Kasus Chen Zhi: AS Sita Aset Kripto Senilai US$14–15 Miliar, Ini Duduk Perkaranya
JAKARTA, incaberita.co.id – Kasus Chen Zhi belakangan ramai dibahas. Pemicu utamanya adalah pengumuman otoritas Amerika Serikat soal penyitaan bitcoin dalam jumlah besar. Nilainya ditaksir sekitar US$14 miliar sampai US$15 miliar. Angka ini lalu beredar dalam berbagai konversi, termasuk yang sering disebut setara ratusan triliun rupiah. Namun, Kasus Chen Zhi bukan sekadar soal nominal. Ada dugaan jaringan penipuan online lintas negara, pencucian uang, dan tarik-menarik yurisdiksi penegakan hukum di Asia Tenggara.
Pada Kamis, 8 Januari 2026, pemerintah Kamboja menyatakan telah menangkap dan mengekstradisi Chen Zhi ke China. Ia disebut dikirim bersama dua warga negara China lainnya. Proses ini dikaitkan dengan kerja sama investigasi yang berjalan berbulan-bulan. Sejumlah laporan juga menyebut kewarganegaraan Kamboja Chen dicabut pada Desember 2025.
Kasus Chen Zhi menjadi sorotan global karena menyentuh tiga isu sekaligus. Pertama, kerugian korban yang disebut besar. Kedua, peran aset kripto dalam kejahatan siber. Ketiga, upaya negara-negara membongkar jaringan lintas batas.

Sumber gambar : inca berita
Perkembangan Kasus Chen Zhi menguat sejak pertengahan Oktober 2025. Pada periode itu, penegak hukum dan otoritas keuangan AS mengumumkan tindakan terhadap jaringan yang mereka sebut organisasi kejahatan transnasional. Jaringan itu ditautkan dengan penipuan investasi online. Targetnya disebut meluas ke berbagai negara, termasuk warga AS.
Dalam jalur penindakan yang sama, otoritas AS juga mengaitkan penyitaan hampir 130.000 bitcoin. Nilainya disebut sekitar US$15 miliar saat diumumkan. Penyitaan itu disebut bagian dari proses forfeit aset. Perkaranya dikaitkan dengan “pig butchering”.
“Pig butchering” dikenal sebagai skema penipuan yang mengandalkan manipulasi emosi. Pelaku biasanya membangun kepercayaan lebih dulu. Setelah itu korban didorong masuk ke investasi palsu.
Pada awal Januari 2026, Kasus Chen Zhi kembali menguat karena kabar dari Kamboja. Chen Zhi disebut ditangkap lalu diekstradisi ke China. Pihak China menyatakan akan memberi detail lanjutan. Namun pada tahap awal, tidak semua rincian dipublikasikan.
Sejumlah laporan media internasional menyebut Chen Zhi sebagai ketua atau pemimpin konglomerasi Prince Group di Kamboja. Dalam pemberitaan, Chen dikaitkan dengan ekosistem bisnis yang luas. Sektor yang sering disebut meliputi real estate dan layanan keuangan. Ada juga sektor lain yang disebut dalam dokumen penegakan hukum.
Meski begitu, pembaca perlu membedakan istilah yang kerap tercampur. “Kekayaan pribadi” tidak otomatis sama dengan “nilai aset yang disita atau dibekukan”. Dalam Kasus Chen Zhi, angka US$14–15 miliar merujuk pada nilai aset bitcoin yang disebut terkait perkara. Aset itu lalu disita dalam proses hukum. Angka tersebut bukan otomatis net worth pribadi yang sudah final.
Pig butchering biasanya punya pola yang mirip di banyak kasus. Pelaku membangun relasi terlebih dahulu. Kepercayaan ditumbuhkan pelan-pelan. Lalu korban diarahkan ke platform investasi palsu. Ketika dana sudah besar, akses ditutup. Korban kemudian kesulitan menarik dana.
Dalam pembahasan Kasus Chen Zhi, skema ini kerap dikaitkan dengan operasi terorganisir. Narasinya juga menyebut kemungkinan fasilitas penipuan di Asia Tenggara. Ada pula pembahasan tentang aliran dana lintas negara. Bagian ini sering membuat investigasi menjadi kompleks.
Berikut ciri-ciri yang kerap dibahas dalam modus pig butchering:
Pelaku memulai percakapan lewat media sosial atau aplikasi pesan.
Relasi dibangun pelan agar korban merasa aman.
Korban diarahkan ke situs atau aplikasi yang terlihat meyakinkan.
Ada dorongan menambah dana bertahap, biasanya disertai iming-iming bonus.
Saat penarikan dana dicoba, muncul syarat biaya tambahan yang terus bertambah.
Pelaku menghilang ketika korban mulai curiga atau berhenti menyetor.
Daftar ini adalah pola umum dalam pembahasan penipuan investasi online. Ini bukan klaim spesifik terhadap satu korban tertentu dalam Kasus Chen Zhi.
Nilai penyitaan bitcoin dalam Kasus Chen Zhi sering dikonversi ke mata uang lokal. Dari sinilah muncul angka “ratusan triliun rupiah”. Nilai rupiah sangat dipengaruhi kurs dolar. Harga bitcoin pada hari perhitungan juga berpengaruh besar.
Karena itu, judul yang menonjolkan nominal rupiah bisa terasa sensasional. Padahal konteks yang lebih presisi adalah nilai aset kripto yang disita atau ditautkan. Ini penting agar pembaca tidak mengira angka tersebut adalah “kekayaan bersih” yang sudah pasti.
Kamis, 8 Januari 2026, menjadi titik penting dalam Kasus Chen Zhi. Kamboja menyatakan Chen diekstradisi ke China. Disebut pula penangkapan dilakukan atas permintaan otoritas China. Prosesnya juga melibatkan dua warga negara China lain.
Perkembangan ini memunculkan pertanyaan di ruang publik. Apakah penanganan hukum Kasus Chen Zhi akan fokus di China saja. Atau ada jalur proses lain yang terkait langkah penindakan di AS dan negara lain. Sejauh ini yang menonjol adalah dinamika yurisdiksi. Kerja sama aparat lintas negara juga menjadi sorotan. Dampak politik dan hukum bisa menyusul.
Dalam pemberitaan sebelumnya, pihak yang terkait dengan Prince Group pernah membantah keterlibatan. Mereka juga menolak sejumlah tuduhan. Posisi ini perlu dicatat demi prinsip berimbang. Proses hukum bisa berjalan panjang. Status “tuduhan” berbeda dari “putusan”.
Pada tahap ini, rangkaian yang sering disebut mencakup beberapa hal. Ada tindakan otoritas keuangan dan penegak hukum AS. Ada pengumuman penyitaan bitcoin. Adapula pengumuman ekstradisi dari pemerintah Kamboja. Rincian perkara dapat berubah. Perubahan bisa terjadi seiring proses hukum dan pengumuman resmi lanjutan.
Kasus Chen Zhi kerap dibaca sebagai alarm bagi publik. Kejahatan siber modern tidak lagi sebatas phishing. Penipuan juga tidak hanya soal kartu kredit. Modusnya kini memadukan psikologi relasi dan teknologi pembayaran. Aliran dana lintas batas membuat pelacakan semakin sulit.
Dalam sejumlah laporan, jaringan semacam ini disebut menipu banyak korban. Kerugian individu juga disebut besar. Skala ini membuat korban sering terlambat menyadari. Platform palsu bisa dibuat menyerupai layanan asli. Tampilan saldo dapat direkayasa.
Sebagai ilustrasi fiktif yang masuk akal: seorang karyawan tertarik investasi setelah melihat konten gaya hidup. Obrolan pribadi berlanjut. Lalu muncul rekomendasi platform yang terlihat profesional. Pada awalnya saldo tampak naik. Ketika setoran membesar, penarikan macet. Setelah itu muncul permintaan biaya tambahan. Ilustrasi ini bukan kisah nyata satu orang. Ini hanya gambaran pola yang sering dibahas.
Kasus Chen Zhi memberi pelajaran bagi publik. Terutama saat menerima tawaran investasi online. Apalagi jika melibatkan kripto. Berikut langkah pencegahan yang relevan:
Verifikasi legalitas platform dan entitas. Jangan hanya percaya testimoni.
Waspadai relasi yang cepat mengarah ke uang. Tekanan waktu juga patut dicurigai.
Jangan percaya tampilan saldo dan grafik begitu saja. Antarmuka bisa dipalsukan.
Hindari membayar biaya tarik dana yang terus bertambah. Pola ini sering muncul pada penipuan.
Simpan bukti transaksi dan percakapan sejak awal. Ini membantu jika perlu melapor.
Bagian ini bersifat edukatif. Ini bukan pengganti nasihat hukum. Ini juga bukan kesimpulan investigasi aparat.
Kasus Chen Zhi menggambarkan penipuan digital yang bergerak terstruktur. Jejaringnya lintas negara. Celah regulasi dan kecepatan transaksi kripto ikut dimanfaatkan. Penyitaan bitcoin bernilai US$14–15 miliar dan kabar ekstradisi pada 8 Januari 2026 membuat kasus ini terus dipantau. Publik menunggu kelanjutan proses hukumnya.
Di tengah judul yang mudah memancing klik, ketelitian istilah tetap penting. “Nilai aset sitaan” berbeda dari “kekayaan bersih”. “Tuduhan” juga berbeda dari “putusan”. Ketepatan bahasa membantu publik memahami konteks. Ini juga mencegah salah tafsir saat membaca berita bernominal besar.
Baca juga konten dengan artikel terkait tentang: Global
Baca juga artikel lainnya: Kamboja Langgar Gencatan Senjata Thailand Hari ke-10, Insiden Mortir di Perbatasan