Penutupan TPA Suwung: Strategi Transisi Bali Menuju Fasilitas Waste to Energy
BALI, incaberita.co.id — Penutupan TPA Suwung resmi dijadwalkan pada 1 Maret 2026 oleh Kementerian Lingkungan Hidup sebagai bagian dari transformasi pengelolaan sampah di Bali menuju fasilitas waste to energy (WtE). Langkah ini diambil untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah dan sekaligus mendukung kelestarian lingkungan, khususnya di kawasan pariwisata. Penutupan TPA Suwung bukan hanya soal pemindahan lokasi pembuangan sampah, tetapi juga menandai perubahan fundamental dalam cara Bali menangani sampah.
Transformasi ini memerlukan perencanaan matang agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat dan tetap menjaga kebersihan lingkungan. Pemerintah Provinsi Bali menekankan bahwa penanganan sampah di hulu harus dioptimalkan sehingga TPA Suwung dapat ditutup tanpa menimbulkan masalah besar. Upaya ini juga bertujuan membangun kesadaran masyarakat untuk lebih bertanggung jawab terhadap pengelolaan sampah sejak sumbernya.
Selain itu, penutupan TPA Suwung merupakan bagian dari strategi jangka panjang Bali dalam menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan membangun fondasi pengelolaan sampah modern. Dengan penutupan TPA ini, Bali diharapkan dapat menjadi contoh pengelolaan sampah berbasis teknologi yang berkelanjutan, sekaligus mendukung citra pariwisata bersih dan ramah lingkungan.
Imbas Penutupan TPA Suwung, Bangli Sebagai Solusi Sementara
Pemprov Bali menyiapkan TPA di Kabupaten Bangli sebagai lokasi penampungan sementara residu sampah dari Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. TPA Bangli tidak berstatus TPA regional, namun berdasarkan regulasi, daerah dapat bekerja sama untuk menampung sementara sampah. Fasilitas ini akan menjadi alternatif sementara selama pembangunan fasilitas WtE, sehingga operasional pengelolaan sampah tetap berjalan.
Pemanfaatan TPA Bangli juga menghadirkan tantangan tersendiri, terutama dari sisi logistik dan kapasitas. Pemerintah harus memastikan bahwa volume sampah yang masuk dapat ditangani secara efisien agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan sekitar. Penataan infrastruktur dan penambahan fasilitas di TPA Bangli menjadi fokus utama agar siap menampung residu sementara.
Selain itu, TPA Bangli akan berperan sebagai titik strategis dalam transisi pengelolaan sampah Bali. Selama masa transisi, seluruh pihak terkait—pemda, OPD, dan masyarakat—didorong untuk berkolaborasi agar penggunaan TPA sementara ini efektif dan tidak menimbulkan gangguan sosial maupun lingkungan yang serius.
Optimalisasi Pengelolaan Sampah di Penutupan TPA Suwung
Penutupan TPA Suwung menuntut fokus pada pengelolaan sampah di hulu. Pemkot Denpasar dan Pemkab Badung terus mengembangkan teba vertikal, tabung komposter, dan bank sampah untuk mengurangi volume sampah yang harus dibawa ke TPA. Selain itu, pembangunan TPS3R di tingkat desa menjadi prioritas agar pengelolaan sampah lebih terstruktur dan berkelanjutan.

Sumber Gambar : Suara.com
Optimalisasi di hulu juga melibatkan pendidikan masyarakat tentang pentingnya memilah sampah dari rumah tangga. Dengan kesadaran yang meningkat, sampah yang masuk ke TPA berkurang signifikan. Program-program ini tidak hanya mengurangi beban TPA tetapi juga mendorong masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Pengelolaan sampah di hulu yang efektif akan mendukung keberhasilan penutupan TPA Suwung. Dengan langkah ini, residu yang tidak bisa diolah di hulu dapat diminimalkan, sementara TPA Bangli hanya berfungsi sebagai tempat sementara. Strategi ini sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan dan menjaga kualitas lingkungan Bali sebagai destinasi wisata dunia.
Peran Pemerintah dan Dukungan Masyarakat dengan Penutupan TPA Suwung
Wali Kota Denpasar dan Bupati Badung menegaskan dukungan penuh terhadap proses penutupan TPA Suwung. Mereka mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah, OPD, dan masyarakat agar pengelolaan sampah dapat berjalan efektif. Kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah sejak sumber menjadi faktor kunci keberhasilan transisi ini.
Selain itu, pemerintah daerah terus melakukan sosialisasi dan pendampingan kepada masyarakat. Bank sampah, tabung komposter, dan TPS3R menjadi sarana yang dapat diakses warga untuk mengelola sampah mereka sendiri. Pendekatan ini bertujuan membangun budaya pengelolaan sampah yang berkelanjutan di tengah masyarakat Bali.
Dukungan ini juga melibatkan peningkatan kapasitas SDM di tingkat desa dan kelurahan untuk memastikan pengelolaan sampah dilakukan secara profesional. Partisipasi aktif masyarakat, didukung fasilitas pemerintah, diharapkan mampu membuat transisi penutupan TPA Suwung lebih lancar dan efektif.
Tantangan dan Upaya Minimalkan Dampak
Penutupan TPA Suwung menghadirkan sejumlah tantangan, mulai dari logistik pengiriman sampah hingga kesadaran masyarakat. Menteri Lingkungan Hidup menekankan agar prioritas tetap diberikan pada pengelolaan sampah di hulu sehingga residu yang dikirim ke Bangli dapat diminimalkan. Hal ini penting agar TPA sementara tidak mengalami overkapasitas dan dampak lingkungan dapat dikendalikan.
Selain itu, pemerintah Kabupaten Bangli harus menyesuaikan fasilitas TPA agar mampu menampung residu sementara. Penataan infrastruktur, pengawasan ketat, dan penerapan protokol lingkungan menjadi langkah penting dalam meminimalkan dampak negatif. Semua pihak harus bekerja sama untuk mengelola transisi ini dengan hati-hati.
Tantangan sosial juga muncul, karena masyarakat sekitar TPA Bangli perlu menerima keberadaan TPA sementara. Oleh karena itu, sosialisasi dan partisipasi warga menjadi kunci untuk membangun kesadaran bahwa langkah ini bersifat sementara dan mendukung transformasi pengelolaan sampah yang lebih modern di Bali.
Kesimpulan
Penutupan TPA Suwung merupakan langkah strategis dalam transformasi pengelolaan sampah Bali menuju fasilitas WtE. Dengan optimalisasi pengelolaan sampah di hulu, pemanfaatan TPA Bangli sebagai lokasi sementara, dan dukungan aktif pemerintah serta masyarakat, Bali diharapkan mampu membangun sistem pengelolaan sampah yang modern dan berkelanjutan.
Transisi ini bukan hanya soal pemindahan lokasi pembuangan sampah, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah secara bertanggung jawab. Dengan fondasi ini, Bali dapat menjadi contoh pengelolaan sampah berbasis teknologi dan ramah lingkungan.
Langkah-langkah ini diharapkan memperkuat posisi Bali sebagai destinasi wisata global dengan lingkungan yang bersih dan terjaga. Penutupan TPA Suwung bukanlah akhir, melainkan awal dari era baru pengelolaan sampah yang lebih efisien, modern, dan berkelanjutan di Bali.
Baca juga konten dengan artikel terkait yang membahas tentang lokal
Baca juga artikel menarik lainnya mengenai Konflik Timur Tengah, Rivalitas Arab Saudi dan UEA Kian Menguat!
