Kabut Asap Karhutla Selimuti Sungai Kapuas, Aktivitas Pelayaran Terganggu
JAKARTA, incaberita.co.id — Kabut Asap Karhutla kembali menjadi persoalan serius di Kalimantan Barat setelah menyelimuti alur pelayaran Sungai Kapuas. Sungai terpanjang di Indonesia ini merupakan jalur transportasi vital bagi masyarakat dan distribusi barang antarkabupaten.
Dalam beberapa hari terakhir, kabut asap tampak menutupi permukaan sungai sejak dini hari hingga pagi. Kondisi ini membuat aktivitas pelayaran menjadi lebih lambat dan berisiko, terutama di jalur yang padat lalu lintas kapal.
Kabut Asap Karhutla tidak hanya mengganggu mobilitas, tetapi juga meningkatkan potensi kecelakaan di perairan Sungai Kapuas.
Bagi masyarakat yang menggantungkan aktivitas ekonomi pada jalur sungai, kondisi ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Keterlambatan distribusi barang, terganggunya jadwal perjalanan, hingga meningkatnya biaya operasional menjadi dampak lanjutan yang mulai dirasakan.
Dampak Kabut Asap Karhutla terhadap Jarak Pandang Pelayaran
Pantauan di lapangan menunjukkan jarak pandang di sejumlah titik Sungai Kapuas menurun drastis akibat Kabut Asap Karhutla. Pada waktu tertentu, pandangan nahkoda hanya terbatas beberapa meter ke depan, sehingga sulit mengidentifikasi kapal lain maupun rambu pelayaran.
Akibat kondisi tersebut, sejumlah kapal angkutan barang maupun penumpang terpaksa memperlambat laju. Bahkan, beberapa kapal harus dipandu petugas navigasi agar tetap berada di jalur pelayaran yang aman dan tidak keluar dari alur sungai.

Sumber Gambar : Tempo.co
Situasi ini memperlihatkan bahwa Kabut Asap Karhutla berdampak langsung terhadap keselamatan transportasi air, terutama pada jam-jam sibuk pelayaran di pagi hari.
Dalam beberapa kasus, nahkoda memilih berhenti sementara di tepian sungai sambil menunggu jarak pandang membaik. Langkah ini diambil demi menghindari risiko kecelakaan fatal di tengah alur pelayaran yang sempit dan padat aktivitas.
Karhutla di Kalbar Jadi Pemicu Kabut Asap
Kepala Satuan Polisi Perairan dan Udara (Polairud) Polres Mempawah, IPTU Suyadi, menyebut Kabut Asap Karhutla yang menyelimuti Sungai Kapuas diduga kuat berasal dari kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Kalimantan Barat. Aktivitas pembakaran lahan di wilayah daratan dinilai memberi kontribusi besar terhadap penyebaran asap ke kawasan perairan.
Berdasarkan pemantauan, kabut mulai turun sejak sekitar pukul 03.00 WIB dan mencapai kondisi paling tebal pada waktu subuh hingga pagi hari. Pada jam-jam tersebut, jarak pandang di alur Sungai Kapuas menurun signifikan dan menyulitkan navigasi kapal. Menjelang pukul 09.00 WIB, kabut perlahan mulai menipis seiring meningkatnya suhu udara.
Namun, jika tidak ada hujan dalam beberapa hari ke depan, potensi Kabut Asap Karhutla diperkirakan akan terus meningkat. Asap berisiko bertahan lebih lama dan kembali muncul pada dini hari berikutnya.
Kondisi cuaca kering dan titik api yang masih aktif di sejumlah wilayah Kalbar menjadi faktor utama yang memperpanjang keberadaan kabut asap di kawasan perairan Sungai Kapuas. Selama sumber asap di daratan belum tertangani, gangguan terhadap aktivitas pelayaran diperkirakan masih akan berlanjut.
Risiko Keselamatan dan Aktivitas Transportasi Air
Kabut Asap Karhutla menimbulkan risiko besar bagi keselamatan pelayaran di Sungai Kapuas. Jalur sungai yang ramai dengan kapal barang, kapal penumpang, dan perahu nelayan membutuhkan jarak pandang yang memadai.
Dalam kondisi berkabut, potensi tabrakan antarkapal, kandas, hingga salah jalur menjadi lebih tinggi. Oleh karena itu, kewaspadaan ekstra sangat dibutuhkan, terutama pada pagi dan dini hari.
Sungai Kapuas sebagai urat nadi ekonomi masyarakat Kalbar sangat bergantung pada kelancaran dan keamanan transportasi air.
Gangguan pelayaran akibat kabut asap berpotensi memengaruhi distribusi bahan pokok, hasil pertanian, hingga kebutuhan logistik masyarakat di daerah pedalaman.
Imbauan Polairud Hadapi Kabut Asap Karhutla
Untuk mengantisipasi risiko, Polairud Polres Mempawah mengimbau seluruh nahkoda dan pengendara kapal agar meningkatkan kewaspadaan saat Kabut Asap Karhutla menyelimuti Sungai Kapuas.
Nakhoda diminta mengaktifkan alat navigasi, radio pantai, serta mematuhi rambu-rambu pelayaran. Penyesuaian kecepatan juga sangat dianjurkan sesuai dengan kondisi jarak pandang.
Apabila kabut terlalu tebal, pelayaran disarankan ditunda demi menghindari kecelakaan di perairan.
Langkah pencegahan ini dinilai lebih aman dibandingkan memaksakan pelayaran dalam kondisi jarak pandang yang sangat terbatas.
Kebakaran Meluas dan Potensi Kabut Asap Berlanjut
Data sementara Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Provinsi Kalimantan Barat per 24 Januari 2026 mencatat delapan kabupaten dan kota masih terdampak karhutla.
Kondisi tersebut meningkatkan potensi munculnya Kabut Asap Karhutla di berbagai wilayah, termasuk kawasan perairan dan jalur transportasi utama.
Pemerintah daerah dan masyarakat diimbau tetap waspada serta berperan aktif dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan guna meminimalkan dampak lingkungan dan keselamatan publik.
Upaya pencegahan dinilai sebagai langkah paling efektif untuk menekan munculnya Kabut Asap Karhutla yang berdampak luas terhadap aktivitas sosial dan ekonomi.
Dampak terhadap Aktivitas Ekonomi dan Masyarakat
Selain mengganggu keselamatan pelayaran, Kabut Asap Karhutla juga berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat di sepanjang Sungai Kapuas. Penurunan intensitas pelayaran menyebabkan distribusi barang menjadi lebih lambat dan biaya logistik meningkat.
Masyarakat yang bergantung pada transportasi sungai, seperti pedagang, nelayan, dan pelaku usaha kecil, turut merasakan dampaknya. Kondisi ini menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak hanya menyangkut isu lingkungan, tetapi juga keberlangsungan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Kalimantan Barat.
Baca juga konten dengan artikel terkait yang membahas tentang lokal
Simak ulasan mendalam lainnya tentang Fakta Kematian Lula Lahfah, Polisi Ungkap Info Terbaru!
Ruang informasi kami selalu terbuka di situs https://ligabandotbio.org/LIGABANDOT/
