February 2, 2026

INCA BERITA

Berita Terkini Seputar Peristiwa Penting di Indonesia dan Dunia

Perang Thailand–Kamboja ke 5 Provinsi, Warga Sipil Menjadi Korban Terbesar

Konflik Thailand-Kamboja Kian Memanas, Lima Provinsi Terseret dan Warga Sipil Terjebak dalam Hujan Peluru

JAKARTA, incaberita.co.id – Suara dentuman artileri di perbatasan Thailand-Kamboja bukan lagi sekadar berita singkat di kolom internasional. Perang Thailand-Kamboja yang kembali meledak pada pertengahan 2025 berubah menjadi perang terbuka yang memanjang. Konflik ini meluas ke sedikitnya lima provinsi di dua negara dan meninggalkan jejak paling pahit bagi pihak yang tidak bersenjata, yaitu warga sipil.

Di tengah suhu politik yang panas, ratusan ribu orang harus meninggalkan rumah, ladang, dan hewan ternak. Semua itu adalah sumber hidup sehari-hari yang hilang dalam sekejap. Di lapangan, garis batas negara terasa makin kabur. Sebaliknya, garis antara hidup dan mati justru makin jelas bagi penduduk desa yang terjebak di zona tembak. Berbagai lembaga internasional mencatat puluhan korban jiwa dan pengungsian hingga ratusan ribu orang. Dalam fase terkini, jumlah itu bahkan diperkirakan menembus setengah juta jiwa.

Di balik headline dramatis tentang jet tempur, roket BM-21, dan sesi darurat di forum internasional, ada cerita lain yang lebih sunyi. Seorang ibu mendadak harus menggendong anak sambil berlari menuju truk evakuasi. Seorang petani terpaksa meninggalkan sawah yang baru ditanami, tanpa tahu apakah musim panen berikutnya masih bisa dinikmati.

Latar Konflik Perang Thailand-Kamboja: Sengketa Lama yang Kembali Menyala

Perang Thailand–Kamboja ke 5 Provinsi, Warga Sipil Menjadi Korban Terbesar

Sumber gambar : cnnindonesia.com

Konflik Thailand-Kamboja bukan konflik baru. Akar masalahnya sudah berusia puluhan tahun, bahkan lebih dari satu abad. Sengketa ini berhubungan dengan garis perbatasan warisan kolonial dan klaim atas kompleks kuil kuno seperti Preah Vihear dan Ta Muen Thom. Pertikaian sempat mereda setelah putusan Mahkamah Internasional yang mengakui Preah Vihear sebagai milik Kamboja. Namun status lahan di sekitarnya tidak pernah benar-benar tuntas sehingga bara konflik tetap tertinggal.

Pada 24 Juli 2025, situasi yang sebelumnya hanya tegang melonjak menjadi pertempuran besar di sepanjang garis perbatasan. Tembakan artileri dan serangan udara menghantam wilayah sengketa selama berjam-jam. Fase ini menjadi salah satu yang paling intens dalam lebih dari satu dekade sejarah Perang Thailand-Kamboja. Dalam hitungan hari, bentrokan menyebar ke banyak titik di garis batas. Sedikitnya belasan hingga puluhan orang tewas dan lebih dari 300 ribu warga mengungsi pada gelombang awal.

Gelombang kekerasan berikutnya tidak berhenti di situ. Setelah kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi di Kuala Lumpur, konflik kembali pecah beberapa bulan kemudian. Dalam fase terbaru, berbagai laporan internasional menyebut lebih dari 400 ribu warga Thailand terpaksa mengungsi. Di sisi lain, sekitar 120 ribu warga Kamboja juga meninggalkan rumah masing-masing. Perang perbatasan ini pun menjelma menjadi salah satu krisis kemanusiaan terbesar di Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir.

Dari Sengketa Kuil ke Perang Thailand-Kamboja di Lima Provinsi

Secara geografis, konflik tidak lagi terbatas pada satu titik sengketa. Pertempuran dan evakuasi besar-besaran terjadi di empat provinsi perbatasan Thailand, yaitu Surin, Sisaket, Buriram, dan Ubon Ratchathani. Keempat wilayah ini langsung berhadapan dengan daerah Kamboja di sekitar Preah Vihear dan Oddar Meanchey.

Jika ditarik garis kasar, setidaknya lima provinsi di kedua negara menjadi zona terdampak Perang Thailand-Kamboja.

  • Surin, Sisaket, Buriram, dan Ubon Ratchathani di sisi Thailand

  • Wilayah sekitar Preah Vihear dan daerah di sekelilingnya di sisi Kamboja

Narasi di lapangan menggambarkan bagaimana Perang Thailand-Kamboja bergerak seperti api yang tertiup angin. Awalnya, suara tembakan hanya terdengar di satu sektor perbatasan. Beberapa jam kemudian, laporan datang dari desa lain yang berjarak puluhan kilometer. Dalam hitungan hari, jalur evakuasi dibuka di berbagai titik. Pemerintah daerah harus menyiapkan ratusan lokasi pengungsian darurat untuk menampung arus manusia yang datang tanpa henti.

Seorang kepala desa di perbatasan Thailand, sebut saja Chai, dikisahkan media lokal masih bertahan di kampungnya yang hampir kosong. Warga sudah dibawa ke aula universitas dan sekolah yang diubah menjadi tempat pengungsian. Chai tinggal bersama beberapa relawan. Mereka menyalakan lampu di malam hari sekadar memberi kesan bahwa desa belum sepenuhnya ditinggalkan. Cerita seperti ini berulang di banyak tempat, hanya nama desa dan bahasanya saja yang berbeda.

Warga Sipil Jadi Tameng Hidup di Garis Depan Perang Thailand-Kamboja

Jika ada pertanyaan siapa yang paling dirugikan dalam Perang Thailand-Kamboja, jawabannya jelas. Warga sipil menanggung beban paling berat. Mereka bukan hanya angka di laporan resmi, tetapi wajah nyata di balik statistik.

Sedikitnya belasan hingga puluhan warga sipil tercatat tewas dalam fase awal bentrokan. Anak-anak masuk dalam daftar korban. Di beberapa kasus, artileri menghantam area nonmiliter seperti SPBU, rumah penduduk, dan fasilitas umum.

Gambaran lapangan menunjukkan pola yang cukup mengkhawatirkan.

  • Serangan artileri dan roket menjangkau jauh ke area permukiman, bukan hanya garis depan militer.

  • Sekolah, gedung olahraga, dan aula universitas disulap menjadi kamp pengungsian darurat.

  • Warga berlari hanya dengan membawa satu tas kecil, sering tanpa sempat menyelamatkan surat penting, ternak, bahkan hewan peliharaan.

Di sisi Kamboja, banyak pengungsi mengaku harus tidur di ruang terbuka, di ladang dan lapangan kosong. Tenda seadanya dibuat dari terpal plastik dan bak truk. Di sisi Thailand, fasilitas pengungsian relatif lebih tertata. Namun tekanan psikologis dan ketidakpastian masa depan tetap sama beratnya bagi korban Perang Thailand-Kamboja di kedua sisi perbatasan.

Seorang perempuan muda, sebut saja Sophea dari desa dekat Preah Vihear, pernah mengungsi dua kali dalam satu tahun. Ia meninggalkan rumah pada Juli lalu, lalu kembali mengungsi di penghujung tahun. Di pengungsian, Sophea menceritakan bahwa anaknya mulai ketakutan setiap mendengar suara keras. Bahkan bunyi pintu yang tertutup agak kencang sudah cukup membuat anak itu menangis.

Perang mungkin belum resmi dinyatakan berakhir atau dimenangkan pihak mana pun. Namun trauma jangka panjang bagi generasi anak-anak di perbatasan sudah mulai tertulis pelan-pelan.

Dimensi Politik, Nasionalisme, dan Peran ASEAN dalam Perang Thailand-Kamboja

Di atas kertas, konflik Thailand-Kamboja berangkat dari sengketa teknis mengenai garis perbatasan dan status wilayah sekitar kuil. Namun dinamika politik membuat bara itu berubah menjadi api besar.

Beberapa faktor ikut menyiram bensin ke dalam konflik Thailand-Kamboja.

  • Nasionalisme di kedua negara, terutama ketika isu kedaulatan wilayah dikaitkan dengan simbol budaya dan sejarah.

  • Tekanan politik domestik yang membuat pemerintah sulit terlihat lembek di mata publik.

  • Kecurigaan timbal balik, mulai dari tuduhan pemasangan ranjau baru, pelanggaran gencatan senjata, hingga serangan ke area sipil.

ASEAN sebagai blok regional beberapa kali didorong untuk mengambil peran lebih aktif. Malaysia mencoba memfasilitasi mediasi. Sejumlah negara besar memberi dukungan diplomatik. Konflik ini juga sempat dibahas di Dewan Keamanan PBB. Semua langkah itu menumbuhkan harapan bahwa Perang Thailand-Kamboja bisa mereda.

Namun kenyataan di lapangan menunjukkan betapa rapuhnya setiap gencatan senjata. Satu insiden saja sudah cukup memicu ledakan baru. Ledakan ranjau yang melukai prajurit atau roket yang jatuh di area sipil sering langsung disusul retorika keras. Setelah itu, senjata kembali berbicara lebih lantang daripada meja perundingan.

Risiko Meluas dan Dampaknya bagi Kawasan

Konflik Thailand-Kamboja mungkin terlihat sebagai sengketa dua negara. Namun dampaknya merembet ke banyak sektor di kawasan Asia Tenggara.

Beberapa risiko nyata sudah mulai terasa.

  • Jalur perdagangan darat di perbatasan terganggu dan memukul ekonomi lokal yang bergantung pada pasar lintas batas.

  • Keamanan wisatawan di wilayah timur laut Thailand dan kawasan perbatasan Kamboja menjadi tanda tanya besar. Banyak agen perjalanan akhirnya mengubah rute tur.

  • Stabilitas politik kawasan ASEAN ikut diuji, terutama ketika Perang Thailand-Kamboja terjadi di tengah dinamika geopolitik yang sudah cukup rumit.

Bagi ASEAN, konflik antara Thailand dan Kamboja menjadi tantangan serius bagi reputasi kawasan sebagai wilayah yang damai dan stabil. Jika dua negara anggotanya terlibat dalam konflik bersenjata berkepanjangan tanpa adanya mekanisme resolusi yang efektif, maka kepercayaan mitra internasional maupun investor asing terhadap stabilitas regional dapat mengalami penurunan.

Pelajaran dan Solusi: Apa yang Bisa Dilakukan Pemangku Kepentingan

Dalam konteks Berita Global, narasi tentang Perang Thailand-Kamboja tidak seharusnya berhenti pada data korban dan angka pengungsi. Penting untuk melihat peluang solusi, meski hasilnya tidak akan instan. Beberapa langkah realistis yang dapat didorong komunitas internasional dan regional antara lain sebagai berikut.

Penguatan mekanisme pemantauan bersama
Badan pemantau independen yang berisi perwakilan kedua negara, ASEAN, dan pihak ketiga netral bisa memantau pelanggaran gencatan senjata. Dengan begitu, narasi saling tuding dapat dikurangi dan fakta di lapangan lebih mudah diverifikasi.

Penetapan zona aman sipil
Sekolah, rumah sakit, rumah ibadah, dan fasilitas pengungsian perlu dilindungi melalui kesepakatan eksplisit dalam setiap perjanjian gencatan senjata. Pelanggaran terhadap zona ini harus dikategorikan sebagai pelanggaran berat dengan konsekuensi jelas.

Proses demarkasi teknis berbasis data
Teknologi pemetaan modern dapat digunakan untuk menyusun ulang kesepahaman batas negara. Pendekatan ini membantu mengurangi tafsir sepihak terhadap peta kolonial lama yang sering menjadi sumber klaim dalam Perang Thailand-Kamboja.

Pendampingan psikososial untuk pengungsi
Krisis ini bukan hanya soal logistik dan pangan. Kesehatan mental juga sangat terdampak. Dukungan psikologis bagi anak-anak dan keluarga pengungsi penting untuk meminimalkan luka jangka panjang.

Dalam sejumlah opini di media internasional dan regional, muncul gagasan bahwa ASEAN perlu melangkah sedikit lebih jauh dari prinsip non-interference. Tanpa mengabaikan kedaulatan, keselamatan warga sipil seharusnya ditempatkan sebagai prioritas utama.

Tips Praktis bagi Publik dan Calon Pelancong di Tengah Perang Thailand-Kamboja

Sebagai berita global, Perang Thailand-Kamboja tidak hanya relevan bagi warga kedua negara. Masyarakat di kawasan yang memiliki rencana bepergian, berbisnis, atau sekadar mengikuti perkembangan situasi juga perlu memperhatikan beberapa hal.

Bagi yang merencanakan perjalanan ke Thailand atau Kamboja

  • Pilih wilayah yang jauh dari perbatasan, misalnya Bangkok, Chiang Mai, atau kawasan pantai yang aman.

  • Pantau terus advisori perjalanan resmi dari pemerintah masing-masing negara.

  • Hindari perjalanan darat yang melewati Surin, Sisaket, Buriram, Ubon Ratchathani, dan area dekat Preah Vihear sampai kondisi benar-benar dinyatakan aman.

Bagipelakubisnislintasbatas

  • Siapkan rencana darurat untuk rantai pasok yang selama ini bergantung pada jalur darat Thailand-Kamboja.

  • Pertimbangkan alternatif rute pengiriman melalui pelabuhan atau jalur udara.

Bagi publik yang mengikuti berita

  • Cek silang informasi dari beberapa media kredibel, baik internasional maupun nasional.

  • Waspadai narasi hiper-nasionalis di media sosial yang sering mengabaikan empati pada korban di kedua sisi.

  • Ingat bahwa di balik narasi Thailand melawan Kamboja, ada warga biasa yang sebenarnya sama-sama ingin hidup damai.

Penutup: Batas Negara, Batas Nyawa di Perang Thailand-Kamboja

Perang Thailand-Kamboja yang meluas ke lima provinsi dan mengorbankan begitu banyak warga sipil memberi pengingat keras. Garis di peta masih bisa dinegosiasikan, tetapi nyawa di lapangan tidak bisa dikembalikan.

Selama konflik didekati dengan logika menang dan kalah, warga sipil akan terus menjadi pihak yang kalah sejak awal. Petani kehilangan musim tanam, anak-anak kehilangan sekolah, dan pedagang kecil kehilangan pelanggan. Semua menanggung harga yang tidak pernah mereka sepakati.

Sejarah mungkin akan mencatat angka korban, nama perjanjian, dan lokasi gencatan senjata. Namun generasi yang tumbuh besar di tenda pengungsian akan mengingat Perang Thailand-Kamboja dengan cara yang jauh lebih personal. Mereka mengingat malam tanpa listrik, suara artileri di kejauhan, dan doa sederhana agar suatu hari perbatasan hanya berarti pos imigrasi, bukan garis tembak.

Pesan paling kuat dari Perang Thailand-Kamboja sebetulnya cukup sederhana. Tidak ada kedaulatan yang benar-benar utuh jika dicapai dengan mengorbankan keamanan warga sendiri. Selama warga sipil masih menjadi korban terbesar, kata damai belum pantas diucapkan sebagai kesimpulan akhir.

Baca juga konten dengan artikel terkait tentang: Global

Baca juga artikel lainnya: Jepang Diguncang Gempa Magnitudo 7,5: Tsunami Kecil dan Ribuan Dievakuasi

Author

Copyright @ 2026 Incaberita. All right reserved