Israel Rebut Kastil Beaufort Berusia 900 Tahun di Lebanon Selatan, Invasi Terdalam dalam 26 Tahun dan Netanyahu Belum Puas
JAKARTA, incaberita.co.id – Israel rebut Kastil Beaufort pada Minggu 31 Mei 2026 dan langsung mengubah peta militer di Lebanon Selatan. Benteng berusia 900 tahun peninggalan era Perang Salib itu kini berada di tangan pasukan Brigade Golani IDF setelah beberapa hari pertempuran darat sengit dan gelombang serangan udara yang intens. Bendera Israel kini berkibar di puncak kastil yang terletak sekitar 14 kilometer dari perbatasan Israel itu. Ini adalah penetrasi terdalam Israel ke wilayah Lebanon dalam 26 tahun terakhir.
Namun demikian, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan ini bukan akhir dari operasi. Ia bersumpah akan terus memperdalam dan memperluas cengkeraman Israel di wilayah-wilayah yang masih berada di bawah kendali Hizbullah. Selain itu, Dewan Keamanan PBB langsung menggelar pertemuan darurat pada Senin 1 Juni 2026 untuk membahas perluasan invasi Israel yang semakin mengkhawatirkan komunitas internasional.
Israel Rebut Kastil Beaufort, Ini Fakta dan Nilai Strategisnya

Sumber gambar : internasional.kompas.com
Kastil Beaufort atau dalam bahasa Arab disebut Qalaat al-Shaqif adalah salah satu situs bersejarah paling ikonik di Lebanon Selatan. Benteng ini dibangun oleh tentara Perang Salib pada abad ke-12 dan berdiri di atas tebing curam yang menghadap langsung ke Sungai Litani. Lokasinya berada di dekat Kota Nabatiyeh, sekitar 14 kilometer dari perbatasan Israel.
Nilai strategis kastil ini sudah terbukti sejak puluhan tahun lalu. Israel pernah menjadikan lokasi ini sebagai pusat operasi militer mereka ketika masih mengontrol sebagian besar Lebanon Selatan. Pendudukan itu berakhir pada tahun 2000 ketika Israel menarik pasukannya setelah tekanan internasional yang panjang. Selama seperempat abad setelah penarikan itu, Beaufort berada di luar jangkauan mereka — hingga hari Minggu itu.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menekankan dimensi sejarah itu secara eksplisit. Ia menyatakan bahwa 44 tahun setelah Pertempuran Beaufort yang heroik dalam Perang Lebanon Pertama 1982, dan tepat pada hari yang sama untuk mengenang para prajurit yang gugur, pasukan Israel telah kembali ke puncak Beaufort dan sekali lagi mengibarkan bendera mereka di sana.
Katz menambahkan bahwa penguasaan kembali kawasan ini memberi Israel kemampuan untuk melindungi permukiman warga di wilayah utaranya dari ancaman yang selama ini datang dari ketinggian Lebanon. Sebuah keuntungan defensif sekaligus ofensif yang sangat berarti bagi militer Israel.
Netanyahu: Kami Hancurkan Tembok Ketakutan
Begitu Kastil Beaufort jatuh ke tangan Israel, Netanyahu langsung tampil di hadapan kamera untuk menyampaikan pernyataan yang penuh tekad. Ia menyebut perebutan Beaufort sebagai tahapan dramatis dan perubahan kebijakan yang sangat signifikan.
Netanyahu berkata bahwa hari itu Israel kembali ke Beaufort dengan cara yang berbeda. Kembali bersatu, bertekad, dan lebih kuat dari sebelumnya. Ia juga menegaskan bahwa Israel telah menghancurkan tembok ketakutan yang selama ini menghalangi mereka.
Namun demikian, Netanyahu tidak berhenti di situ. Ia langsung memerintahkan militer untuk memperluas manuver darat di Lebanon. Tujuannya adalah memperdalam dan memperluas cengkeraman Israel di tempat-tempat yang masih berada di bawah kendali Hizbullah. Perintah itu mencakup pergerakan ke arah Sungai Zaharani yang berjarak sekitar 10 kilometer lebih jauh ke utara dari posisi Israel saat ini.
Kembali ke Beaufort Setelah 26 Tahun
Perebutan Kastil Beaufort memiliki bobot sejarah yang sangat berat bagi Israel. Dua puluh enam tahun adalah waktu yang panjang. Generasi tentara Israel yang kini merebut kastil ini bahkan belum lahir ketika pendahulu mereka terakhir kali berdiri di puncak yang sama.
Netanyahu memanfaatkan momen ini sepenuhnya. Dalam pidatonya ia menegaskan bahwa kembalinya Israel ke Beaufort bukan sekadar kemenangan taktis. Ini adalah pernyataan bahwa Israel tidak akan mundur dari apa yang mereka yakini sebagai hak dan kebutuhan keamanan mereka, betapapun lamanya waktu yang telah berlalu.
Katz juga menekankan tanggal yang tidak kebetulan. Operasi ini dilakukan tepat di hari peringatan jatuhnya para prajurit dalam Perang Lebanon Pertama tahun 1982. Bagi banyak orang Israel, merebut kembali Beaufort di hari itu memiliki makna yang jauh melampaui kalkulasi militer semata.
Gencatan Senjata Dilanggar, Invasi Makin Dalam
Perebutan Kastil Beaufort terjadi di tengah situasi yang sangat paradoksal. Gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah masih secara resmi berlaku sejak 17 April 2026. Namun operasi militer Israel terus berjalan seolah gencatan itu tidak ada.
Selain itu, invasi yang makin dalam ini terjadi hanya beberapa hari sebelum jadwal perundingan diplomatik penting. Lebanon dan Israel dijadwalkan menggelar putaran pembicaraan langsung berikutnya di Departemen Luar Negeri AS pada 2-3 Juni 2026. Langkah militer Israel yang agresif tepat sebelum momen itu tentu memperumit seluruh proses diplomasi yang sedang dibangun.
Militer Israel kini sudah menguasai wilayah hingga Sungai Litani. Dengan perintah Netanyahu untuk maju ke Sungai Zaharani, berarti Israel sedang menyiapkan penetrasi sekitar 10 kilometer lebih jauh ke wilayah Lebanon. Sebuah evakuasi baru juga sudah dikeluarkan bagi penduduk Lebanon Selatan di selatan Sungai Zaharani.
Hizbullah Balas, Sirene Meraung di Israel Utara
Hizbullah tidak tinggal diam merespons jatuhnya Kastil Beaufort. Kelompok bersenjata yang didukung Iran itu langsung melancarkan serangan balasan. Target mereka adalah posisi militer Israel di dekat kastil serta infrastruktur di Shlomi dan Nahariya di Israel Utara.
Sirene peringatan serangan udara langsung meraung-raung di kawasan Acre yang berada di Israel Utara. Warga Israel di kawasan utara kembali harus berlindung di ruang aman. Rumah sakit di Nahariya bahkan diperintahkan memindahkan kegiatan operasional ke fasilitas bawah tanah sebagai antisipasi serangan lebih lanjut.
Selain serangan balasan itu, Israel juga melancarkan serangan ke Lebanon yang menewaskan delapan orang di Deir Zahrani di Lebanon Selatan pada hari yang sama. Tiga di antaranya adalah wanita. Angka korban sipil yang terus bertambah semakin memperberat tekanan internasional terhadap Israel.
DK PBB Gelar Sidang Darurat
Eskalasi di Lebanon Selatan yang dipicu perebutan Kastil Beaufort langsung memantik reaksi dari komunitas internasional. Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat pada Senin 1 Juni 2026 untuk membahas perluasan serangan Israel di Lebanon yang dinilai mengancam stabilitas kawasan.
Sebelumnya UNICEF juga telah merilis data yang mengkhawatirkan. Dalam tujuh hari terakhir akibat pelanggaran gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah, sebanyak 15 anak tewas dan 62 lainnya mengalami luka-luka di Lebanon. Angka itu mencerminkan dampak nyata dari konflik yang terus meningkat intensitasnya terhadap warga sipil yang paling rentan.
Mesir juga ikut angkat bicara dengan meminta Israel untuk mundur dari Lebanon. Tekanan dari berbagai pihak terhadap Israel terus bertambah seiring operasi militer yang semakin meluas.
Penutup: Beaufort Jatuh, Tapi Perang Belum Berakhir
Israel rebut Kastil Beaufort adalah satu momen dalam sebuah konflik yang jauh lebih besar dan belum menunjukkan tanda-tanda akan segera selesai. Netanyahu sudah menegaskan niatnya untuk maju lebih jauh. Hizbullah sudah membuktikan mereka tidak akan mundur tanpa perlawanan. DK PBB sudah bersidang tapi belum jelas apa hasilnya.
Dalam beberapa hari ke depan, ada dua agenda yang akan menentukan arah konflik ini. Pertama, apakah sidang darurat DK PBB akan menghasilkan resolusi yang cukup kuat untuk menghentikan laju invasi Israel. Kedua, apakah pembicaraan Israel-Lebanon di Washington pada 2-3 Juni masih bisa berlangsung di tengah eskalasi militer yang terus meningkat.
Satu hal yang pasti: Kastil yang dibangun tentara Salib 900 tahun lalu kini kembali menjadi pusat dari sebuah perang yang tidak kunjung selesai.
Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Global
Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: Korban Pembunuhan Hotel Kebayoran Baru Ditemukan Saat Petugas Ketuk Pintu untuk Tagih Bayaran, yang Ada Justru Jasad Bersimbah Darah
