February 2, 2026

INCA BERITA

Berita Terkini Seputar Peristiwa Penting di Indonesia dan Dunia

Kamboja Langgar Gencatan Senjata Thailand Hari ke-10, Insiden Mortir di Perbatasan

Baru 10 Hari Berlaku, Gencatan Senjata Thailand-Kamboja Diguncang Tuduhan Mortir, Thailand Tuduh Kamboja Langgar Komitmen Damai

JAKARTA, incaberita.co.id – Gencatan senjata yang masih “seumur jagung” kembali diuji di perbatasan Thailand dan Kamboja. Kamboja langgar gencatan senjata thailand kesepakatan gencatan senjata yang baru berjalan sekitar sepuluh hari, setelah sebuah serangan mortir disebut menghantam wilayah Thailand dan melukai seorang prajurit pada Selasa, 6 Januari 2026. Informasi awal ini dilaporkan The Straits Times.

Kabar tersebut langsung menambah daftar kekhawatiran: apakah kedua negara benar-benar siap menahan diri, atau gencatan senjata hanya menjadi jeda singkat sebelum ketegangan kembali naik. Pada saat yang sama, mekanisme pemantauan regional yang sudah disepakati, termasuk penguatan peran tim pemantau ASEAN, ikut disorot karena momen seperti ini seharusnya menjadi saat sistem pencegah eskalasi bekerja.

Thailand Tuduh Kamboja Langgar Gencatan Senjata lewat Insiden Mortir Ubon Ratchathani

Kamboja langgar gencatan Senjata Thailand Hari ke-10, Insiden Mortir di Perbatasan

Sumber gambar : kompas.com

Militer Thailand menyebut pasukan Kamboja menembakkan mortir ke Provinsi Ubon Ratchathani. Kejadian disebut berlangsung pada pagi hari 6 Januari 2026. Thailand mengatakan seorang prajurit terluka akibat serpihan. Korban juga disebut dievakuasi untuk perawatan. Keterangan itu diberitakan The Straits Times.

Di sisi lain, Kamboja belum memberi tanggapan detail. Juru bicara Kementerian Pertahanan, Maly Socheata, dilaporkan menolak berkomentar. Itu juga mengacu pada laporan yang sama.

Unsur 5W+1H dari peristiwa ini dapat dipetakan sebagai berikut:

  • What: Thailand menuding pelanggaran gencatan berupa tembakan mortir.

  • Who: Militer Thailand menyampaikan tuduhan. Respons substantif Kamboja belum diperoleh.

  • When: Selasa, 6 Januari 2026.

  • Where: Provinsi Ubon Ratchathani, Thailand.

  • Why: Ketegangan dipicu sengketa perbatasan yang lama. Konflik kembali membara pada 2025.

  • How: Thailand menyebut mortir ditembakkan melintasi perbatasan. Dampaknya, satu prajurit terluka.

Frasa yang ramai dibicarakan, “Thailand Tuduh Kamboja Langgar gencatan senjata hari kesepuluh”, merangkum inti persoalan. Gencatan masih muda. Namun klaim pelanggaran sudah muncul. Situasi pun kembali sensitif.

Kronologi Singkat Kamboja langgar gencatan Senjata Thailand

Gencatan senjata ini lahir setelah bentrokan serius. Dampaknya besar. Korban jiwa meningkat. Pengungsian juga meluas. Berikut garis waktunya berdasarkan laporan media internasional dan dokumen resmi regional:

  • 27 Desember 2025: Thailand dan Kamboja menyepakati gencatan senjata. Kesepakatan berlaku sejak siang hari. Ada komitmen menahan pergerakan pasukan. Ini dilaporkan CNA.

  • 30 Desember 2025: Reuters menyebut gencatan melewati target 72 jam. Namun Thailand menunda pembebasan 18 tentara Kamboja. Alasannya, ada tuduhan pelanggaran terkait drone. Kamboja membantah tuduhan itu.

  • 31 Desember 2025: Thailand membebaskan 18 tentara Kamboja. ICRC disebut mengawasi proses pemulangan. Kedua pihak menekankan aspek kemanusiaan. Ini menurut Reuters.

  • 3 Januari 2026: Kamboja meminta Thailand menarik pasukan. Lokasi yang dimaksud diklaim sebagai wilayah Kamboja. Kamboja juga menyebut ada area yang “disita” Thailand. Thailand menolak klaim tersebut. Ini dikutip CNA.

  • 6 Januari 2026: Thailand menuding pelanggaran gencatan. Mortir disebut jatuh di Ubon Ratchathani. Satu prajurit Thailand dilaporkan terluka. Rujukannya The Straits Times.

Rangkaian ini memberi konteks penting. Tuduhan terbaru muncul saat upaya membangun kepercayaan baru dimulai. Namun stabilitasnya belum kuat. Tensi bisa berubah cepat.

Mengapa Hari-hari Awal Gencatan Sangat Rawan

Sepuluh hari pertama gencatan sering menjadi fase paling rentan. Ini umum terjadi di konflik perbatasan. Sejarah panjang membuat emosi mudah tersulut. Situasi lapangan juga cepat berubah.

Ada dua faktor yang sering berulang:

  • Kepadatan pasukan dan jarak yang dekat. Insiden kecil bisa terbaca sebagai ancaman besar.

  • Pertarungan narasi yang bergerak lebih cepat. Verifikasi sering tertinggal. Publik telanjur panas duluan.

Kerentanan makin terasa karena bentrokan sebelumnya dilaporkan intens. Reuters menyebut konflik terbaru melibatkan serangan udara, roket, dan artileri. Korban tewas disebut sedikitnya 101 orang. Pengungsi dilaporkan lebih dari setengah juta di kedua sisi. Di saat yang sama, CNA menggambarkan kerusakan permukiman. Pengungsian besar juga terjadi.

Di titik seperti ini, risikonya berlapis. Bukan hanya soal siapa yang benar. Yang krusial adalah kecepatan verifikasi. Itu diperlukan agar insiden tidak memicu balasan. Eskalasi berantai bisa terjadi bila informasi simpang siur.

Thailand Tuduh Kamboja Langgar dan Ujian Mekanisme Verifikasi ASEAN

Gencatan kali ini menekankan mekanisme verifikasi. Itu terlihat dari pernyataan resmi Ketua ASEAN terkait pertemuan GBC. ASEAN menyambut komitmen “immediate ceasefire”. Kesepakatan berlaku mulai pukul 12.00 waktu lokal pada 27 Desember 2025. Gencatan mencakup semua jenis senjata. ASEAN juga menekankan pentingnya ASEAN Observer Team (AOT).

Pernyataan itu menyebut penguatan peran AOT. Skemanya melalui konsultasi dengan Ketua ASEAN dan tim terkait. Tujuannya untuk verifikasi. AOT juga diminta memastikan langkah de-eskalasi dijalankan sesuai mandat.

Bagi publik, ada tiga hal yang paling relevan saat tuduhan pelanggaran muncul:

  • Kecepatan verifikasi insiden oleh mekanisme yang disepakati.

  • Kejelasan komunikasi resmi agar informasi tidak liar.

  • Konsistensi menahan pergerakan pasukan. Mobilisasi sering memantik eskalasi.

Saling Klaim di Perbatasan yang Belum Padam

Insiden mortir bukan satu-satunya faktor. Situasi juga dipanaskan oleh saling klaim wilayah. Pada 3 Januari 2026, Kamboja mendesak Thailand menarik pasukan. Area yang dimaksud diklaim sebagai wilayah Kamboja. Kamboja juga menuntut penghentian aktivitas militer. Thailand menolak tuduhan perebutan wilayah. Thailand menegaskan pasukan berada di area yang dianggap milik Thailand. Ini menurut CNA.

Sengketa perbatasan juga punya akar panjang. CNA mengaitkannya dengan garis batas era kolonial. Ada pula klaim atas titik-titik tertentu. Beberapa lokasi disebut bernilai historis. Itu membuat isu ini makin sensitif.

Di tengah tarik menarik itu, Reuters pada 5 Januari 2026 mengutip pernyataan China. China menyebut gencatan diterapkan bertahap. China berharap kesepakatan menjadi komprehensif. Harapannya juga agar kesepakatan bertahan lama.

Ilustrasi Suasana di Garis Depan

Ilustrasi fiktif: sebuah pos perbatasan biasanya memulai pagi dengan rutinitas. Ada pengecekan radio. Ada pergantian jaga. Adapemantauan perbukitan di kejauhan. Ketika bunyi ledakan terdengar, suasana berubah. Radio mendadak ramai. Komando meminta laporan cepat. Setiap langkah dihitung ulang. Satu respons yang keliru bisa memicu balasan.

Ilustrasi ini bukan laporan kejadian nyata. Ini gambaran umum tentang wilayah sengketa. Ketegangan bisa naik mendadak. Apalagi saat gencatan senjata masih baru.

Apa Dampaknya untuk Publik dan Kawasan

Bagi warga perbatasan, dampaknya terasa langsung. Tuduhan pelanggaran bisa menunda rasa aman. CNA melaporkan bentrokan sebelumnya memicu pengungsian. Kerusakan permukiman juga terjadi.

Untuk kawasan, taruhannya lebih luas. Ini menyangkut kredibilitas mekanisme regional. ASEAN sudah menempatkan perhatian pada AOT. Verifikasi de-eskalasi juga ditekankan. Insiden seperti ini menjadi ujian. Apakah prosedur di atas kertas mampu bekerja di lapangan.

Hal yang Dipantau Setelah Thailand Tuduh Kamboja Langgar

Tidak semua tuduhan pelanggaran berujung perang besar. Namun beberapa indikator biasanya dipantau:

  1. Respons resmi kedua pihak. Apakah ada klarifikasi atau bantahan. Apakah ada kesediaan investigasi.

  2. Aktivitas militer lanjutan. Apakah ada pengerahan tambahan. Ini penting karena gencatan menekankan penahanan pergerakan.

  3. Peran pemantau dan pihak ketiga. Apakah mekanisme verifikasi dipakai serius. Atau hanya formalitas.

Penutup

Tuduhan mortir pada hari-hari awal gencatan memberi pesan yang jelas. Perdamaian tidak lahir hanya dari tanda tangan. Ia butuh disiplin di lapangan. Iabutuh komunikasi yang rapi. Ia juga butuh verifikasi yang dipercaya.

Ketika Thailand Tuduh Kamboja Langgar gencatan senjata, perhatian publik tertuju pada langkah berikutnya. Apakah investigasi dan verifikasi berjalan cepat. Apakah kedua pihak memilih menahan diri. Jika jalur itu ditempuh, gencatan masih punya peluang. Ia bisa menjadi jalan keluar. Bukan sekadar jeda yang rapuh.

Baca juga konten dengan artikel terkait tentang: Global

Author

Copyright @ 2026 Incaberita. All right reserved