February 2, 2026

INCA BERITA

Berita Terkini Seputar Peristiwa Penting di Indonesia dan Dunia

RTH Jakarta Masih Defisit, Taman Kota Dinilai Belum Berfungsi Optimal

RTH Jakarta

JAKARTA, incaberita.co.id  —   Persoalan RTH Jakarta kembali menjadi sorotan seiring semakin padatnya aktivitas perkotaan dan berkurangnya ruang hijau yang berfungsi ekologis. Berdasarkan berbagai kajian akademik, luas ruang terbuka hijau di Jakarta saat ini baru mencapai sekitar 5,31 persen dari total wilayah.

Angka tersebut masih sangat jauh dari amanat Undang-Undang Penataan Ruang yang mensyaratkan minimal 30 persen ruang terbuka hijau untuk kawasan perkotaan. Ketimpangan ini menempatkan Jakarta dalam kondisi ekologis yang rentan, terutama menghadapi peningkatan suhu, polusi udara, dan risiko banjir.

RTH Jakarta yang terbatas bukan hanya persoalan kuantitas, tetapi juga cerminan dari kebijakan pembangunan kota yang belum sepenuhnya berpihak pada keberlanjutan lingkungan.

Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memperparah krisis ekologis perkotaan, mulai dari meningkatnya efek pulau panas (urban heat island), berkurangnya daya serap air, hingga tekanan terhadap kesehatan masyarakat akibat kualitas udara yang menurun.

Taman Kota Jakarta Tampak Hijau, tetapi Panas

Pengamat lingkungan Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa, menilai bahwa banyak taman kota di Jakarta secara visual tampak hijau dan tertata, tetapi gagal menjalankan fungsi ekologisnya. Menurutnya, desain taman lebih menyerupai ruang publik keras yang didominasi beton dan perkerasan.

Dalam konteks RTH Jakarta, taman seharusnya menjadi sistem ekologis hidup yang mampu menurunkan suhu, menyerap air hujan, dan memperbaiki kualitas udara. Namun, dominasi elemen non-vegetasi membuat banyak taman justru terasa panas dan tidak nyaman.

Fenomena ini menunjukkan bahwa penilaian RTH Jakarta tidak bisa hanya bertumpu pada estetika visual, melainkan harus mengutamakan fungsi lingkungan.

Tanpa pendekatan ekologis yang kuat, taman kota hanya akan menjadi ruang kumpul sosial yang ramai, tetapi gagal memberikan manfaat lingkungan yang signifikan bagi kota secara keseluruhan.

Studi Kasus Kalijodo dan Hutan Kota Srengseng

Penelitian di kawasan Kalijodo, Jakarta Barat, mengungkap fakta menarik terkait kualitas RTH Jakarta. Meski sering disebut sebagai ruang terbuka hijau baru, Kalijodo hanya memiliki sekitar 48 persen tutupan vegetasi. Sisanya didominasi beton dan area keras.

Akibatnya, indeks kenyamanan termal di kawasan tersebut tercatat mencapai 30,75, yang masuk kategori sangat tidak nyaman. Artinya, secara ekologis taman tersebut belum mampu menciptakan iklim mikro yang sehat.

RTH Jakarta

Sumber Gambar :  Kompas Megapolitan

Sebaliknya, Hutan Kota Srengseng menunjukkan peran ideal RTH Jakarta.

Keberhasilan kawasan ini menegaskan bahwa desain berbasis vegetasi dan kanopi pohon rapat mampu menciptakan iklim mikro yang lebih sejuk, sekaligus berkontribusi pada penyerapan karbon dan peningkatan kualitas udara perkotaan. Dengan kanopi pohon yang rapat, kawasan ini mampu menurunkan suhu udara hingga 2,44 derajat Celsius dibandingkan area sekitarnya, sekaligus meningkatkan kualitas udara.

Ketimpangan RTH Jakarta Pusat dan Fragmentasi Ekologis

Ketimpangan RTH Jakarta paling terasa di wilayah Jakarta Pusat. Kawasan ini memiliki kepadatan penduduk, bangunan, dan aktivitas ekonomi yang sangat tinggi, tetapi minim ruang hijau.

Menurut Mahawan, ketika RTH hanya terkonsentrasi di titik tertentu, ruang hijau kehilangan perannya sebagai sistem penyangga kota. RTH Jakarta kemudian berubah menjadi ornamen spasial semata, bukan jaringan ekologis yang saling terhubung.

Fragmentasi ekologis ini berdampak luas, mulai dari meningkatnya suhu udara, menurunnya kualitas lingkungan, hingga berkurangnya ruang pemulihan psikologis bagi warga kota.

Dalam konteks kota megapolitan seperti Jakarta, keberadaan ruang hijau yang terhubung menjadi krusial untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan pembangunan dan daya dukung lingkungan.

Estetika Mendominasi Perencanaan RTH Jakarta

Selama ini, pembangunan RTH Jakarta dinilai terlalu berorientasi pada estetika dan kepentingan representasi kota. Banyak taman dirancang untuk menarik secara visual dan sosial, tetapi mengabaikan prinsip ekologis jangka panjang.

Kajian akademik mencatat adanya kompromi dalam perencanaan RTH, di mana konservasi lingkungan dikalahkan oleh kepentingan desain instan. Padahal, model ideal taman kota seharusnya mengalokasikan sekitar 80 persen area untuk fungsi ekologis dan hanya 20 persen untuk aktivitas dan estetika.

Vegetasi seharusnya menjadi elemen utama RTH Jakarta, melampaui fasilitas duduk, jalur pedestrian, maupun ornamen visual.

Pendekatan ini menempatkan taman kota sebagai bagian dari sistem ekologis perkotaan, bukan sekadar elemen dekoratif dalam lanskap kota modern.

Arah Baru RTH Jakarta sebagai Infrastruktur Ekologis

Agar RTH Jakarta tidak sekadar menjadi pajangan kota, Mahawan menekankan perlunya perubahan paradigma pembangunan. Taman kota harus diposisikan sebagai infrastruktur ekologis, bukan sekadar ruang rekreasi.

Standar minimal vegetasi hidup sebesar 80 hingga 90 persen perlu dijadikan acuan dalam desain taman. Area perkerasan harus dikurangi dan digantikan dengan tanah resapan, kanopi pohon, serta vegetasi berlapis.

Selain itu, indikator kinerja RTH Jakarta sebaiknya mencakup suhu permukaan, indeks kenyamanan termal, dan kualitas udara. Dengan pendekatan tersebut, ruang hijau dapat benar-benar berkontribusi pada keseimbangan antara manusia dan ekosistem di Jakarta.

Transformasi RTH Jakarta menjadi infrastruktur ekologis yang fungsional merupakan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan kota dan kualitas hidup warganya.

Peran RTH Jakarta dalam Kesehatan dan Kualitas Hidup Warga

Selain fungsi ekologis, RTH Jakarta berperan penting dalam menjaga kesehatan fisik dan mental masyarakat. Ruang hijau yang teduh dan alami terbukti menurunkan tingkat stres. Area ini juga mendorong aktivitas fisik dan menyediakan ruang pemulihan psikologis.

Di kota padat seperti Jakarta, keberadaan RTH yang berkualitas menjadi kebutuhan dasar, bukan sekadar pelengkap. Karena itu, pengembangan RTH Jakarta perlu dipandang sebagai bagian dari kebijakan kesehatan publik. RTH juga harus masuk dalam agenda kesejahteraan sosial, bukan hanya proyek penataan kota.

Baca juga konten dengan artikel terkait yang membahas tentang  lokal

Simak ulasan mendalam lainnya tentang Hibah Keraton Solo Disorot, Pemerintah Minta Pertanggung Jawaban!

eksplorasi tanpa batas di jagat situs resmi https://lapak99bio.org/LAPAK99/

Author

Copyright @ 2026 Incaberita. All right reserved