February 2, 2026

INCA BERITA

Berita Terkini Seputar Peristiwa Penting di Indonesia dan Dunia

Imbas Perang Kamboja Thailand: Dinamika Politik Regional yang Mengubah Stabilitas Asia Tenggara

Imbas Perang Kamboja Thailand: Ketegangan Regional yang Mulai Guncang Stabilitas Asia Tenggara

Jakarta, incaberita.co.id – Ketika kabar bentrokan di perbatasan Imbas Perang Kamboja Thailand kembali muncul di berbagai kanal berita hari ini, banyak orang bertanya-tanya: mengapa konflik ini seperti tidak pernah benar-benar hilang? Asia Tenggara yang dikenal stabil tiba-tiba kembali dibayangi ketegangan, dan isu perbatasan dua negara ini kembali mencuri atensi publik internasional.

Dalam sebuah liputan fiktif yang saya lakukan beberapa tahun lalu di Phnom Penh, seorang analis politik lokal pernah berkata, “Kamboja dan Thailand seperti dua tetangga lama yang tidak pernah benar-benar berdamai.” Kalimat itu terdengar berlebihan, tetapi ada benarnya. Sejarah antara kedua negara dipenuhi sengketa wilayah, terutama terkait area kuil Preah Vihear, yang berkali-kali menjadi pemicu gesekan kecil hingga baku tembak.

Hari ini, ketegangan itu kembali menjadi sorotan. Bentrokan bersenjata dilaporkan terjadi di titik-titik sensitif perbatasan, dan masing-masing negara saling mengklaim bahwa pihak lain memprovokasi. Media nasional Indonesia menyebut bahwa peningkatan aktivitas militer di area tersebut mulai mengkhawatirkan negara tetangga, terutama karena kawasan ASEAN biasanya identik dengan stabilitas politik.

Masalahnya, konflik seperti ini tidak hanya menyangkut dua negara. Imbasnya jauh lebih besar, mempengaruhi ekonomi, jalur migrasi, hingga hubungan diplomatik Asia Tenggara. Dan dunia pun mulai memperhatikan lagi sebuah realitas lama: bahwa perdamaian regional ternyata rapuh.

Untuk memahami imbasnya hari ini, kita perlu menelusuri akar sejarah serta dinamika politik yang membentuk hubungan kedua negara.

Akar Masalah Kamboja–Thailand – Dari Sengketa Kuil hingga Sentimen Nasional yang Tak Pernah Padam

Image Source: CNBC Indonesia

Konflik Kamboja–Thailand bukan konflik baru. Ia adalah kumpulan sejarah panjang, keputusan politik, identitas nasional, dan sentimen publik yang menumpuk selama puluhan tahun.

1. Sengketa Kuil Preah Vihear

Kuil Hindu kuno yang berada di perbatasan kedua negara ini telah menjadi pusat konflik sejak lama.
Pada 1962, Mahkamah Internasional (ICJ) memutuskan bahwa kuil tersebut milik Kamboja. Namun, wilayah di sekitarnya masih menjadi sengketa, dan di sinilah gesekan sering terjadi.

Sentimen nasional menjadi pemicu. Bagi sebagian warga Thailand, putusan itu dianggap tidak adil. Sementara bagi warga Kamboja, kuil tersebut simbol kebanggaan nasional.

2. Batas Wilayah yang Tidak Jelas

Perbatasan kedua negara di beberapa titik masih diperdebatkan. Garis batas buatan kolonial Prancis sering kali tidak sesuai dengan realitas budaya dan geografis di lapangan.

3. Ketegangan Politik Dalam Negeri

Beberapa analis politik menyebut bahwa isu perbatasan terkadang dimanfaatkan politisi untuk mengalihkan perhatian dari masalah internal. Dalam situasi tertentu, konflik eksternal dapat meningkatkan solidaritas nasional.

Dalam percakapan fiktif dengan seorang akademisi di Bangkok, ia pernah berkata, “Kadang perang bukan karena kebencian. Kadang hanya karena kedua pihak ingin terlihat kuat.” Ini menunjukkan bahwa konflik tidak selalu hitam putih, melainkan campuran politik, persepsi, dan strategi.

Hari ini, imbas konflik itu kembali terasa, terutama bagi warga perbatasan yang menjadi korban paling nyata dari ketidakstabilan tersebut.

Imbas Perang Kamboja–Thailand terhadap Ekonomi dan Mobilitas Regional

Tak banyak yang menyadari bahwa konflik kecil di perbatasan dapat mengguncang rantai ekonomi di Asia Tenggara. Namun kenyataannya, apa yang terjadi hari ini memperlihatkan betapa saling terhubungnya negara-negara ASEAN.

1. Perdagangan Terhambat

Batas darat Thailand dan Kamboja adalah jalur perdagangan penting, terutama untuk:

  • komoditas pertanian

  • logistik ekspor-impor

  • produk consumer goods

  • pekerja lintas batas

Ketika konflik terjadi, pos perbatasan ditutup. Pengusaha lokal kehilangan pasar, petani kesulitan menjual hasil panen, dan distribusi barang terganggu.

2. Migrasi Pekerja Terhenti

Thailand menjadi tujuan ribuan pekerja Kamboja setiap tahun. Konflik menghambat mobilitas mereka, memengaruhi pendapatan keluarga dan stabilitas ekonomi pedesaan Kamboja.

3. Pariwisata Terpukul

Sebelumnya ratusan wisatawan mengunjungi wilayah kuil Preah Vihear setiap bulan. Kini kawasan itu dianggap berbahaya. Media nasional menyebut bahwa tren penurunan pariwisata semakin terasa, terutama setelah sejumlah negara mengeluarkan travel advisory.

4. Ketidakpastian Investasi

Investor Thailand maupun asing menahan ekspansi yang bersinggungan dengan kawasan perbatasan. Investor tidak menyukai ketidakpastian politik.

Konflik kecil pun bisa menimbulkan efek domino. Dalam analisis ekonomi fiktif yang saya baca di Phnom Penh beberapa waktu lalu, penulisnya menulis, “Perang tidak pernah murah, bahkan ketika tidak diumumkan.” Dan imbas itu mulai terlihat hari ini.

Dampak Terhadap Keamanan Regional – Ketika ASEAN Harus Bertindak

ASEAN dikenal sebagai kawasan yang stabil. Tetapi konflik Kamboja–Thailand memaksa organisasi ini turun tangan demi mencegah eskalasi.

1. Risiko Ekskalasi di Perbatasan

Meski konflik terpusat di area kecil, risiko pembesaran sangat besar. Pergerakan pasukan tambahan, artileri ringan, dan baku tembak sporadis dapat memicu:

  • korban sipil

  • eksodus warga

  • ketegangan diplomatik yang sulit dipulihkan

2. Posisi ASEAN

ASEAN memiliki prinsip non-intervensi, namun konflik berkepanjangan memaksa mereka mencari jalan tengah. Beberapa laporan media nasional Indonesia menyebut bahwa ASEAN sedang mendorong mediasi formal agar kedua negara segera meredakan situasi.

3. Kekhawatiran Negara Tetangga

Vietnam, Laos, Myanmar, dan Malaysia turut memantau situasi karena:

  • jalur ekonomi bisa ikut terdampak

  • konflik dapat menarik perhatian kekuatan besar luar kawasan

  • stabilitas politik ASEAN dipertanyakan di mata dunia

4. Ancaman Kemanusiaan

Konflik selalu membawa dampak pada warga sekitar, terutama:

  • pengungsian

  • kehilangan mata pencaharian

  • trauma psikologis

Ini menjadi isu serius yang harus segera ditangani bersama.

Dalam wawancara fiktif dengan seorang pejabat keamanan regional, ia berkata, “Kamboja dan Thailand mungkin berselisih, tetapi Asia Tenggara ikut menanggung beban.” Dan benar, konflik ini bukan hanya persoalan dua negara.

Narasi dari Lapangan – Suara Warga Perbatasan yang Merasakan Dampak Paling Nyata

Konflik politik sering terasa abstrak, tetapi dampaknya sangat nyata bagi warga yang tinggal di sekitar zona sengketa.

Dalam liputan fiktif saya di sebuah desa perbatasan Kamboja, seorang ibu bernama Sokmita bercerita bahwa setiap kali suara ledakan terdengar dari kejauhan, anak-anaknya langsung berlari ke bawah meja. Mereka tumbuh dengan ketidakpastian, takut sewaktu-waktu harus mengungsi.

Di sisi lain, seorang pedagang Thailand bernama Wirat mengatakan bahwa toko kelontongnya kehilangan 70% pelanggan sejak pos perbatasan ditutup. “Kami dulu hidup dari perdagangan lintas batas. Sekarang jalan sepi,” katanya sambil menatap rak-rak kosong.

Cerita-cerita seperti ini memperlihatkan sisi manusia dari konflik. Warga perbatasan tidak peduli soal politik tinggi; mereka hanya ingin hidup tenang.

Imbas Jangka Panjang – Bagaimana Konflik Ini Mengubah Lanskap Politik Asia Tenggara?

Jika konflik ini terus berlanjut, ada beberapa dampak jangka panjang yang perlu dicermati.

1. Mempengaruhi Hubungan Diplomatik ASEAN

Kepercayaan antar negara bisa terganggu, dan kerja sama regional melambat.

2. Peran Negara Besar Bisa Meningkat

Ketidakstabilan membuka peluang bagi negara kuat—baik Eropa, Tiongkok, hingga Amerika—untuk masuk dan menawarkan bantuan dengan agenda masing-masing.

3. Perubahan Prioritas Militer

Thailand maupun Kamboja mungkin mengalokasikan anggaran lebih banyak untuk:

  • modernisasi militer

  • penguatan pasukan perbatasan

  • pengamanan wilayah

4. Dampak pada Perdagangan Regional

Konflik yang berkepanjangan dapat mempengaruhi jalur ekspor-impor dan harga komoditas.

5. Peningkatan Nasionalisme

Isu perbatasan dapat memicu sentimen nasionalis yang memengaruhi politik dalam negeri.

Situasi hari ini menunjukkan bahwa konflik Kamboja–Thailand bukan sekadar sengketa lahan kecil, tetapi sebuah peringatan bahwa stabilitas Asia Tenggara juga rentan.

Harapan dan Jalan Keluar – Apakah Perdamaian Mungkin?

Meski situasi memanas, harapan tetap ada.

1. Mediasi ASEAN

ASEAN memiliki rekam jejak cukup baik dalam meredakan ketegangan diplomatik di kawasan.

2. Dialog Bilateral

Sejumlah diplomat senior di kedua negara mendukung pembicaraan damai.

3. Peran Komunitas Lokal

Warga perbatasan sering kali justru menjadi jembatan perdamaian melalui kerja sama ekonomi informal.

4. Kepentingan Ekonomi Bersama

Pada akhirnya, Thailand dan Kamboja saling membutuhkan dalam perdagangan lintas batas.

Dalam sebuah diskusi fiktif yang saya hadiri, seorang diplomat berkata, “Konflik bisa terjadi, tapi perdamaian selalu mungkin jika keduanya mau duduk bersama.” Dan inilah harapan terbesar Asia Tenggara.

Baca Juga Konten Dengan Artikel Terkait Tentang: Global

Baca Juga Artikel Terkait Tentang: Trend Kuliner Blok M: Ledakan Rasa dari Susu Murni Bahagia hingga Ayam Renald yang Menghidupkan Kembali Jakarta Selatan

Author

Copyright @ 2026 Incaberita. All right reserved