Ekonomi Indonesia Saat Ini Masuk Mode Bertahan, Daya Beli Warga Tertekan!
JAKARTA, incaberita.co.id — Ekonomi Indonesia Saat Ini sedang menjadi perhatian karena banyak masyarakat mulai merasakan tekanan dari kenaikan harga barang dan menurunnya daya beli. Kondisi ini membuat sebagian warga harus menjalani hidup dalam pola yang sering disebut sebagai mode bertahan.
Mode bertahan menggambarkan situasi ketika seseorang tidak lagi leluasa mengatur pengeluaran seperti biasanya. Kebutuhan utama menjadi prioritas, sementara hiburan, hobi, dan belanja yang tidak mendesak harus dikurangi atau bahkan dihentikan sementara.
Bagi masyarakat kecil dan kelas menengah, tekanan ekonomi terasa langsung dalam kehidupan harian. Harga kebutuhan yang meningkat membuat pendapatan yang sama tidak lagi cukup untuk menutup seluruh kebutuhan keluarga.
Situasi ini tidak hanya terjadi pada pekerja bergaji tetap, tetapi juga pelaku usaha kecil. Ketika penjualan turun dan biaya produksi naik, ruang gerak ekonomi rumah tangga menjadi semakin sempit seperti kapal kecil yang berlayar di tengah angin mahal.
Pedagang Kecil Tertekan oleh Penurunan Penjualan
Dwiki Corniju, warga Solo, Jawa Tengah, menjadi salah satu contoh masyarakat yang harus mengatur ulang gaya hidupnya. Ia mengurangi kebiasaan nongkrong dan hobi memancing demi menekan pengeluaran agar tidak melewati pemasukan.
Usaha kacamata yang dijalankannya mengalami penurunan penjualan hingga sekitar 50 persen. Kondisi itu membuat pemasukan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan harian, sehingga pengeluaran yang dianggap tidak penting harus disisihkan.
Tekanan ekonomi yang dirasakan Dwiki semakin berat karena ia sampai harus menggadaikan sertifikat rumah. Langkah tersebut dilakukan untuk mendapatkan modal usaha, yang kini menjadi satu-satunya sumber pendapatannya.
Kisah Dwiki menunjukkan bahwa mode bertahan bukan sekadar istilah. Bagi pelaku usaha kecil, kondisi ini berarti menukar kenyamanan dengan kehati-hatian, bahkan mengambil risiko besar demi menjaga roda usaha tetap bergerak.
Pedagang Makanan Ikut Merasakan Beban Ekonomi
Paijan, pedagang bakso dan mi ayam berusia 48 tahun, juga menghadapi tekanan serupa. Ia merasakan kenaikan harga plastik dan daging, sementara penjualan justru turun hingga separuh dari kondisi biasanya.
Akibat kombinasi biaya naik dan pembeli berkurang, Paijan mengaku harus menutup kekurangan biaya hingga sekitar Rp2 juta dalam satu minggu. Ekonomi Indonesia Saat ini membuatnya semakin berhati-hati dalam memakai uang.

Sumber Gambar : JPNN.com
Untuk menghemat, Paijan mengurangi kebiasaan membeli makanan dari luar. Jika sebelumnya ia masih bisa membeli soto atau ayam goreng, kini ia memilih makan dari dagangan sendiri agar pengeluaran harian lebih terkendali.
Ia juga terpaksa berutang, bukan untuk menambah modal usaha, melainkan untuk membayar angsuran lain. Kondisi seperti ini menunjukkan bagaimana tekanan ekonomi dapat menciptakan lingkaran beban baru bagi pelaku usaha kecil.
Pekerja di Bali Cari Tambahan Penghasilan
Di Gianyar, Bali, Desak Putu Sri Ratna Juwita juga menjalani mode bertahan karena pendapatannya menurun. Ia bekerja di dua tempat sekaligus, yakni di kafe dan tempat spa, tetapi penghasilan keluarga tetap belum cukup menutup kebutuhan.
Ratna menyebut harga berbagai kebutuhan terus naik, sementara jumlah tamu atau pelanggan berkurang. Bagi pekerja di sektor jasa, turunnya kunjungan langsung berdampak pada pendapatan harian maupun peluang tambahan penghasilan.
Beban keluarga semakin berat karena Ratna dan suaminya juga harus memenuhi kebutuhan dua anak. Selain itu, cicilan rumah menjadi kewajiban tetap yang tidak bisa ditunda begitu saja.
Untuk bertahan, Ratna berusaha mencari pekerjaan sampingan apa pun yang masih bisa ia lakukan. Langkah ini menjadi gambaran bahwa banyak keluarga kini tidak cukup hanya mengandalkan satu atau dua sumber pendapatan.
Pemerintah Juga Menyebut Sedang dalam Ekonomi Survival
Di tengah tekanan yang dirasakan masyarakat, pemerintah juga menyatakan sedang berada dalam mode survival atau mode bertahan. Pernyataan ini disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam sebuah forum strategi pembangunan.
Purbaya menegaskan bahwa seluruh strategi Ekonomi Indonesia Saat Ini dijalankan secara maksimal untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat. Ia menyebut tidak ada ruang untuk bermain-main karena tantangan ekonomi global semakin berat.
Menurut Purbaya, pendekatan tersebut selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 8 persen. Pemerintah kemudian memperkuat berbagai langkah, termasuk pembentukan satuan tugas untuk mengamankan anggaran dan memperbaiki iklim usaha.
Pemerintah juga tetap mendorong program prioritas seperti pembangunan infrastruktur, ketahanan energi, pengembangan ekonomi daerah, pembenahan tata kelola sumber daya alam, efisiensi anggaran, serta peningkatan kapasitas industri nasional.
Pakar Menilai Mode Bertahan Jadi Sinyal Ekonomi Tidak Baik-Baik Saja
Sejumlah ekonom menilai istilah mode bertahan menunjukkan bahwa situasi ekonomi sedang menghadapi tekanan serius. Ketika masyarakat dan pemerintah sama-sama memakai istilah tersebut, artinya kondisi ekonomi tidak bisa dianggap sepenuhnya normal.
Ekonom Universitas Padjadjaran, Titik Anas, menilai pernyataan pemerintah dapat dibaca sebagai Ekonomi Indonesia Saat Ini bahwa gejolak global berdampak pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Kenaikan harga minyak, pelemahan rupiah, dan kebutuhan subsidi dapat memperbesar beban fiskal.
Nilai tukar rupiah yang melemah juga memberi tekanan tambahan terhadap APBN. Ketika kurs bergerak jauh dari asumsi anggaran, berbagai komponen belanja negara dapat ikut terpengaruh.
Sementara itu, Direktur Riset Bright Institute, Andri Perdana, menilai pernyataan mode bertahan justru membuka realitas bahwa ketahanan ekonomi tidak sekuat narasi yang sering disampaikan. Menurutnya, guncangan global akan selalu ada, sehingga pemerintah perlu memiliki sistem yang lebih tangguh.
Pemerintah Diminta Lebih Disiplin dalam Belanja
Para pakar menilai pemerintah perlu menjalankan mode bertahan dengan disiplin fiskal yang lebih kuat. Belanja negara harus lebih selektif, terutama untuk program yang belum teruji dan berpotensi menambah risiko anggaran.
Titik Anas menyarankan agar program-program besar yang belum berjalan dianalisis lebih dalam dan diuji melalui proyek percontohan. Dengan begitu, pemerintah dapat mengukur dampak dan risiko sebelum menggelontorkan dana dalam skala besar.
Di sisi lain, negara tetap perlu belanja saat ekonomi melemah. Namun, belanja tersebut harus diarahkan pada program yang benar-benar berdampak, termasuk perlindungan sosial bagi masyarakat yang daya belinya tergerus.
Pada akhirnya, mode bertahan versi pemerintah berbeda dengan masyarakat. Warga bertahan dengan mengurangi pengeluaran pribadi, sedangkan pemerintah harus bertahan dengan kebijakan yang lebih cermat, belanja yang tepat sasaran, dan perlindungan ekonomi yang nyata.
Baca juga konten dengan artikel terkait yang membahas tentang lokal
Simak ulasan mendalam lainnya mengenai Kebakaran Pabrik Jakbar Padam Setelah 21 Jam, Gudang di Kalideres Dilalap Api Besar
