June 12, 2026

INCABERITA

Jelajahi Kabar Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini.

Iran Umumkan Penutupan Selat Hormuz untuk Semua Kapal Usai Serangan Baru AS, Harga Minyak Langsung Melonjak

Selat Hormuz Ditutup Total Kamis Ini, Iran Ancam Tembak Semua Kapal yang Melintas dan IRGC Sudah Buktikan dengan Serang Dua Kapal

JAKARTA, incaberita.co.id – Iran umumkan penutupan Selat Hormuz pada Kamis 11 Juni 2026 untuk seluruh jenis kapal tanpa pengecualian. Komando militer gabungan tertinggi Iran Khatam Al-Anbia Central Headquarters menyatakan jalur laut yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak global itu kini tertutup total. Kapal tanker minyak, kapal komersial, dan kapal dagang semuanya dilarang melintas. Ancamannya sangat tegas: setiap kapal yang mencoba melewati selat itu akan dijadikan sasaran tembak.

Selain itu, Iran umumkan penutupan Selat Hormuz ini tepat sehari setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan baru ke sejumlah target di wilayah Iran pada Rabu 10 Juni malam. Ledakan dilaporkan terjadi di Pulau Qeshm, Kota Bandar Abbas, dan Sirik yang semuanya terletak di sepanjang Selat Hormuz. Harga minyak dunia langsung bereaksi keras. Brent melonjak 2,47 persen ke USD 95,40 per barel dan WTI naik 2,89 persen ke USD 92,63 per barel.

Iran Umumkan Penutupan Selat Hormuz, Ini Ancaman Resmi IRGC

Iran Umumkan Penutupan Selat Hormuz untuk Semua Kapal Usai Serangan Baru AS, Harga Minyak Langsung Melonjak

Sumber gambar : asei.co.id

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) tidak sekadar menyampaikan ancaman atau peringatan. Pada hari yang sama, mereka langsung menunjukkan tindakannya dengan melancarkan serangan terhadap dua kapal yang nekat melintas di Selat Hormuz tanpa mendapatkan izin. Informasi tersebut diumumkan melalui Tasnim News Agency, media yang dikenal dekat dengan militer Iran.

Peringatan dari IRGC disampaikan tanpa ambiguitas. Seluruh kapal yang berada di Teluk Persia maupun Laut Oman dilarang meninggalkan area tambatnya hingga pemberitahuan lebih lanjut. Setiap upaya mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai tindakan yang mendukung pihak lawan dan berisiko menjadi sasaran dalam operasi militer.

Khatam Al-Anbia menambahkan bahwa keputusan penutupan total ini diambil karena memburuknya situasi keamanan kawasan setelah serangan terbaru Amerika Serikat. Mereka menyebut langkah AS sebagai agresi yang terus-menerus dan tidak beralasan yang membuat Iran tidak punya pilihan selain menutup akses selat strategis tersebut.

Serangan AS Picu Penutupan, Ledakan Guncang Pulau Qeshm

Rangkaian peristiwa yang berujung pada Iran umumkan penutupan Selat Hormuz ini bermula dari serangan militer AS pada Rabu 10 Juni malam. Militer AS menyatakan operasi itu dilakukan sebagai respons terhadap agresi Iran yang dinilai terus berlanjut tanpa alasan yang sah.

Sasaran serangan AS cukup spesifik dan sangat strategis. Menurut laporan Axios, serangan itu menargetkan sistem pertahanan udara Iran, instalasi radar, serta unit komando dan kendali drone yang tersebar di wilayah Iran. Pilihan target itu menunjukkan bahwa AS ingin melumpuhkan kemampuan Iran dalam memantau dan merespons pergerakan militer di kawasan.

Dampaknya langsung terasa. Media pemerintah Iran melaporkan ledakan-ledakan besar terjadi di Pulau Qeshm serta di Kota Bandar Abbas dan Sirik. Ketiga lokasi itu bukan wilayah biasa. Pulau Qeshm adalah pulau terbesar di Selat Hormuz yang memiliki nilai strategis militer dan ekonomi yang sangat tinggi. Bandar Abbas adalah pelabuhan utama Iran di Selat Hormuz yang menjadi pusat aktivitas angkatan laut IRGC.

IRGC Balas dengan Serang 18 Target AS di Kuwait dan Bahrain

Iran tidak diam menghadapi serangan AS. IRGC mengklaim telah melancarkan serangan balasan terhadap 18 target militer Amerika Serikat yang tersebar di Kuwait dan Bahrain. Klaim itu langsung menambah ketegangan di kawasan yang sudah sangat panas.

Bahrain membenarkan adanya dampak dari eskalasi tersebut. Pihak Bahrain melaporkan sirene peringatan sempat berbunyi di sejumlah wilayah mereka sebagai tanda bahwa situasi di kawasan Teluk telah memasuki fase yang sangat berbahaya. Kuwait juga dalam kondisi waspada tinggi.

Selain itu, Inggris dilaporkan berencana mengirimkan drone bawah laut khusus untuk membantu menghancurkan ranjau yang diduga sudah dipasang Iran di sekitar Selat Hormuz. Langkah itu mencerminkan betapa seriusnya komunitas internasional menilai ancaman yang ditimbulkan oleh penutupan Hormuz terhadap keamanan pelayaran global.

Trump Ancam Iran Keras, Klaim Iran Minta Hentikan Serangan

Di tengah eskalasi yang meledak ini, Presiden AS Donald Trump tidak tinggal diam. Ia mengeluarkan ancaman yang sangat keras kepada Iran. Trump berjanji akan menyerang mereka dengan sangat keras. Ia juga menuding negosiator Iran bermain-main dan memperlakukan AS seperti orang bodoh dalam proses perundingan yang sedang berlangsung.

Namun demikian, Trump juga menyampaikan klaim yang bertolak belakang dengan situasi di lapangan. Ia menyebut sudah berbicara langsung dengan pejabat Iran dan mengklaim bahwa pihak Tehran yang meminta agar serangan dihentikan. Klaim itu tidak bisa diverifikasi secara independen dan langsung dipertanyakan banyak pihak mengingat Iran baru saja menutup total Selat Hormuz.

Pernyataan Trump ini mencerminkan betapa kaburnya garis antara tekanan diplomatik dan eskalasi militer yang sedang terjadi. Di satu sisi ada ancaman akan menyerang lebih keras. Di sisi lain ada klaim bahwa Iran justru meminta damai. Kedua sinyal yang saling bertentangan itu membuat pasar dan komunitas internasional semakin bingung membaca arah konflik ini.

Harga Minyak Langsung Melonjak, Pasar Energi Panik

Pasar energi global bereaksi sangat cepat terhadap pengumuman penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Harga minyak mentah Brent langsung melonjak sebesar 2,47 persen menjadi USD 95,40 per barel. Minyak mentah WTI Amerika Serikat juga menguat tajam sebesar 2,89 persen ke level USD 92,63 per barel. Bahkan dalam sesi perdagangan yang bergejolak, harga minyak AS sempat melonjak lebih dari USD 3 per barel sebelum akhirnya sedikit mereda.

Lonjakan ini terjadi di tengah kekhawatiran yang sangat nyata. Selat Hormuz adalah jalur yang biasanya mengalirkan sekitar 20 persen dari seluruh pasokan minyak dan gas alam cair global setiap harinya. Ketika selat itu ditutup total, efek domino terhadap harga energi dan rantai pasokan industri di seluruh dunia tidak bisa dihindari.

Ini bukan pertama kalinya Selat Hormuz ditutup dalam konflik yang sedang berlangsung. Sebelumnya pada 18 April 2026, Iran sudah pernah menutup kembali selat itu setelah sempat dibuka sesaat. Kali ini, penutupan dilakukan dengan pengumuman yang jauh lebih keras dan disertai tindakan nyata berupa penyerangan terhadap dua kapal yang berani melintasi.

Iran Umumkan Penutupan Selat Hormuz, Ini Dampak ke Ekonomi Global

Penutupan Selat Hormuz bukan hanya masalah militer. Ini adalah pukulan telak bagi ekonomi global yang sudah sempat bernapas lega ketika harga minyak sempat turun tajam beberapa hari lalu. Seluruh kemajuan itu kini terancam terhapus dalam satu pengumuman.

Negara-negara pengimpor minyak di Asia termasuk Jepang, Korea Selatan, India, dan China adalah yang paling rentan. Sebagian besar pasokan minyak mereka melewati Selat Hormuz. Gangguan yang berkepanjangan akan langsung mengerek harga energi domestik mereka dan menekan pertumbuhan ekonomi yang sudah rapuh akibat dampak konflik yang berlarut-larut ini.

Indonesia juga tidak bisa sepenuhnya mengabaikan dampak ini. Kenaikan harga minyak dunia akan menambah tekanan pada subsidi energi dan berpotensi mendorong inflasi jika berlangsung dalam waktu yang cukup panjang.

Penutup: Iran Umumkan Penutupan Selat Hormuz, Dunia Menahan Napas

Iran umumkan penutupan Selat Hormuz pada 11 Juni 2026 adalah salah satu peristiwa paling menentukan dalam konflik yang sudah berlangsung sejak Februari 2026 ini. Setelah serangkaian buka-tutup yang membingungkan pasar, kali ini ancamannya jauh lebih serius karena sudah disertai tindakan nyata.

Dunia kini berada di persimpangan yang sangat kritis. Jika perundingan AS-Iran kembali bisa dimulai dan Selat Hormuz segera dibuka, krisis ini mungkin bisa dikendalikan. Tapi jika eskalasi militer terus berlanjut dan Hormuz tetap tertutup dalam waktu lama, dampaknya terhadap ekonomi global, pasar energi, dan stabilitas kawasan Teluk bisa jauh lebih besar dari yang sudah terjadi sejauh ini.

Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Global

Author

Copyright @ 2026 Incaberita. All right reserved