak Ada Teknologi yang Bisa Menentukan Waktu Gempa Berikutnya

Banyaknya gempa susulan sering memunculkan pesan berantai yang memprediksi akan terjadi gempa lebih besar pada jam atau tanggal tertentu.

Informasi seperti itu tidak memiliki dasar ilmiah yang cukup.

Ilmu seismologi saat ini belum mampu menentukan secara pasti waktu, lokasi, dan magnitudo gempa yang akan terjadi berikutnya.

Yang dapat dilakukan lembaga seperti BMKG adalah memantau aktivitas kegempaan, menganalisis sumber gempa, memperkirakan kecenderungan rangkaian susulan, dan memberikan informasi peringatan apabila terdapat potensi tsunami.

Karena itu, masyarakat tidak perlu panik terhadap pesan yang mengklaim mengetahui jam pasti terjadinya gempa berikutnya.

Mengapa Magnitudo Bisa Berbeda?

Perbedaan angka M5,9 dan M5,8 menjadi bagian penting dalam pemberitaan Gempa M5.9 di Manggarai.

Perbedaan kecil seperti 0,1 magnitudo dapat terjadi karena beberapa faktor, antara lain:

  • jaringan sensor yang digunakan berbeda;
  • jumlah stasiun seismik yang dianalisis berbeda;
  • metode perhitungan magnitudo berbeda;
  • parameter awal diperbarui setelah data tambahan tersedia;
  • masing-masing lembaga memiliki sistem pemrosesan sendiri.

Karena itu, informasi awal gempa sering diberi keterangan bahwa parameter dapat berubah setelah analisis lebih lengkap dilakukan.

Untuk kepentingan informasi kebencanaan di Indonesia, masyarakat sebaiknya mengikuti parameter terbaru BMKG.

Situasi Masih Perlu Diwaspadai

Ribuan gempa susulan tidak berarti seluruh kejadian akan menghasilkan guncangan kuat.

Sebagian besar gempa berukuran kecil dan bahkan tidak dirasakan masyarakat. Namun, rangkaian tersebut menunjukkan aktivitas tektonik masih berlangsung.

Kondisi ini menjadi lebih penting karena daerah terdampak masih menjalani proses pemulihan.

Laporan Associated Press menyebut distribusi bantuan ke beberapa kawasan masih menghadapi tantangan akibat kondisi medan dan jalan yang sebelumnya tertutup longsor. Ribuan warga masih berada di tempat pengungsian.

Karena itu, perhatian tidak hanya diarahkan pada besarnya magnitudo, tetapi juga keselamatan warga, kondisi bangunan, akses transportasi, serta kebutuhan pengungsi.

Kesimpulan

Kabar Gempa M5.9 di Manggarai pada 20 Agustus 2026 pada dasarnya memiliki dasar kejadian seismik, tetapi angka magnitudonya perlu diberi konteks.

GFZ mencatat salah satu gempa di sekitar Pota, Nusa Tenggara Timur, dengan magnitudo 5,9. Sementara informasi yang mengutip analisis BMKG mencatat gempa kuat di sekitar Manggarai dengan parameter M5,8, kedalaman 10 kilometer, dan episenter sekitar 34 kilometer timur laut Ruteng.

BMKG menyatakan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. Guncangan paling kuat dirasakan di Kabupaten Manggarai pada skala V–VI MMI.

Kejadian berlangsung di tengah rangkaian gempa susulan setelah gempa utama M7,7 pada 15 Agustus 2026. Hingga 20 Agustus pagi, informasi yang mengutip BMKG menyebut telah tercatat sekitar 3.422 gempa susulan, dengan magnitudo terbesar M6,2.

Masyarakat di Manggarai dan wilayah Flores lainnya tetap perlu waspada terhadap gempa susulan, bangunan yang sudah mengalami kerusakan, serta potensi longsor. Informasi mengenai magnitudo dan perkembangan gempa sebaiknya selalu mengacu pada pembaruan BMKG dan lembaga penanggulangan bencana.

Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Lokal

Author

Copyright @ 2026 Incaberita. All right reserved